Industri Fotografi yang Kian Basah

Berbicara tentang dunia fotografi memang nggak ada habisnya. Selalu ada tren baru, dan diikuti munculnya para fotografer baru yang ingin menjadikan hobi membidik dengan lensa tersebut sebagai hal yang serius.

MEMBAHAS tentang serunya dunia foto tersebut, sebuah acara yang intim baru saja digelar.

Minggu sore (27/1) pada pukul 4 WIB bertempat di Lost In Coffee Semarang, acara yang bertajuk ”Srawung Bahagia Berbagi Mimpi”, yang menghadirkan narasumber Andhika Ardian, membahas tentang ”Cerita Tentang Basahnya Industri Fotografi”.

Secara santai ia membahas tentang foto idealis versus foto komersil. Bagaimana menciptakan dan memilih foto yang menjual, foto dengan gaya yang mengikuti perkembangan zaman atau mengikuti tren, dan idealis dengan gaya fotografi yang dianutnya.

Nggak ketinggalan, peran sosial media seperti Instagram yang juga berpengaruh. ”Banyak upload foto, belum tentu akan mendatangkan klien yang banyak. Karena klien itu sangat selektif dalam memilih fotografer yang cocok dengan keinginan dan kebutuhan mereka,” paparnya.

Andhika mengatakan, industri yang ‘basah’ tersebut juga merujuk pada banyaknya anak muda yang memiliki kamera, lalu hobi foto, dan menjadikan hobi tersebut sebagai pekerjaan yang menghasilkan.

Apakah fenomena tersebut merupakan hal yang positif? ”Menurut saya hal tersebut positif ya, karena pekerjaan sebagai fotografer tidak lagi dipandang sebagai kerjaan yang arahnya nggak jelas,” ujarnya.

Fotografer yang spesifik dalam foto wedding dan pre-wedding tersebut menambahkan, untuk disebut sebagai orang yang berprofesi sebagai fotografer, tentunya selain pengalaman alias jam terbang, juga harus sebagai pribadi yang paham mengenai kamera miliknya. Hal tersebut bukan secara tekhnis, namun lebih dalam dari itu.

Yakni bagaimana kita ‘memahami’ kamera atau lensa yang kita miliki; bagaimana karakternya, kegunaannya, dan bagaimana memaksimalkannya. Dan tentunya, sebagai fotografer yang profesional, bukan melulu berdasarkan hasil foto yang cemerlang.

Tapi juga memiliki ‘attitude’, karena hal tersebut merupakan bagian dari profesionalisme. Makanya, ia berpendapat kalau ingin menjadi fotografer yang handal, tidak hanya perbanyak ilmu tentang fotografi, tapi juga attitude, yang mencakup tiga hal. Yakni attitude yang baik terhadap semua orang, terhadap klien, dan cara menggunakan kameranya.

”Tujuannya menggunakan kamera itu untuk apa, apakah untuk hal-hal yang negatif atau positif? Kalau memotret untuk tujuan yang negatif, misalnya untuk black campaign, tentunya dia nggak bisa dibilang sebagai fotografer profesional karena nggak ber-attitude,” pungkasnya. (53)

(teks & foto: Irma Mutiara Manggia).


Tirto.ID
Loading...
Komentar