Vokasi Penting untuk Angkat Daya Saing Ekonomi

TRIER - Di era industri 4.0, pendidikan vokasi atau kejuruan dirasakan semakin penting untuk mengangkat daya saing ekonomi. Sebab, melalui pendidikan vokasi yang terprogram secara baik, akan tercipta tenaga kerja dengan kompetensi sesuai kebutuhan pasar atau dunia industri.

Ini sekaligus untuk menekan angka pengangguran di kalangan anak muda. Namun, pendidikan vokasi jangan hanya sebatas program pemagangan singkat selama 2-3 bulan seperti yang lazim berlangsung selama ini di berbagai perusahaan/industri.

Pendidikan kejuruan perlu digarap lebih serius dan intens dengan mengadopsi sistem yang telah berjalan baik seperti di Jerman. Hal tersebut dikatakan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anton J Supit di sela-sela studi banding vokasi di Trier, Jerman, Senin (18/2) waktu setempat.

Wartawan Suara Merdeka, PHeru Subono melaporkan dari Trier, Jerman, studi banding diikuti 31 anggota delegasi, antara lain berasal dari Kadin pusat dan daerah (Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta/DIY), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Pertanian (Kementan), Badan Koordinasi Sertifikasi Profesi (BKSP), unsur pemerintah daerah, dan para pelatih tempat kerja di berbagai industri.

Anton mengatakan, pengembangan vokasi di Indonesia sebenarnya memiliki modal besar karena ada komitmen tinggi dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dalam pertemuan dengan Kanselir Jerman, Angela Merkel di Berlin, April 2016 silam, Jokowi secara khusus meminta kesediaan Jerman membantu pendidikan kejuruan di Indonesia.

Merkel menyanggupi permintaan itu. Namun hingga kini belum ada regulasi dari pusat yang bisa menjadi pedoman bagi semua elemen untuk menjalankan program vokasi secara terintegrasi. ”Sebagai perbandingan, Jerman memiliki BiBB (Bundesinstitut f¸r Berufsbildung atau Federal Institute for Vocational Education and Training).

Undangundang yang mengatur tentang pendidikan vokasi sudah ada sejak 1969,” ujar Anton yang memimpin delegasi. Sambil menunggu terbitnya regulasi tersebut, pihaknya mengharapkan daerah-daerah proaktif mengembangkan vokasi sesuai kondisi masingmasing.

Kondisi Berbeda

Direktur Eksekutif Utama Industrie-und Handelskammer (IHK) atau Kadin Trier, Jan Glockauer mengatakan, melalui studi banding dan kerja sama itu, bukan berarti sistem yang dijalankan di Jerman akan disalin mentah-mentah ke Indonesia.

Sebab, kondisi dan budaya di kedua negara berbeda. Dia menjelaskan, di Jerman pendidikan vokasi ditangani oleh industri bekerja sama dengan IHK.

Karena itu, titik beratnya adalah praktik selama empat hari dalam sepekan. Teori di sekolah hanya dipelajari dalam 1-2 hari per minggu. Di sisi lain, kerja sama ini tidak akan dimulai dari nol, karena sudah ada kesepakatankesepakatan yang terjalin sebelumnya, termasuk dalam kunjungan delegasi Kadin Indonesia ke Trier pada 2014 dan 2017.

Adapun bentuk kerja sama yang sudah berlangsung antara lain pelatihan pelatih tempat kerja di Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, dan Jawa Barat. Sampai saat ini sudah ada puluhan pelatih tempat kerja bersertifikat internasional dari hasil pelatihan tersebut. (G3-46)