Siswi MAN 1 Kudus Raih Perunggu di Thailand

Ciptakan Robot Pendeteksi Gunung Meletus

SM/dok - PAMERKAN KARYA: Tim MAN 1 Kudus memamerkan karyanya dalam Thailand Inventors Day dan Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) di Bangkok. (55)
SM/dok - PAMERKAN KARYA: Tim MAN 1 Kudus memamerkan karyanya dalam Thailand Inventors Day dan Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) di Bangkok. (55)

Azzalira Alayya Zahwa (16) dan Alfi Fatimatuz Zahro (16) bergitu bersemangat menceritakan pengalaman pertamanya terbang ke luar negeri dan ikut kompetesi tingkat internasional. Kesan bertemu dengan banyak teman dari berbagai negara menjadi pemacu semangat mereka untuk terus berprestasi.

MELALUI karya robot mosugemo (monitoring suhu, getaran, dan karbon monoksida), dua siswi MAN 1 Kudus ini baru saja membawa nama harum sekolahnya dalam kompoetisi internasional di Bangkok, Thailand pada 2-6 Februari lalu.

Mereka berhasil meraih medali perunggu dalam Thailand Inventors Day dan Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) di Bangkok International Trade & Exhibition Centre (BITEC), Thailand.

Karya inovatifnya juga berhasil meraih spesial World Invention Intelectual Properly Associations (WIIPA) dari Taiwan. Pencapaian tinggi ini tidak terlepas dari keprihatinan mereka terhadap fenomena gempa bumi dan gunung meletus yang memakan korban jiwa.

Awal idenya adalah membuat robot untuk mendeteksi gempa bumi, karena saat ide itu muncul Indonesia baru mengalami musibah gempa bumi di Palu,” kata Azzalira menjelaskan awal pembuatan robot masugemo.

Melalui diskusi dan pertimbangan bersama guru pembimbing Arif Noor Adiyanto dan Ahmad Edi Darmawan, kerja robot tersebut diperluas juga untuk suhu dan gas monoksida, sehingga bisa juga untuk mendeteksi gunung meletus.

Dengan bimbingan gurunya pada Sains and Inovation Program, keduanya berhasil merakit robot masugemo dengan baik. ”Indikator meningkatnya aktivitas gunung berapi dapat diketahui dari meningkatnya suhu, getaran, dan gas karbon monoksida,” jelas siswi kelas X MIPA-3 ini.

Alat ini terdiri dari beberapa komponen sensor yang bisa menangkap peningkatan getaran, suhu, dan gas monoksida. Di dalam robot juga dipasang alat yang bisa mengirimkan pesan singkat ke ponsel berisi peringatan-peringatan sesuai tangkapan sensor dalam robot.

”Alat ini diletakkan di lereng gunung berapi. Nantinya, dari alat itu akan mengirimkan pesan bila terjadi peningkatan suhu, getaran, dan gas karbon monoksida sebagai peringatan dini bencana meletus berbasis SMS,” terangnya.

Alfi menambahkan, sebelum mengikuti kompetisi tingkat internasional, robot ini sebenarnya telah lebih dulu meraih juara pertama Madrasah Aliyah The Best and Simple Construction Rancang Bangun Mesin Otomatis Bencana oleh Kementerian Agama pada tahun 2018 lalu. Meski pernah disertakan dalam lomba, namun robot ini telah mengalami pengembangan, seperti miniatur gunung dan pemanas sama pemberi getaran.

”Pada even Thailand Inventors Day ini, karya yang disertakan memang harus sudah pernah meraih juara di tingkat nasional. Kemudian ditambah dengan iovasi baru atau penyempurnaan,” beber Ahmad Edi Darmawan saat mendampingi siswanya kemarin (12/2). Arif Noor Adiyanto menceritakan, untuk bisa mengikuti event internasional ini, produk inovatif siswinya itu harus mengikuti seleksi tingkat nasional.

Dari ratusan karya, tim MAN 1 Kudus berhasil lolos bersama tim lain dari beberapa SMA ternama dan perguruan tinggi di Indonesia. ”Jadi ini untuk tingkat SMA dan perguruan tinggi. Tapi tim yang mayoritas lolos berasal dari universitas terkemuka di Indonesia,” bebernya.(Septina Nafiyanti-56)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar