Sindrom Kaum Miskin Urban

SM/Eko Edi Nuryanto - SM/thewire.in - SM/dok pribadi - Langit Hijau - Gayatri Jayaraman - Maya Diana KD
SM/Eko Edi Nuryanto - SM/thewire.in - SM/dok pribadi - Langit Hijau - Gayatri Jayaraman - Maya Diana KD

GAYATRI JAYARAMAN dalam artikel ”The Urban Poor You Haven’t Noticed: Millennials Who’re Broke, Hungry, but on Trend” yang viral awal Mei 2016, menyinggung fenomena urban poor.

Ia memilih istilah itu untuk menyebut generasi muda kota yang hanya demi sebuah mimpi dan gaya hidup, rela membelanjakan uang yang pas-pasan untuk hal-hal glamor. Gayatri menyoroti kondisi teman-temannya di India, yang sangat mungkin situasinya mirip dengan kondisi di negara berkembang, termasuk Indonesia.

”Saya kenal seorang manajer pemasaran, masih muda, yang nekat kredit mobil waktu dapat gaji pertama, tapi sekarang tidur di mobil. Gajinya habis untuk bayar kontrakan rumah dan cicilan mobil, tak tersisa untuk makan.

Dia parkir di suatu tempat, tapi untung Mumbai masih tergolong kota yang aman,” tulis Gayatri. Tuntutan gaya hidup dan penampilan. Itulah yang juga ada dalam benak Vivi ketika nekat mengambil kredit mobil SUV terbaru.

Di depan kolega dan klien, agen pemasaran itu bisa tampil keren dan meyakinkan dengan mobil baru. Padahal, kalau mau jujur, perusahaannya belumlah bonafide. Bahkan gajinya jauh dari cukup untuk satu bulan cicilan mobil berharga Rp 200 jutaan itu.

Namun tuntutan pekerjaan, lebih tepatnya demi bergaya, ia tak perlu berpikir tentang matematika keuangan. Itulah yang kadang membuat rekan kerjanya geleng-geleng.

Jika diingatkan tentang pilihan yang kebablasan, Vivi selalu beralasan, ”Aku kan harus tampil oke di depan klien. Bagaimana mereka bisa percaya jika aku harus ke tempat-tempat yang lumayan berkelas hanya naik motor? Malu kan aku!” Untuk mencukupi gaya itu, keuangan Vivi jebol. Tagihan kartu kreditnya berderet tak terbayar.

Dan, tidak lama kemudian, Vivi tak lagi wara-wiri menyetir SUV kebanggaan itu. Sebetulnya motif Vivi ingin terlihat baik di lingkungannya. Dia pun nekat melakukan sesuatu di luar kemampuan secara materi. Dia memiliki mobil, gawai canggih, pakaian, dan aksesori bermerek atau pergi ke suatu tempat bergengsi, semata-mata untuk menunjukkan diri punya nilai lebih di lingkungannya.

Begitu pula Lisa. Pelajar sekolah menengah atas itu galau melihat kawankawan sebaya yang acap nonton bioskop dan hang out di mal-mal. Ia selama ini hanya bisa mendengar cerita dari kawankawannya. Maklum, ia bukan dari keluarga mampu.

Orang tuanya karyawan swasta dengan gaji tak lebih dari UMR Kota Semarang. Namun ia sangat ingin bisa seperti teman sebaya. Apa yang dia lakukan cukup mencengangkan. Dia rela tidak jajan setengah bulan demi memenuhi mimpi: nonton bioskop dan nongkrong di resto Jepang di sebuah mal berkelas di Semarang atas. ”Sekali jalan bisa habis Rp 200.000. Itu untuk nonton, main games, dan mencicipi jajan yakiniku di resto Jepang favoritku,” ucap dia enteng.

Tak menyesal, lapar di sekolah setengah bulan hanya untuk pengalaman beberapa jam? Lisa menggeleng. Bagi dia pengalamannya itu lebih membahagiakan. ”Setelah itu posting di IG, puas dan bahagia,” celetuk bocah kelas X SMA itu.

Jebakan Media Sosial

Biasanya seseorang yang terkena sindrom urban poor sering sekali mengunggah di media sosial tentang segala hal yang ia miliki dan lakukan. Hal itu diamini pengamat gaya hidup Joel Stein.

