Kudus Defisit Satu Miliar Kubik Air

Daya Dukung Berkurang

SM/Anton WH  -  JARINGAN PDAM : Petugas memasang jaringan air bersih PDAM di Desa Bakalan Krapyak, Kecamatan Kaliwungu. (39)
SM/Anton WH - JARINGAN PDAM : Petugas memasang jaringan air bersih PDAM di Desa Bakalan Krapyak, Kecamatan Kaliwungu. (39)

KUDUS - Daya dukung air berdasarkan penggunaan lahan di wilayah Kudus mengalami defisit atau kekurangan sekitar satu miliar meter kubik per tahun. Kondisi tersebut disebabkan kebutuhan besar, namun daya dukungnya terbatas.

Kebutuhan air di Kota Keretek dua tahun terakhir mencapai 1,4 miliar meter kubik per tahun, sedang ketersediaannya sekitar 349 juta meter kubik per tahun.

Kepala Badan Perencanaan Penelitian Pembangunan Daerah (Bappelitbangda) Kudus Sujatmiko, Selasa (19/2) menjelaskan, terkait defisit air, diperlukan program yang mendukung ketersediaan air.

”Selama ini ketersediaan lebih banyak dicukupi air bawah tanah (ABT), sedangkan daya dukung air permukaan belum dimanfaatkan secara maksimal,” ujarnya, Selasa (19/2).

Kurangnya daya dukung air di wilayah Kudus sesuai hasil penelitian yang pernah dipaparkan Direktorat Jenderal Bina Pengembangan Daerah Kementerian Dalam Negeri (Dirjen Bina Bangda Kemendagri) beberapa waktu lalu. Disebutkan, Kecamatan Dawe dan Gebog memiliki daya dukung fungsi lindung terluas dibanding kecamatan lainnya.

Adapun dari sisi tingkat kualitas daya dukung lima kecamatan (55 persen) berkualitas sedang, yakni Kecamatan Dawe, Gebog, Jekulo, Mejobo, dan Undaan.

Sisanya empat kecamatan, yakni Bae, Jati, Kaliwungu dan Kota, kualitas daya dukung fungsi lindungnya rusak. ”Pemanfaatan air antara lain untuk mendukung penyediaan pangan dan permukiman,” jelasnya.

52 SumurProduksi

Direktur Utama PDAM Ahmadi Syafa mengaku, untuk mendukung ketersediaan kebutuhan air bersih penduduk masih memanfaatkan ABT. Pihaknya memiliki 52 sumur produksi dengan 45 reservoir atau bak penampungan, untuk melayani sekitar 45 ribu sambungan rumah (SR).

Tahun ini target tambah pelanggan 3.750 SR masing-masing 1.250 SR pelanggan reguler dan 2.500 SR untuk pelanggan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) ”Ke depan ketergantungan penggunaan ABTkami kurangi dan kami akan memperbanyak produksi air permukaan,” terangnya. Tingkat kecukupan air masyarakat Kudus telah mencapai sekitar 95 persen.

Kebutuhan air bersih selain dari jaringan perpipaan PDAM juga berasal dari sumur rumah tangga, pengelolaan sumur Proyek Pengembangan Air Tanah (P2AT) serta Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), dan air permukaan di daerah pegunungan.

Kecukupan air dipenuhi dari sumur rumah tangga 52 persen dan PDAM sebanyak 39 persen. ”Sisanya berasal dari sumur P2AT, Pamsimas, dan air permukaan pegunungan,” paparnya. (H8)


Berita Terkait
Loading...
Komentar