• KANAL BERITA

Kekuatan Undang-Undang Cagar Budaya vs Kesadaran Melestarikan

Oleh Ratri Septina Saraswati

Bersamaan gencarnya usaha Pemda Kabupaten Rembang menjadikan Desa Karangturi, Lasem sebagai kawasan cagar budaya, pada awal tahun 2019 ini dunia pelestarian ditampar oleh dibongkarnya salah satu rumah kuno di sana.

Padahal pada bulan Mei 2018, di permukiman Tionghoa desa tersebut telah diadakan Workshop Pelestarian Bangunan Gedung Cagar Budaya dengan tujuan dapat memberikan semangat masyarakat Rembang, khususnya Kecamatan Lasem untuk menjaga, melestarikan dan peduli terhadap bangunan-bangunan cagar budaya yang ada di sekitarnya. Bahkan di desa itu dituliskan kata-kata bijak yang kurang lebih berbunyi ’’membangun rumah baru itu mudah tapi cerita dan kenangan yang pernah ada tidak akan pernah terulang.’’ Melihat kondisi pada pertengahan ¡¡2018, rumah antik berdinding putih dengan kusen berwarna coklat susu ini masih menunjukkan kekuatannya.

Orang yang melintas dapat mengintip keindahannya melalui jeruji kayu pada pagarnya yang tinggi itu. Selain indah, tentu saja bangunan yang didirikan pertengahan abad 19 ini memiliki sejarah yang khas di antara bangunan yang lainnya, sehingga oleh masyarakat diakui sebagai bangunan bersejarah dan pantas dilestarikan sebagai bangunan cagar budaya. Peringatan dari pemerintah daerah setempat tidak diindahkan oleh pemiliknya.

Pemandangan tragis ini dapat dilihat pada foto di bawah ini. Rumah sudah dibongkar habis di awal Januari 2019, hingga akhirnya seluruh atap, kayu dan tiang besar rumah ini dibongkar dan hanya tersisa dinding-dindingnya.

Bagaimana hal tersebut dapat terjadi, sementara Pemda Rembang sejak tahun 2012 sudah berkomitmen untuk melestarikan bangunan cagar budaya dengan mengajukan diri untuk ikut serta dalam kegiatan Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP) dan memiliki Perda No. 5 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Cagar Budaya di Kabupaten Rembang. Apakah karena kurangnya keikutsertaan masyarakat dalam rencana ini, ataukan ketidakpedulian pemiliknya. Dan apakah Pemda di berbagai daerah berani menindak keras pelanggaran ini. Haruskah kejadian berulang terus, menunggu rusak baru ditindak secara hukum. Motivasi utama pemilik melestarikan adalah memahaminya sebagai harta warisan dengan memanfaatkan atau menempatinya.

Selain itu nilai investasi juga menjadi pertimbangan penting untuk mempertahankan. Sementara itu bagi pembeli baru mungkin bukan nilai warisan dan sejarah lingkungan yang menjadi pertimbangan, tetapi sematamata nilai lokasi strategis dan sisi komersialnya. Tetapi mungkin belum terpikirkan oleh pemilik baru rumah antik tersebut, dan memilih memindahkan keantikannya ke lokasi lain.

Terkuat

Bila melihat isi Undang-Undang Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010, Kepemilikan adalah hak terkuat dan terpenuh terhadap Cagar Budaya dengan tetap memperhatikan fungsi sosial dan kewajiban untuk melestarikannya.

Bangunan-bangunan rumah tinggal di kawasan Desa Karangturi, Lasem memang belum ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya, tetapi menurut para pakar pelestarian, segala upaya Pemda Rembang sebenarnya sudah memiliki kekuatan hukum untuk dipatuhi para pemilik bangunan-bangunan kuno tersebut.

Pada dasarnya setiap bangunan memiliki nilai yang patut untuk dijaga dan dilestarikan supaya ke depan bangunan tersebut dapat menjadi suatu tolak ukur perubahan bangunan dari masa ke masa. Untuk melestarikannya maka bangunan kuno dapat terus digunakan, baik sesuai fungsi aslinya atau fungsi baru. Kerusakan dan penyesuaian bsa dilakukan dengan pemugaran. Contoh bahwa pemugaran dan pemanfaatan bangunan kuno bisa dikata sebagai tindakan penghematan biaya dan penggunaan bahan baru, dibuktikan oleh pemugaran terpujikan yang dilakukan pemilik Gedung Spiegel Bar & Bistro di Kota Lama Semarang.

Bangunan toko tahun 1895 itu sempat mangkrak puluhan tahun, kemudian dipugar dengan diberi tambahan perkuatan untuk lantai duanya. Dinding dan pintu jendelanya dirawat lalu dicat baru tanpa perlu membeli bata dan kayu lagi. Masih mencontohkan bentuk pemanfaatan bangunan di kota lama. Kali ini bangunan berarsitektur sederhana tetapi memiliki ruang-ruang luas.

Contohnya Gedung Van Dorp yang dahulu adalah percetakan di jalan Belanda. Bangunan yang telah terbengkalai ini oleh pemiliknya kembali dimanfaatkan untuk fungsi baru wisata indoor Museum Tiga Dimensi. Sementara eksterior bangunan dipelihara seperlunya saja.

Pemanfaatan jenis ini mendapat pro dan kontra dari masyarakat Semarang. Bekerja untuk sebuah warisan bersifat kompleks. Perlu upaya segera dari pemerintah daerah dan para ahli pelestarian.

Bagaimana membuat pemilik menghargai nilai kesejarahan, mematuhi berbagai persyaratan dan perundangundangan, dalam konteks pertimbangan kelayakan ekonomi. Tetapi Pemda juga harus sadar bahwa kewajibannyalah mendudukkan aset warisan budayaa tersebut dalam perencanaan kotanya, menciptakan kreatifitas dan kompromi yang masuk akal, sehingga pemilik dapat merasakan kemudahan dan manfaat besar dari pelestarian, sehingga tidak ragu lagi untuk mempertahankan dan memanfaatkan propertinya.

Contoh bahwa pemugaran dan pemanfaatan bangunan kuno bisa dikata sebagai tindakan penghematan biaya dan penggunaan bahan baru, dibuktikan oleh Gedung Spiegel Bar & Bistro di Kota Lama Semarang. Bangunan toko tahun 1895 itu sempat mangkrak puluhan tahun, kemudian dipugar dengan diberi tambahan perkuatan untuk lantai duanya. Dinding dan pintu jendelanya dirawat lalu dicat baru tanpa perlu membeli bata dan kayu lagi. (53)

Ratri Septina Saraswati | Bidang Kajian dan Pelestarian IAI Daerah Jawa Tengah, Dosen UPGRIS