Gaya Hidup yang Menjebak

GAYA hidup merupakan bagian yang tak terpisahkan dari generasi milenial. Bagi mereka, mengikuti arus zaman itu adalah kebutuhan. Sangat mustahil mereka bisa eksis, tanpa melarutkan diri dalam hiruk-pikuk gaya hidup milenial.

Namun kadang ada yang tersesat dan terjebak fenomena urban poor. Salah satu hal yang tak bisa mereka tinggalkan adalah fesyen. Dunia ini beserta tetekbengek yang menyertai adalah bagian yang melekat dan menjadi penting. Itulah keyakinan Langit Hijau, mahasiswa program S-2 Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.

”Penampilan dari ujung kepala hingga ujung kaki menjadi salah satu yang penting. Bukan demi pujian dari orang lain. Penampilan yang sesuai adalah wujud penghargaan terhadap diri sendiri!” tandas dia.

Mengapa? Tak dapat dimungkiri penampilan adalah hal pertama yang dilihat dan memengaruhi penilaian orang terhadap seseorang. Agar mendapat penilaian positif, tentu harus berpenampilan dengan baik sesuai dengan porsi, tidak berlebihan, tetapi juga tidak kuno. ”Meski, kembali lagi, sebaik-baik penampilan, kepribadian dan cara bersikap adalah hal utama yang akan membuat orang lain menilai baik atau buruk diri kita,” tutur Langit Hijau.

Sekalipun fesyen hal utama, ada ”pagar api” yang tak boleh dilanggar. Jika nekat melewati, terbakarlah. Itu yang acap kaum milenial lupakan, sehingga banyak yang terjebak gejala urban poor.

Memaksa diri berpenampilan serbawah, memakai barang mahal, padahal banyak hal lain butuh biaya, tutur Langit Hijau, tidak sepantasnya dilakukan. Generasi milenial harus memiliki kecerdasan afektif, tidak impulsif, tidak hedonistis. ”Kita bisa kok tetap berpenampilan sepantasnya dan sesuai dengan mode terkini, tanpa harus memakai barang mahal. Itu bisa buat bayar sekolah.

Banyak kok barang yang lebih terjangkau dan tidak kalah bagus yang bisa kita pakai untuk membuat penampilan tetap terlihat pantas,” ujar dia. Di sisi lain, generasi milenial harus berani mengambil risiko. Gagal adalah risiko yang sangat sering mereka rasakan. ”Namun sebagai generasi milenial, kita harus memiliki cara pandang baru. Ketika gagal, kita harus bisa bangkit.

Bangkit saat gagal bukan hal mustahil,” cetus Langit Hijau. Fokus ke pencarian solusi dengan melihat kesempatan dan peluang, kata dia, akan sangat membantu untuk bangkit. Generasi milenial harus luwes, tidak mudah hancur, meski ditempa kegagalan dan selalu dituntut mengikuti perubahan dan perkembangan.

Bahaya Besar

Langit Hijau memaknai hidup sebagai kesempatan yang hanya datang sekali. ”Saya tidak ingin membuang waktu untuk melakukan sesuatu yang akan merugikan diri sendiri. Bagaimana cara saya menjalani? Passion selalu dimiliki setiap orang.

Menjalani hidup berdasar passion akan sangat menyenangkan,” ucap dia. Meski jatuh dan gagal, tidak akan menyerah karena passion tak dapat dilepaskan begitu saja dari kehidupan.

Lakukan hal-hal positif yang bermanfaat bagi kehidupan. ìJangan sampai ketika usia senja nanti ada penyesalan atas cara kita menjalani hidup pada masa muda,” saran dia. Penelitian di bidang psikologi sosial mengungkapkan, ada bahaya besar yang mengancam seseorang yang terkena gejala urban poor.

Secara tidak sadar perilaku itu akan terus-menerus menggerus kepribadian positif. Ada tiga dampak berbahaya. Pertama, sulit mengatur keuangan. Setiap kali keluar rumah, pasti membeli barang yang sebenarnya tak diperlukan. Biasanya didasari keinginan tanpa alasan kuat; membeli barang karena terhasut rayuan teman, menyaingi barang milik teman, dan sebagainya.

Akhirnya menyesal dan barang yang terbeli tak digunakan. Tak ayal, mereka sering kehabisan uang pada pertengahan bulan. Tak tertutup kemungkinan, seseorang memiliki banyak sekali tagihan yang sulit terbayar. Kedua, perilaku kompulsi, yaitu impuls tidak tertahankan dan tidak bisa dicegah untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kemauan sadar.

Perilaku kompulsif berkembang ketika seseorang membiasakan diri beraktivitas secara terpaksa, sehingga lama-kelamaan kebiasaan itu menjadi kebutuhan. Jika tidak mengontrol dengan baik rasa untuk memenuhi kebutuhan itu, akan berkembang ke sisi negatif. Akhirnya sulit menghentikan kebiasaan itu dan kesulitan pula menentukan prioritas dan mana hanya keinginan.

Ketiga, stres. Stres muncul ketika seseorang tidak bisa memenuhi kebutuhan yang membuat dia merasa bernilai di lingkungannya. Secara tak langsung dia akan merasa tersingkir. Pasalnya, dia memaksa diri bergaul dengan orang-orang yang lebih mementingkan materi sebagai tolok ukur penerimaan.

Jika sudah dianggap tak lagi sepadan di kelompok, dia akan ditinggalkan. Bagaimana mengatasi? Bersosialisasi dan bergaul dengan siapa pun memang bagus, tetapi tetap ingat batas dan kemampuan. Jangan sampai memaksa diri hanya karena ingin diterima lingkungan. Itulah saran Langit Hijau.

Generasi milenial memang dituntut selalu mengikuti perubahan dan perkembangan, baik di bidang pendidikan, teknologi, pekerjaan, maupun gaya hidup. ”Namun ada banyak jebakan dalam dinamika hidup. Kita harus berhati-hati mengambil keputusan,” ujar dia. (Eko Edi Nuryanto-28)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar