Lewat Tol Lebih Hemat Suku Cadang

SEMARANG - Terlepas adanya anggapan tarif Tol Trans Jawa terlalu mahal. Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jateng punya pandangan, apabila melintasi tol, akan lebih hemat suku cadang, seperti ban dan kanvas rem, sehingga bila dikalkulasi biaya operasional tidak terlalu mahal.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jateng, Bambang Widjanarko menuturkan, mahalnya tarif jalan tol bisa terkikis. Hal itu jika pengusaha truk mau berhitung detail aspek untung ruginya menggunakan jalan tol daripada jalan arteri. Selain waktu tempuh lebih cepat, juga bisa menghemat suku cadang. ''Permukaan jalan tol yang lebih halus dan jarang berlubang akan banyak menghemat pembelanjaan suku cadang, seperti ban. Karena musuh utama dari ban adalah benturan dengan lubang di jalan,'' ujar Bambang, kemarin.

Ditambahkan, ban dan kanvas rem juga akan awet jika jarang dipaksa berulang kali melakukan Stop & Go ( mengerem dan berakselerasi) seperti di jalan tol. Truk akan meluncur konstan di permukaan jalan halus dan jarang melakukan Stop & Go. ''Selain lebih mengirit pemakaian bahan bakan, mur dan baut pun akan lebih kencang dan tidak cepat longgar. Otomatis baik rangka maupun bodi truk akan menjadi lebih awet. Semua komponen karet-karet, bantalan, bahkan sampai ke lampu-lampu pun akan jauh lebih awet karena lebih sedikit tergoncang, ketimbang lewat jalan arteri," jelasnya.

Sesuai Anjuran

Selain itu, imbuhnya, truk Over Dimension & Over Load (ODOL) juga akan berkurang dengan sendirinya. Hal ini seiring semakin membaiknya utilitas truk, sesuai rumusan pendapatan yakni ongkos dikalikan ritase (perjalanan). Bambang tak sependapat bila ada pendapat jalan tol rigid pavement banyak mengakibatkan ban panas kemudian gampang meledak. Dia menjelaskan, sejauh ban digunakan sesuai dengan anjuran pabrik, seperti yang tertera di dinding samping (sidewall), maka semua ban aman digunakan di semua medan. Di dinding samping tiap-tiap ban sudah tertera merek, ukuran, rating, tipe konstruksi. Komudian anjuran bongkar pasang, anjuran penggunaan, simbol kecepatan, indeks beban, cara penyimpanan. ''Jika pemakaiannya melebihi batas anjuran pabrik, pasti akan memiliki risiko meledak," ujar pria yang telah mendalami dunia ban sejak awal 1980- an, dan mengantongi berbagai sertifikat international sebagai tire engineer & tire consultant itu.

Ditambahkan, semua ban butuh dirawat dan dipakai dengan benar. Semua ban butuh waktu istirahat pendinginan setelah dipacu secara maksimal dalam kurun waktu tertentu. ''Untuk lebih jelasnya, bertanyalah pada tire advisor/tire consultant di showroom ban terdekat.'' Di sisi lain, pihaknya meminta agar pengelola jalan tol proaktif menawarkan berbagai kerja sama saling menguntungkan dengan Agen Pemegang Merek (APM), atau penjual ban.

Tujuannya agar mereka tertarik membuka lapak di Tol Trans Jawa. Pasalnya sepanjang tol itu, belum ada montir, bengkel, dan toko yang menjual suku cadang. Padahal jaraknya sangat panjang. ''Untuk menghilangkan kasus pembegalan yang sering terjadi di jalan tol, pihak pengelola juga dapat bekerja sama secara lebih intens lagi dengan Badan Pemeliharaan Keamanan (Baharkam) Polri,'' imbuh Bambang. (K18-48)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar