Ngupit, Desa Tertua di Indonesia

Merintis Jadi Desa Wisata

SM/Ahmad Husain - FOTO PRASASTI : Kepala Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Didik Joko Sucipto menunjukkan foto prasasti Upit dari dokumen desa. (55)
SM/Ahmad Husain - FOTO PRASASTI : Kepala Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Didik Joko Sucipto menunjukkan foto prasasti Upit dari dokumen desa. (55)

Dimanakah desa tertua di Indonesia? Dari klaim empat desa tertua ternyata salah satunya ada di Klaten. Berada di Kecamatan Ngawen, Ngupit, demikian nama desa itu.

WILAYAH Klaten dalam catatan sejarah ternyata dahulunya dikenal sebagai tanah perdikan. Status tanah perdikan itu dibuktikan dengan adanya prasasti Yupit (Upit) yang berada di Dusun Sarawaden dan Sogaten, Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten.

Selain meninggalkan jejak batu prasasti, nama Upit sekarang juga tetap lestari sebagai nama sebuah wilayah. Kini keberadaan Upit atau Ngupit ditengarai menjadi salah satu desa tertua yang ada di Indonesia.

Bahkan menurut laman http://sinarharapan.net, empat dari desa tertua yang ada di wilayah Indonesia salah satunya adalah Ngupit di wilayah Klaten. Tiga desa yang lain adalah Sawai di provinsi Maluku, Trunyan di Bali dan juga Desa Banyuurip, Purworejo.

Menariknya, nama Ngupit hingga saat ini lebih dikenal sebagai nama wilayah imajiner. Sebagaimana prasati Upit berada, nama wilayah Ngupit digunakan untuk menandai lokasi antara Dusun Sarawaden dan Dusun Sogaten. Di tengah kedua dusun yang jaraknya kurang lebih hanya satu kilometer itulah masyarakat sekitar menyebutnya sebagai daerah Ngupit.

Secara admisitratif, daerah imajiner Ngupit masuk dalam wilayah Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten. Lokasinya berada di sebelah barat Klaten, dan berdekatan dengan wilayah Boyolali di sisi barat laut dan Sleman (Yogyakarta) di sisi barat daya.

Lokasi Ngupit cukup dikenal karena ada di kawasan jalan Boyolali-Klaten. Menilik dari sejarah, sesungguhhnya tidak mengherankan jika Ngupit dikenal sebagai satu dari empat desa tertua di Indonesia. Sebab hingga sekarang, usia Ngupit sebagai nama sebuah wilayah sudah mencapai lebih dari 1.151 tahun.

Hal itu ditandai dengan apa yang disematkan dalam prasasti Upit, yang berada di Dusun Sarawaden dan Dusun Sogaten, Desa Kahuman. Prasasti Upit sendiri ditemukan oleh Mitromiharjo, mantan Sekdes Kahuman pada 1982. Prasasti batu itu menyerupai Lingga dengan tinggi 85 centimeter.

Bagian bawahnya setinggi 48 centimeter dan bagian atasnya 37 centimeter. Prasasti bertuliskan aksara Kawi, berbahasa Jawa Kuno, dan aksara ditulis melingkar pada permukaan batu. Prasasti itu bertahun saka 788 atau bertepatan tanggal 11 November 866 Masehi. Menurut Kades Kahuman Didik Joko Sucipto, prasasti Upit ditemukan tanpa sengaja di pekarangan Mitromiharjo.

Saat ditemukan prasasti itu digunakan sebagai penyangga gentong air di pekarangan. Karena ada tulisan aneh, keberadaan prasasti itu kemudian menyebar dan akhirnya sampai ke Balai Pelestarian Benda Cagar Budaya yang kemudian menyimpannya.

Tanah Perdikan

Sejawaran asal Universitas Gadjah Mada (UGM) Profesor Timbul Haryono mengatakan, keberadaan prasasti Upit tidak hanya menjadi tanda akan betapa tuanya wilayah tersebut. Namun lebih dari itu juga menjadi penanda akan tanah perdikan di wilayah sekitar, baik di wilayah Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen atau yang sekarang dikenal sebagai wilayah Klaten.

“Jika menilik prasasti itu ada dari masa abad 9, maka wilayah sekitar sudah dikenal luas sejak masa itu. Keberadaan prasasti itu mengukuhkan sebagai tanah perdikan,” ujar sejarawan yang juga tinggal di Klaten itu, beberapa waktu lalu. Menilik statusnya sebagai tanah perdikan itu, maka wilayah Upit (sekarang Klaten) diberikan hak khusus untuk mengurus daerahnya sendiri.

Selain itu wilayahnya juga diberi kebebasan untuk membayar pajak kepada kerajaan yang ada di masa itu. Karena wilayah yang ditandai dengan prasati Upit adalah wilayah yang dikenal sebagai bumi perdikan. Perkembangan lebih lanjut diungkapkan dalam buku Topeng Panji Mengajak yang Tersembunyi hasil kerja sama antara Balai Soedjatmoko Solo dengan Yayasan Semarak Candrakirana.

Buku yang merupakan hasil penelitian Wisnu Kisawa dan kawan-kawan itu disebutkan tentang wilayah politis Klaten sebagai bumi perdikan di masa pemerintahan kerajaan dinasti Mataram Islam. “Pada masa Kerajaan Surakarta, wilayah Klaten kemudian dikenal sebagai wilayah negaragung (wilayah terdekat diluar ibukota kerajaan) dalam spektrum pembagian wilayah kraton Surakarta,” kata Purnawan Andra, salah seorang peneliti buku tersebut.

Status sebagai tanah perdikan yang ditandai prasasti Upit tersebut juga berdampak pada kehidupan masyarakatnya. Hingga sekarang masyarakat di wilayah Klaten dikenal sebagai masyarakat yang kreatif dengan kekayaan budaya yang begitu banyak dan beragam.

Termasuk di antaranya dengan kesenian wayang dan juga topeng yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat. “Ditambah dengan kekayaan sumber daya alam dengan pertanian yang subur dan air yang melimpah lengkaplah sudah Klaten sebagai wilayah perdikan. Sehingga kehidupan masyarakatnya tidak kalah dengan yang ada di Kuthagara,” tandasnya.

Desa Wisata

Atas dasar latar belakang sejarah yang sedemikian menarik, maka wajar jika Upit atau Ngupit akan dijadikan sebagai spirit desa wisata. Khususnya bagi Desa Kahuman yang memang secara administratif menjadi salah satu pusat dari sejarah tersebut.

Pemerintah desa setempat memang sedang merintis desa wisata yang didukung oleh Pemkab Klaten. Demikian memang, Desa Kahuman dengan spirit Ngupit-nya memang memiliki banyak daya tarik untuk menjadi desa wisata.

Kecuali Prasasti Upit, di sana juga ada banyak batu candi yang meski masih berserakan namun tetap memiliki nilai sejarah tinggi. Jangan lupakan pula dengan adanya Sendang Pangilon yang pasti juga akan sangat menarik sebagai loka wisata. Satu lagi, Desa Kahuman juga banyak memiliki cerita sejarah yang sarat dengan nilai kearifan lokal.

Agus Fuad, Ketua Kelompok Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) Desa Kahuman mengatakan, cerita tertua yang didengarnya tentang sejarah desa hanya terkait dengan Ki Ageng Gribig.

Dusun Sorowaden konon diambil dari nama Kiai Sorowadi yang merupakan santri Ki Ageng Gribig yang bekas pesantren-nya hanya satu kilo meter dari Kahuman. “Kalau soal sejarah Mataram Kuno tidak banyak ceritanya,” terangnya.

Demikian memang, desa wisata itu akan sangat mungkin ada di wilayah desa tertua di Indonesia. Bahkan mungkin bisa berkembang ke desa-desa sekitar, karena sebagaimana yang disebutkan dalam prasati luas Desa Upit tidak hanya mencakup Desa Kahuman. (Wisnu Kisawa, Ahmad Husain-64)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar