Sorgum sebagai Bahan Dasar Biofuel

SM/Dokumentasi - SWEET SORGHUM: Peneliti Krissandi Wijaya sedang mengecek biji sorgum yang ditanam petani di pematang sawah di Kecamatan Rawalo, Banyumas. (in-20).
SM/Dokumentasi - SWEET SORGHUM: Peneliti Krissandi Wijaya sedang mengecek biji sorgum yang ditanam petani di pematang sawah di Kecamatan Rawalo, Banyumas. (in-20).

MENGACU pada hasil penelitian di Jepang dan di Indonesia, diketahui bahwa Sorgum Manis (Sweet Sorghum) memiliki keunggulan dan potensi untuk dapat dijadikan alternatif tanaman konservasi lingkungan maupun konservasi energi.

Sorgum Manis dengan input nutrisi yang rendah, dapat meningkatkan kualitas tanah atau lahan yang ditanaminya, sehingga sesuai untuk lahan-lahan marginal yang kurang subur.

Sorgum manis yang mudah tumbuh di lahan dengan berbagai cuaca di Indonesia, dapat dijadikan sebagai komoditas pertanian."Karena itu sorgum bila dikembangkan dengan benar mempunyai nilai komiditi yang tinggi dan dapat meningkatkan kesejahteraan petani,"kata Krissandi Wijaya PhD dosen Teknik Pertanian Unsoed, belum lama ini.

Maka Krissandi tergugah untuk meneliti potensi sorgum sebagai komoditas pertanian untuk menekan kerusakan lingkungan sekaligus menghasilkan bahan dasar bioenergi (biofuel). Dia telah meneliti sorgum ketika mengambil program Post Doctoral di Ibaraki University, Jepang. Saat ini dia tengah mengembangkan penelitian sorgum di Purwokerto.

Pada hasil penelitian Krissandi, sorgum mampu menyerap nitrogen dan pospor yang ada di tanah lebih dari 50%. Bahkan penelitian hasil penelitian Yoshida koleganya Krissandi di Jepang, kemampuannya tersebut dapat mencapai 70%.

Hal ini mengisyaratkan bahwa sorgum dapat meningkatkan efisiensi penyerapan hara di tanah, sekaligus mengurangi potensi pencemaran lingkungan akibat aliran permukaan pada musim hujan.

"Selain itu, tingkat penyerapan nutrisi yang tinggi yang sejalan dengan pertumbuhannya yang optimal, orgum ini pun berpotensi mengurangi emisi CO2 ke atmosfer secara efektif,"ujarnya.

Dikaitkan dengan potensinya sebagai bahan dasar biofuel, kehadiran sorgum cukup menjanjikan. Dikarenakan sorgum termasuk tanaman bioenergi non-pangan, sehingga tidak ada konflik dengan kebutuhan pokok seperti halnya ketela pohon, tebu, dan lain sebagainya.

Bahkan, sorgum manis memiliki tiga manfaat, bijinya sebagai bahan pangan, batangnya sebagai bahan biofuel, daunnya untuk pakan, bahkan sisa-sisa batang setelah pemerasan nira dapat dijadikan bahan industri serta untuk pembuatan kertas.

Hasil penelitian di Jepang dimana Krissandi sebagai salah satu anggotanya pada tahun 2012 lalu menunjukkan biofuel dari sweet sorgum dapat digunakan sebagai campuran BBM hingga 10- 20%.

"Selain itu, sisa-sisa batang hasil pemerasan nira berhasil dikonversi menjadi kertas untuk memasok kebutuhan ATK kantor," ungkapnya. Dengan semakin luasnya lahan marginal di Indonesia saat ini dan mempertimbangkan beberapa hasil penelitian di atas, kiranya tidak terlalu berlebihan jika pengembangan sorgum secara komprehensif.

Pengembangan melibatkan berbagai stakeholders dan dukungan pemerintah memiliki potensi yang besar selain untuk mengantisipasi kerusakan lingkungan, juga untuk mendukung kesediaan biofuel yang berkelanjutan di nusantara.

Degradasi lingkungan merupakan permasalahan sekaligus tantangan global dewasa ini. Degradasi lingkungan dapat dipicu salah satunya oleh praktek-praktek pertanian secara masif tanpa memperhatikan kaidah konservasi.

Sebagai contoh, sistem budidaya konvensional dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia secara intensif atau berlebihan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu, Jawa Tengah, telah memicu erosi dan lahan kritis di bagian hulu.

Terjadi sedimentasi sungai dan waduk-waduk di bagian tengah, serta pencemaran air di bagian hilir DAS tersebut. Sedimentasi juga berdampak pada semakin berkurangnya pasokan air untuk pembangkit listrik tenaga air dan irigasi dari tahun ke tahun."Jadi pengembangan sorgum manis akan membawa kesejahteraan rakyat," katanya. (Khoerudin Islam-20).


Baca Juga
Loading...
Komentar