Mega: Rakyat Ditakuti dengan Ujaran Kebencian

SM/Dian Aprilianingrum  -  BERI ARAHAN : Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memberikan arahan kepada kader partai saat penutupan Jambore Kader Komunitas Juang tingkat Jateng, di GOR Satria Purwokerto, Minggu (10/2).
SM/Dian Aprilianingrum - BERI ARAHAN : Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memberikan arahan kepada kader partai saat penutupan Jambore Kader Komunitas Juang tingkat Jateng, di GOR Satria Purwokerto, Minggu (10/2).

PURWOKERTO - Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menilai iklim politik di Indonesia kini diselimuti ujaran kebencian dan informasi hoaks yang terus ditujukan kepada rakyat.

Padahal, perbedaan dalam politik dan pilihan merupakan bagian dari kehidupan bangsa yang sudah berjalan baik sejak pemilu kali pertama digelar pada 1955.

”Pemilu pertama tahun 1955 berjalan aman dan damai, rakyat datang ke TPS-TPS dengan tertawa dan senang hati. Mengapa sekarang kok orang ditakut-takuti, tidak boleh milih Jokowi.

Memangnya kenapa ya Pak Jokowi. Apa ini namanya demokrasi,” kata Megawati dalam orasinya saat pengarahan kepada kader dan pengurus partai serta Kader Komunitas Juang Jateng, di Gedung Sasana Krida GOR Satria Purwokerto, Minggu (10/2).

Dia menilai, kondisi perpolitikan sekarang tidak lagi mengajarkan sopan santun, saling menghargai, kedamaian, dan saling mencintai sesama manusia.

Padahal, itu merupakan budaya leluhur yang harus terus dijaga. Presiden ke-5 RI itu berpendapat, Presiden Jokowi sudah punya bukti keberhasilan. Memimpin dengan bukti saja, lanjut Mega, masih menemui banyak kesulitan.

Belum Ada Bukti

Sementara kubu lawan, katanya, belum ada bukti dan baru akan melakukan. ”Yang di sana kan baru akan, sementara Pak Jokowi dan Pak Amin sudah terbukti. Aneh sekali, kenapa hanya ingin mencari seorang presiden, rakyat ditebari hoaks, ujaran kebencian,” ujarnya.

Padahal menurut Megawati, Pancasila yang digali dari kultur bangsa, mengajarkan semangat kegotong-royongan dan saling menghargai, serta tidak saling menjatuhkan.

Menyikapi ujaran-ujaran kebencian, Megawati memandang masyarakat mesti menanggapi Pemilu 2019 dengan pikiran jernih agar bisa bersikap objektif.

Masyarakat diharap tidak mudah terjebak hoaks. Dia juga minta jajaran struktural dan kader PDIP serta kader komunitas juang untuk mempertahankan Jawa Tengah sebagai ”kandang banteng”, dan harus menang mutlak pada Pileg dan Pilpres 17 April mendatang.

Untuk mempertahankan pencapaian itu memang sulit. ”Jawa Barat dan Banten merasa sudah dikuasai. Terus Jawa Tengah sulit dikuasai, ya karena memang kandangnya banteng.

Saya sudah bilang ke Pak Ganjar (Gubernur Ganjar Pranowo yang juga kader PDIP) dan Pak Bambang Pacul (Ketua DPD Bambang Wuryanto), ini gara-gara pilgub lalu.

Sampai-sampai (pasangan nomor urut 02) memindahkan posko di sini (Jateng). Ya tidak masalah. Ya nanti kita juga buat posko di Jawa Barat dan Banten.

Begitu aja kok repot,” ujarnya. Mega juga berkisah tentang cara dia menghadapi kekalahan pada Pemilu 2009 dengan sikap tenang. Dia merasa heran, kekalahan politik saat ini justru disikapi dengan panik atau kemrungsung.

”Kalau wis kalah ya wis kalah wae ta (kalau sudah kalah ya kalah saja-red), seperti saya dulu, kalah ya diam saja. Ini kok kemrungsung banget,” paparnya dalam acara yang diikuti lebih dari 3 ribu anak muda dari 35 kabupaten/kota.

Acara tersebut juga dihadiri Ketua DPP sekaligus Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP Puan Maharani, Gubernur Ganjar Pranowo, dan komponen tiga pilar PDIP di legislatif, eksekutif, dan struktural partai. (G22-19)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar