Rupiah Kembali Pukul Dolar AS

SM/dok : Denni Puspa Purbasari
SM/dok : Denni Puspa Purbasari

JAKARTA - Penguatan rupiah berlanjut. Pada perdagangan di pasar spot Jakarta, Kamis (31/1) siang, rupiah kembali memukul dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh level psikologis baru Rp 13.970, dari nilai pembukaan pada Kamis pagi sebesar Rp 14.040 per dolar AS.

Deputi III Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Ekonomi Strategis Kantor Staf Presiden (KSP), Denni Puspa Purbasari mengatakan, rupiah menguat karena larinya dana-dana asing ke Indonesia.

Hal itu terjadi karena sentimen dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed) yang mengendurkan aksi menaikkan suku bunga acuan. ”Kita jadi tahulah aliran modal tidak mengalir ke AS, tapi banyak mengalir ke potensi ekonomi- ekonomi dunia. Indonesia adalah salah satu radar investor global untuk jadi sasaran dana-dana masuk. Karena dilihat dari price earning ratio dan satunya lagi earning growthitu, di Indonesia masih kompetitif,” kata Denni di Jakarta, Kamis (31/1).

Dia menambahkan, dana asing yang saat ini masuk juga didukung oleh stabilnya fundamental ekonomi Indonesia. Namun, dia tidak bisa memprediksi di angka berapa rupiah bisa stabil cukup lama.

DolarAS Jatuh

”Yang pasti kita tahu jika ekonomi Indonesia terus membaik, dan perusahaanperusahaan akan berbanding lurus dengan itu. Dana global akan mengalir masuk, maka pengelolaan ekonomi makro harus baik,” ungkap Denni.

Kurs dolar AS jatuh pada akhir perdagangan Rabu (30/1) waktu New York, AS, atau Kamis (31/1) pagi WIB, setelah The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah dan berjanji bersabar dalam kebijakan masa depan tentang penyesuaian suku bunga.

Hal itu menandakan kehati-hatian lebih lanjut pada prospek ke depan. ”Kasus untuk menaikkan suku bunga telah melemah,” kata Ketua Fed, Jerome Powell pada konferensi pers, seusai pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), Rabu (30/1) waktu setempat.

Para hakim FOMC memutuskan untuk mempertahankan kisaran target suku bunga The Fed tetap pada 2,25% hingga 2,50%. ”Mengingat perkembangan ekonomi dan keuangan global serta tekanan inflasi yang diredam, Komite (FOMC-Red) akan bersabar ketika menentukan penyesuaian di waktu mendatang pada kisaran target suku bunga Federal fund yang mungkin sesuai untuk mendukung hasil ini,” bunyi pernyataan resmi FOMC, seperti dilansir dari Xinhua, Kamis (31/1).

Para investor di pasar finansial maupun pasar saham telah memperkirakan bahwa kenaikan suku bunga The Fed tahun ini akan kurang dari empat kali. Hal itu berdampak meningkatkan aliran uang di pasar keuangan global tahun ini, yang membuat dolar AS kurang bernilai dibandingkan dengan mata uang lainnya. Pada akhir perdagangan New York, Rabu (30/1) waktu setempat atau Kamis (31/1) pagi WIB, euro naik menjadi 1,1481 per dolar AS dari 1,1427 dolar AS pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,3112 dolar AS dari 1,3100 dolar AS pada sesi sebelumnya. Adapun dolar Australia naik menjadi 0,7254 dolar AS dari 0,7148 dolar AS.

Sementara itu, dolar AS dibeli 108,93 yen Jepang, lebih rendah dari 109,27 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9941 franc Swiss dari 0,9950 franc Swiss, dan jatuh ke 1,3148 dolar Kanada dari 1,3283 dolar Kanada pada sesi sebelumnya. (sb,dtc,ant-46)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar