KIYE LAKONE

Literasi dari Kampung

SM/dok
SM/dok

UNGKAPAN membaca menjadi kunci pengetahuan dan gerbang cakrawala dunia sepertinya kerap didengar. Sayangnya, akhir-akhir ini membaca sepertinya bukan kegiatan yang menarik bagi kalangan generasi muda.

Keprihatinan itu juga dirasakan Sudarpono, warga Desa Glempang, Kecamatan Mandiraja. Menurutnya, generasi muda saat ini lebih asyik dan nyaman dengan gawai dibanding membaca.

Padahal masa depan bangsa tergantung dari kualitas dan wawasan generasi muda. Hal itulah yang melatarbelakangi Sudarpono untuk giat mengkampanyekan gerakan literasi di desanya. Dan kini, di rumahnya sudah berdiri Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Umah Buku Mayuh Maca. Rumah baca tersebut merupakan impiannya sejak lama.

Berawal dari aktivitas literasi di TBM Pena Ananda, Tulungagung, Jawa Timur. ”Selama 7 tahun saya bergiat dengan teman-teman di TBM Pena Ananda, kemudian tahun 2017 pulang kampung,” ujarnya. Pria kelahiran tahun 1976 ini menuturkan, sepulangnya ke kampung halaman merasa ada sebagian dunia yang hilang, yakni komunitas literasi, membaca dan menulis.

Lalu dia berusaha untuk mulai merintis gerakan literasi di kampung halamannya. ”Alhamdulillah pada akhir Desember 2017 mimpi saya terwujud,” tuturnya. Sampai saat ini koleksi buku TBM Umah Buku Mayuh Maca sudah mencapai 250 eksemplar.

Selain dari koleksi pribadi, dia juga mendapatkan buku dari sumbangan teman-temannya melalui program sedekah buku. Melalui Umah Buku Mayuh Maca ia berharap bisa berbagi pengalaman dalam dunia literasi kepada masyarakat.

ìSaya berharap di tempat kelahiran saya berkembang gerakan literasi membaca dan menulis melalui wadah taman baca ini,” imbuhnya. Selain aktif mengelola taman baca, pemilik nama pena Siwisang ini juga aktif menulis.

Hingga saat ini sudah ada 5 buku yang diterbitkannya antara lain buku Girinda Para Raja Tumapel Majapahit, yang merupakan tafsir baru sejarah para raja klasik Tumapel Majapahit.

Sudarpono juga berharap, berdirinya Umah Buku Mayuh Maca semakin memasyarakatkan gerakan gemar membaca sehingga menjadi budaya di Banjarnegara, khususnya Desa Glempang.

Yang membahagiakan, taman baca yang dirintisnya kini juga mulai mengispirasi berdirinya gerakan literasi di desa-desa lain, misalnya Desa Simbang, Kebanaran dan Salamerta. (Castro Suwito-20)


Baca Juga
Loading...
Komentar