Kiprah Seniman Visual Semarang

Rambah Kancah Internasional

SM/Resla Aknaita Chak - Aga Rahmadani
SM/Resla Aknaita Chak - Aga Rahmadani

Saat ini, dunia seni kreatif di Indonesia semakin menggeliat, khususnya seni visual. Hal itu tampak dari banyaknya karya anak bangsa yang merambah hingga kancah internasional. Beberapa di antara mereka tinggal di Kota Semarang.

BEBERAPA film produksi Hollywood ternyata melibatkan animator dari negeri ini. Sebut saja Andre Surya yang terlibat dalam film Transformer, Iron Man, Iron Man 2, Star Trek, dan Terminator. Ada juga Rini Triyani Sugianto yang berperan di balik pembuatan film The Adventure of Tintin.

Film Transformer: Age of Extinction garapan sutradara Michael Bay ternyata juga melibatkan seorang animator asli Indonesia, Ronny Gani.

Di Kota Semarang salah satu animator tengah menarik perhatian yakni Aga Rahmadani. Sejak usia lima tahun, perempuan kelahiran Jakarta, 21 Maret 1992 ini sudah memiliki hobi menggambar.

Baginya, menggambar seperti painkiller saat sedang sedih. “Gambar saya macam-macam. Ilustrasi manusia, hewan, kartun, dan lainnya. Saya suka eksplor dan tidak terpaku dengan satu stylesaja,” ujarnya, kemarin. Dia bercerita, lahir di lingkungan normatif dimana keluarganya bekerja sebagai dosen, peneliti, hingga manajer perusahaan.

Hanya ia saja terbilang pemberontak dengan masuk di dunia seni kreatif. “Ada keluarga yang pro dan kontra, tapi saya tetap maju. Banyak yang komentar karya saya jelek dan tidak layak.

Tapi saya nggak peduli. Akhirnya dapat klien pertama dari Malaysia sekitar 2012, lalu berlanjut ke publisher lain, seperti Amerika, Inggris, Jepang, hingga Australia,” tutur Aga, sapaan akrabnya.

Cemoohan yang didapat justru terus membangkitkan semangatnya untuk sukses. Pada 2017-2018, ia bertolak ke Shanghai, China, untuk mengikuti program Au Pair. Di sana ia mengajar anak les privat seni lukis dan bahasa Inggris. Akomodasi dan kuliah gratis pun didapatnya selama berada di Shanghai. “Memang cuma iseng saja ke sana.

Tinggal selama enam bulan di China, saya belajar banyak soal bisnis dan marketing. Setelah pulang saya fokus mengembangkan studio, marketing, dan ngeblog. Sharing soal ilmu bisnis DKV di www.againcolor.com,” papar alumnus Seni Rupa Desain Komunikasi Visual (DKV) Unnes itu. Saat ini, Gagestudio miliknya berlokasi di DS Siliwangi Office, Karangayu, Kota Semarang. “Sebetulnya klien saya beragam, 30 persen dari luar negeri.

Tapi memang target pasar, orang luar negeri,” imbuhnya. Menurut mahasiswi dengan predikat lulusan berprestasi internasional 2017 ini, seni kreatif di Semarang berkembang pesat. Ia menargetkan ingin membuat studio yang lebih besar. Tak hanya itu, membuka pelatihan atau kursus ilustrasi serta menjadi motivator bisnis kreatif wanita juga menjadi impiannya.

“Karena saya feminis. Saya ingin wanita- wanita juga bisa berbisnis di dunia kreatif. Lebih berani dan jangan mau didominasi lelaki,” tegasnya. Di Kota Semarang puluhan rumah produksi tengah menjamur. Sebut saja Flip Studio, Playon Animasi Studio, dan Arkanimasi.

Namun, meski studio animasi bertebaran di mana-mana, untuk mencari komunitas animasi saat ini masih sulit ditemukan. Animasi buatan mereka, tak sedikit yang sudah mencapai pasar internasional. Misalnya saja Warak n Friends, animasi tersebut merupakan salah satu serial animasi pertama yang dibuat Studio Playon Kreatif.

Dalam serial itu mereka menceritakan tentang keanekaragaman budaya indonesia. Pendiri Astama Ripta Kaharsa atau disingkat Arkanimasi Adityo Baharmoko mengatakan, komunitas animasi di Semarang sempat ada, namun semenjak memiliki studio masing-masing mereka jarang berkumpul dan lambat laun komunitas itu hilang. “Saat ini sudah tidak ada komunitasnya.

Tapi kebanyakan dari kami bergabung dengan Asosiasi Industri Animasi dan konten Indonesia (Ainaki) yang berpusat di Jakarta,” tuturnya. Pekerjaan sebagai animator, kata Adit sapaan akrabnya, saat ini masih sangat jarang diminati anak muda. Hal itu dikarenakan animasi membutuhkan proses yang panjang dan rumit.

Selain itu, pemasaran produk animasi masih menjadi hambatan. Salah satu Animator di Arkanimasi, Nur Lukman Hakim mengungkapkan, untuk memproduksi satu serial animasi membutuhkan waktu berbulan-bulan. Dalam sistem kerjanya terdapat modeler, animator, dan renderer. “Prosesnya panjang, harus riset dulu, membuat cerita, desain karakter, kemudian membuat storyboard-nya.

Modeler itu bagian yang membuat karakter dan asetaset lain yang dibutuhkan, animator bagian yang menggerakkan karakter agar terkesan hidup. Sedangkan renderer itu bagian yang mengkomposisikan tampilan animasi. Termasuk juga pencahayaan pada tampilan animasi,” jelas laki-laki kelahiran 24 September 1992 itu, kemarin.

Lukman yang bergabung dengan Arkanimasi sejak 2013 itu menambahkan, kesulitan yang dialami adalah memasarkan Intelectual Property (IP) atau produk animasi. “Memang pemerintah melalui dinas terkait telah mendukung dunia kreatif semarang seperti Incubator Bussiness Center (IBC).

Namun hal itu masih belum efektif,” ujar animator di studio yang bergerak di bidang animasi 3D itu. Saat ini, Arkanimasi telah meluncurkan salah satu IP mereka yang berjudul Happy Moslem. Mereka berencana meluncurkan IP mereka selanjutnya di tahun ini.

Arkanimasi yang berkantor di Jalan Dewi Sartika Timur RT 4 RW 5, Sukorejo, Gunungpati telah memproduksi banyak karya seperti Sudamala, Volly Animation, Televisi Athan (ilustrasi adzan di televisi), dan masih banyak lagi. Karyas-karya mereka dapat dilihat di www.arkanimasi.com maupun di akun instagram @arkanimasi. (Resla Aknaita Chak, Moh Khabib Zamzami-56)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar