BACA BUKU

Defisit (Iklan) Kesehatan di Ruang Publik

RUANG lingkup mutakhir dunia kesehatan mencakup lintas disiplin ilmu. Tidak hanya berurusan dengan obat, penyakit, makanan sehat, dokter. Namun juga bersinggungan dengan ranah ilmu komunikasi. Mempromosikan cara hidup sehat termasuk bagian komunikasi kesehatan yang baru saja terdaulat sebagai keilmuan baru.

Basis keilmuan itu teranggap berkelindan beririsan antara ilmu kedokteran dan ilmu komunikasi. Komunikasi kesehatan dilatarbelakangi makin pesat laju teknologi dan informatika. Dengan arti, penetrasi teknologi mengantarkan interaksi antarmanusia menjadi makin intensif.

Gaya hidup manusia modern bersimbol mengakrabi alat gawai menghadirkan ragam informasi, termasuk kesehatan. Celakanya, kemudahan pemerolehan informasi kerap mendatangkan penyakit dan mewabah.

Wabah itu adalah sebaran hoaks. Hoaks kesehatan yang menyematkan orang awam bak ahli medis. Tengoklah info-info kesehatan dengan kemasan video atau narasi teks di internet. Betapa banjir petuah hidup sehat mengalpakan bersumber kajian akurat dari pakar. Salah-salah, aneka info kesehatan di jagat maya menyebabkan penyakit anyar.

Tak ada yang bisa dituntut ketika salah obat, keliru ramuan, lantaran memang tidak ada subjek penanggung jawab. Karena itu, buku ini menjadi rujukan penting untuk menyikapi fenomena informasi kesehatan dewasa kini, agar tepat dan selamat menelaah info kesehatan. Hari-hari ini, iklan produk kesehatan membanjiri kanal-kanal publik.

Mengecualikan di internet, juga paling kentara dan merupakan bagian penelitian di buku ini adalah iklan kesehatan reproduksin (obat kuat) di surat kabar. Iklan kesehatan macam itu dianggap mengandung kemusykilan.

Penggunaan bahasa hiperbol atau superlatif menjadikan jenis pariwara model itu menyalahi etika periklanan. Iklan produk kesehatan terlarang menggunakan istilah paling manjur, top, nomor satu.

Tidak jarang banyak keluhan datang dari konsumen gara-gara khasiat obat di luar ekspektasi. Untuk mengantisipasi banjir keluhan, media massa menyatakan hasil produk merupakan tanggung jawab pengiklan.

Namun, media massa sebenarnya tidak bisa begitu saja berlepas tangan. Ilmu komunikasi kesehatan mengurai catatan kritis seperti: apa pertimbangan surat kabar meloloskan iklan itu, bagaimana alur proses pemuatan iklan, serta bagaimana kebijakan media massa berkait dengan pemasangan iklan kesehatan (halaman 103).

Membantu Masyarakat

Di sinilah peran penting komunikasi kesehatan membantu masyarakat awam dengan kecakapan memafhumi antara iklan dan produk kesehatan. Iklan sebagai pengejawantahan praktik komunikasi mendasarkan sifat manipulatif; bahwa iklan mempunyai kekuatan memengaruhi yang cenderung berlebihan (halaman 111). Sembari kita memaklumi iklan menghasratkan pundi-pundi keuntungan besar.

Pembacaan macam itu memaksa konsumen awam untuk bijak dan secara wajar melihat iklan kesehatan. Penyikapan itu agar konsumen tidak gampang silau terhadap “janjijanji” produk kesehatan berdiksi bombastissensasional. Dewasa ini, iklan kesehatan menyeruak dalam layar kaca. Menarik, iklan produk kesehatan menampilkan ragam trik terselubung.

Tidak dengan beriklan secara terbuka menawarkan produk. Namun membungkus dengan acara bincang-bincang kesehatan yang ujung-ujungnya merekomendasikan membeli produk. Tak lupa menawarkan diskon dan bonus. Meskipun tidak salah, melalui disiplin ilmu komunikasi kesehatan, kita menjadi melek: bagaimanapun komersialisasi bakal mendegradasi “kesakralan” saban bidang kehidupan, termasuk ranah kesehatan yang idealnya bersifat humanis.

Pada tataran lebih luas, masih banyak problem komunikasi kesehatan di masyarakat terasa sulit diselesaikan. Hari-hari ini masih banyak penolakan di sebagian kalangan berkait dengan injeksi vaksin.

Banyak wedaran sumbang dan tidak masuk akal dari penolak vaksin. Padahal, kesehatan bersepakat vaksinasi sebagai cara ampuh mengatasi potensi kemunculan wabah penyakit. Kebijakan pemerintah menyehatkan rakyat kerap berjalan tidak mulus. Hal itu tentu membutuhkan cara jitu penyampaian pesan.

Boleh jadi perlu evaluasi: jangan-jangan iklan vaksinasi tidak cukup cakap meyakinkan publik. Kita juga disesaki warta sengkarut BPJS kesehatan. Asuransi sosial terbesar di dunia itu tidak pernah lepas dari kata “beres”. Ada negara selaku penyedia asuransi dan masyarakat sebagai pembayar premi. Komunikasi kurang baik yang keluar dari keduanya bisa menyebabkan program asuransi berjalan amburadul.

Berangkat dari sini, komunikasi kesehatan bisa memerinci cara cergas-terbaik dalam sosialisasi aturan kebijakan kesehatan dan bagaimana langkah cermat-santun bagi masyarakat untuk mengkritik dan memberikan masukan. (Muhammad Itsbatun Najih, penulis lepas-28)

Judul : Komunikasi Kesehatan: Pemikiran dan Penelitian
Penulis : Deddy Mulyana dkk
Penerbit : Rosda Bandung
Cetakan : Pertama, 2018
Tebal : 268 halaman

 


Komentar