Keberadaan Bank Sampah Diperbanyak

SM/Ryan Rachman - MEMILAH SAMPAH: Relawan bank sampah Desa Sidakangen, Kecamatan Kalimanah memilah sampah anorganik, baru-baru ini. (20)
SM/Ryan Rachman - MEMILAH SAMPAH: Relawan bank sampah Desa Sidakangen, Kecamatan Kalimanah memilah sampah anorganik, baru-baru ini. (20)

PURBALINGGA - Permasalahan sampah menjadi permasalahan yang tak kunjung selesai. Terlebih lagi di Kabupaten Purbalingga saat ini, tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah Bedagas belum selesai dibangun.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Purbalingga, Priyo Satmoko mengatakan, volume sampah se-Kabupaten Purbalinga, tiap hari raarata mencapai 550 ton dan itu baru bisa diangkut ke TPA hanya sebagian kecil. Itulah sebabnya, pihaknya terus melakukan program untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pemkab memiliki target pada 2023, Purbalingga menjadi daerah bebas sampah.

Menurutnya, keberadaan bank sampah dinilai salah satu upaya yang sangat efektif dalam mengatasai permasalahan sampah ini. Sesuai dengan UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, salah satu pasalnya menyebutkan, penanganan sampah dimulai dari sumbernya.

Adapun penanganan sampah, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, namun juga masyarakat memiliki peran serta. ”Dari rumah tangga sebagai penghasil sampah terbesar, ini mulai diubah pola pikirnya. Dari membuang sampah begitu saja, menjadi memilah yang organik dan anorganik,” katanya, Selasa (19/2).

Lebih lanjut, hingga tahun ini, sudah ada 56 bank sampah yang tersebar di sejumlah desa. Adapun tahun ini, pihaknya menargetkan ada 36 bank sampah yang berdiri. Bahkan jika memungkinkan, minimal satu desa memiliki satu bank sampah. Oleh karena itu, dia mendorong pemerintah desa untuk bisa berperan aktif mewujudkannya.

Regulasi lain, dalam PP Nomor 18 Tahun 2012 menyebutkan, pemerintah bertugas menumbuhkembangkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah. Sehingga bila ada warga yang peduli dengan sampah lalu mendirikan bank sampah, maka pemdes juga harus mendukungnya dan tidak membiarkan berjalan sendiri.

Kabid Pengelolaan Sampah, Bahan Berbahaya Beracun dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup (PSB3- PKLH) DLH Kabuaten Purbalingga, Sukirto menambahkan, konsep penanganan sampah sebenarnya sangat sederhana, entah itu organik atau nonorganik. Untuk sampah organik bisa ditangani dengan menimbun, sedangkan sampah anorganik diolah agar bisa diambil manfaatnya.

Pembentukan bank samah sebagai sarana pengolahan sampah itu penting. ”Dengan bank sampah, masyarakat bisa menabung, daerahnya bersih dan ada pemberdayaan di situ,” katanya.

Sekretaris Komunitas Hijau Purbalingga, Teguh Purwanto mengatakan, menggerakkan warga untuk membuat bank sampah diakui gampang-gampang susah. Oleh karena itu perlu sentuhan dari pihak-pihak yang memiliki pengaruh di masyarakat seperti perangkat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh pemuda.

”Kendala di lapangan terkadang harga jual sampah ke pengepul yang tidak stabil. Bila harga jualnya sedang murah, itu membuat pengelola kadang merugi akhirnya mandek. Karena itu perlu diperhatikan betul fluktuasi harga dan berani menahan diri untuk tidak menjualnya sehingga pengelolaannya bisa tetap berjalan,” katanya. (H82-20)


Baca Juga
Loading...
Komentar