Dalam tulisan untuk Time, dia menyatakan jiwa narsis kaum muda usia 20-an tiga kali lipat lebih tinggi ketimbang yang berusia 65 tahun. Stein mengutip data National Institutes of Health yang menyebutkan skala narsisme mahasiswa pada 2009 meningkat 58 persen dibandingkan 1982. Maya Diana KD, ketua Komunitas Diajeng Semarang, mengamini media sosial menjadi salah satu pemicu.

”Media sosial memancing wanita yang pada dasarnya punya level narsistik tinggi. Mereka ingin tampil muda, cantik, dan menarik. Media sosial pas banget untuk aktualisasi diri kaum perempuan. Dalam arisan-arisan, misalnya, apa yang pertama dilakukan? Foto-foto, kemudian up load di media sosial,” tutur dia. Itulah yang dia rasakan di lingkungan pergaulan.

Aktualisasi diri di media sosial itulah yang mereka perjuangkan. Mereka memperjuangkan penampilan, mengagungkan kecantikan lahiriah, untuk memenuhi dorongan narsistik. Akhirnya, baju, perhiasan, plus penampilan harus bagus maksimal, dan selalu mutakhir.

”Mereka masuk arisan-arisan kelas atas yang pada setiap pertemuan ada tema baju tertentu seperti polkadot atau princes. Itu kan mahal; pakaian, perhiasan, aksesori, dan lain-lain. Ada upaya sadar untuk memenuhi itu dengan mengalahkan kebutuhan dasar,” ujar Maya Diana. Jika mampu, tak masalah. Namun jika memaksa diri, tentu merepotkan.

”Ya, banyak juga yang akhirnya tumbang di tengah jalan,” tutur dosen paruh waktu di sebuah perguruan tinggi swasta di Semarang itu. Ia menyatakan banyak individu belum saatnya bergaya hidup seperti itu. Namun mereka memaksakan diri. ”Akhirnya utang sana, utang sini, dan ketika tak ada lagi peluang, mereka kolaps dan menghilang,” tutur dia. Sebenarnya apa yang mereka perjuangkan? ”Kembali lagi ke dorongan narsistik. Foto-foto langsung publis. Kalau banyak yang like dan memuji, gembira sekali.

Itu yang mendorong mereka terus mengulang,” katanya. Urban poor tidak hanya terjadi di kalangan remaja kaum milenial, tetapi juga pada anak-anak dan orang dewasa. Jejak mereka mudah dilihat di media sosial. Gaya mereka hampir seragam; foto di tempat wisata yang lagi nge-hits, kuliner di tempat yang lagi booming, hingga pamer belanjaan di mal mewah.

”Gempuran media sosial seharusnya disikapi secara bijaksana. Jangan sampai tuntutan gaya hidup mengganggu keuangan. Wanita mestinya sadar dan paham membuat skala prioritas,” saran Maya Diana. Begitulah kaum urban poor. Mereka sama sekali tidak ”miskin”. Namun mereka lapar dan bokek, karena strategi hidup yang tidak bijak.

Mereka terlalu memedulikan tekanan sosial di sekeliling dan menghabiskan uang demi gaya hidup dan penampilan yang mereka yakini berpengaruh terhadap kualitas hidup. Miliarder asal Australia yang bertanggung jawab atas proyek real-estate besarbesaran, Tim Gurner, pernah menyampaikan pesan penting kepada kaum milenial yang ingin meraih sukses.

”Jangan terus-menerus makan roti panggang alpukat!” Pesan itu bukan candaan. Tim serius. Dalam acara ”60 Minutes Australia”, ia menekankan kuncinya adalah jangan sampai peningkatan pendapatan memengaruhi gaya hidup, menjadi lebih besar pula pengeluaran. Pendek kata, kembali ke prinsip berhemat.

Persoalannya, Tim melihat sekarang banyak kaum milenial bertindak ironis: rela belanja hal-hal unik, hipster, berbiaya tinggi, tetapi alpa menabung untuk membayar bermacam cicilan utang. Tim menyarankan kaum milenial berdisiplin, sebagaimana ia lakukan dulu. ”Tak ada kemewahan, tak ada alpukat, cuma kerja!” (Eko Edi Nuryanto-28)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar