Isu Lingkungan Diprediksi ”Tenggelam”

Debat II Pilpres Akan Panas

SM/Antara - GLADI BERSIH : Sejumlah petugas dan kru televisi bersiap melakukan gladi bersih Debat Capres 2019 Putaran Kedua di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (16/2). (55)
SM/Antara - GLADI BERSIH : Sejumlah petugas dan kru televisi bersiap melakukan gladi bersih Debat Capres 2019 Putaran Kedua di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (16/2). (55)

JAKARTA - Prediksi soal debat kedua Pilpres 2019, Minggu (17/2) malam nanti, sudah berseliweran. Energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup menjadi topik perdebatan.

Debat kedua diprediksi lebih panas, terutama terkait isu energi dan pangan. Meski demikian, kalangan pemerhati, akademisi, maupun aktivis lingkungan justru memperkirakan isu lingkungan bakal tenggelam oleh perdebatan isu-isu yang lain.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio mengkhawatirkan isu-isu lingkungan kalah pamor dari pangan dan energi. Persoalan lingkungan bukannya tidak banyak di negeri ini.

Masalahnya, dalam visi dan misi kedua capres yang berdebat, arah kebijakan yang akan diambil soal lingkungan tidak terbaca jelas. ”Jadi tidak bisa kita berharap banyak,” kata Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan Teguh Surya. Sementara itu, Manajer Kampanye Keadilan Iklim Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Yuyun Harmono mengatakan, tentu masyarakat lebih bertanya,”Selanjutnya apa?”.

Namun jauhjauh hari, menurut Yuyun, para aktivis dan pemerhati lingkungan menyayangkan visimisi Jokowi-Ma’ruf Amin yang terlalu umum dibanding 2014. Prabowo Subianto, yang berpasangan dengan Sandiaga Uno pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 juga tidak menjabarkan secara jelas di dalam visi-misinya, hanya menyebut pemerintahan yang berwawasan lingkungan.

Pasangan ini belum sampai berbicara soal mengintegrasikan isu lingkungan pada rencana pembangunan nasional. ”Padahal Prabowo justru punya kesempatan lebih menjabarkan inovasi apa yang dimiliki untuk menyelesaikan persoalan lingkungan dibanding petahana.”

Potensi diperdebatkan

Keberhasilan penanganan kebakaran hutan dan lahan mungkin akan menjadi salah satu isu yang akan diangkat Jokowi. Hal ini berkaca pada keberhasilan menurunkan jumlah titik api dalam empat tahun terakhir pascakarhutla besar 2015 yang menghanguskan kawasan hutan dan lahan 2,6 juta ha. Jika berdasar luas, kebakaran hutan di era 1990-an jauh lebih besar dibanding pada 2015. Pada 1994, karhutla menghanguskan 5-11 juta ha dan pada 1997-1998 menghanguskan 10-11 juta ha area kawasan hutan dan lahan.

Namun apa yang terjadi di 2015 dampaknya menimbulkan kerugian Rp 221 triliun dari sisi ekonomi, serta menyebabkan 24 orang meninggal dunia, 600 ribu lainnya terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Keberhasilan upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran hutan baru masif dijalankan sejak 2016, hingga akhirnya menurunkan secara drastis jumlah titik api sampai 90 persen.

Hal ini, menurut Teguh, yang bakal jadi andalan Jokowi. Topik lain yang mungkin juga akan disebutkan yakni terkait Perhutanan Sosial. Meski demikian, Teguh merasa tidak yakin isu ini akan menjadi bahan debat karena populis.

Program Perhutanan Sosial pada masa Pemerintahan Jokowi yang melanjutkan era pemerintahan sebelumnya memang bergulir lebih cepat. Dalam dua tahun terakhir pemberian izin kelola untuk kelompok masyarakat melalui Perhutanan Sosial mencapai sekitar 2,53 juta ha dari 12,7 juta ha kawasan hutan yang dialokasikan.

”Namun ada pula kemungkinan Capres 02 mempunyai ide sama, mengingat jelas isu Perhutanan Sosial sangat populis,” ujar Teguh. Debat capres putaran kedua yang akan dilaksanakan di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2), pukul 20.00 WIB, menghadirkan delapan panelis yang beberapa di antaranya ahli di bidang lingkungan hidup.

Mereka adalah Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Joni Hermana, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria, Direktur Eksekutif Walhi Nur Hidayati, ahli pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB) Irwandy Arif, pakar energi terbarukan Universitas Gadjah Mada (UGM) Ahmad Agus Setiawan, mantan rektor Universitas Diponegoro (Undip) Sudharto P Hadi, Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Dewi Kartika, dan akademisi Universitas Airlangga (Unair) Suparto Wijoyo.

Meski banyak aktivis dan pemerhati memprediksi isu lingkungan pada debat capres putaran kedua akan landai, namun mereka cukup semanggat menantikan malam perdebatan tersebut.

Koalisi Golongan Hutan yang terdiri dari Walhi, Madani Berkelanjutan, Greenpeace Indonesia, Koaksi Indonesia, Kemitraan, HuMa, Change.org, Rekam Nusantara dan Econusa telah menyebar undangan Nonton Bareng (Nobar) Debat Capres II di markas Walhi. Menurut Koordinator Desk Politik Walhi Khalisah Khalid, pilihan politik masing-masing aktivis maupun pemerhati lingkungan juga cukup berwarna. Karena itu, dia memperkirakan suasana nobar akan meriah. (ant-41)


Berita Terkait
Loading...
Komentar