Pelatih Fisik PSIS, Budi Kurnia

Bebaskan Biaya Siswa yang Pandai Mengaji

SM/M Alfi Makhsun : Jafri Sastra : Budi Kurnia
SM/M Alfi Makhsun : Jafri Sastra : Budi Kurnia

Potret sepak bola Indonesia yang setiap tahun tidak luput dari insiden kekerasan antarpemain, membuat hati Budi Kurnia prihatin. Mendapat kesempatan mendirikan sekolah sepak bola (SSB) di kampung halamannya Garut, Jawa Barat, pelatih fisik PSIS Semarang ini memasukkan unsur religi untuk membentuk karakter pemain sepak bola. Dia berharap, hak itu bisa dia tularkan saat berkiprah bersama Laskar Mahesa Jenar.

HARI mulai petang saat Budi (29) mengakhiri sesi latihan bersama 80 anak di lapangan Desa Suka Rame, Garut. Tidak seperti agenda SSB kebanyakan yang setelah latihan para siswa berangsur pulang, sebagian besar siswa tetap berkumpul mesk orang tua sudah menunggu di pinggir lapangan. Berada di ruang sederhana di samping lapangan, anak-anak duduk rapi setelah mengambil air untuk membersihkan diri. ‘’Setelah anak-anak berkumpul saya tawarkan, siapa yang berani menghafal Surat Al Falaq?,’’cerita Budi.

Tidak hanya satu-dua anak yang berani maju ke depan. Budi mengungkapkan para anak tidak sabar ingin tampil di depan rekan-rekannya dan melantunkan hafalan surat pendek itu.

Hafalan surat pendek sudah menjadi ciri khas SSB Budi Kurnia Soccer House (BK Soccer House). Kebiasaan ini dimulai dua pekan setelah dia dan rekan-rekan sejawat mendirikan SSB, akhir November 2018 lalu. ‘’Saya menerapkan kebijakan, siswa yang pandai mengaji atau minimal hafal beberapa surat pendek akan digratiskan biaya iuaran mingguan hingga bulanan. Hal ini saya terapkan demi membangun karakter pesepak bola muda kita sejak usia 10, 12, 15, hingga 17 tahun. Dengan demikian, ke depan, saya harap tidak ada lagi pemain yang suka berkelahi dengan lawan, wasit, bahkan penonton,’’ ungkap pria kelahiran Garut, 28 September 1989 ini.

Selain sebagai pendiri, Budi juga menjabat sebagai Direktur Teknik SSB. Saat dia melatih PSIS di Semarang dan tim di Magelang, ada yang sudah dia beri tanggung jawab untuk menangani puluhan anak didiknya di Garut.

Mereka yang membantu mengembangkan BK Soccer House, yakni mantan pemain Pelita Jawa Purwakarta Dadang Koswara yang menjabat sebagai pelatih teknik, manajerial dan penjaskes Haris, serta pemangku ITdan dokumentasi Said. ‘’Pada 2012, saya mendirikan SSB Tanjung Raya di tempat sama. Namun siswa yang ikut tidak terurus karena saya ada di Semen Padang U-21 saat itu, SSB tidak aktif. Alhamdulillah, pada akhir kompetisi Liga 1, banyak yang mendorong saya membuat SSB lagi dan ada rekan yang mendukung,’’ lanjut Budi.

Resmi meneken perpanjangan kontrak sebagai pelatih fisik PSIS dalam dua tahun ke depan, putra pasangan Didi Supardi dan Maryam ini tidak khawatir akan keberlangsungan BK Soccer House. Bahkan dia siap jika nantinya di Semarang ada permintaan klub atau pegiat sepak bola setempat untuk mengembangkan konsep SSB yang sama.

Kehormatan

‘’Tentu menjadi kehormatan jika di Semarang saya juga bisa ikut andil bagian dalam pengembangan pesepak bola muda. Sambutan di kampung halaman saya sangat bagus. Jika di Semarang nanti seperti itu, saya akan sangat senang. Namun tentu yang utama bagi saya, saat musim kompetisi sudah mulai, tetap fokus di skuad PSIS,’’ ujar pelatih berlisensi C nasional yang pada Januari 2019 ini akan mengikuti kursus C AFC di Bali tersebut.

Sambutan atas pendirian BK Soccer House memang sangat bagus. Terbukti, saat latihan perdana, SSB langsung diikuti 30 siswa. Budi menceritakan di latihan minggu kedua bertambah menjadi 50 siswa dan pekan ini menjadi 80 siswa. Selain dukungan masyarakat, peran publikasi lewat media sosial dan rangkaian acara goes to schoolmenjadi kunci untuk menarik minat orang tua dan anak itu sendiri. Apalagi pria yang juga sedang mengerjakan tesis Jurusan Pendidikan Olahraga di Universitas Negeri Jakarta ini menjadi bagian dari Laskar Mahesa Jenar.

Klub yang musim ini berada di peringkat 10 klasemen akhir Liga 1. ‘’Apa yang saya lakukan ini selain usaha dalam menelurkan pesepak bola yang berkarakter baik, juga ingin menginspirasi ke dunia pembinaan sepak bola. Semoga maraknya kekerasan di lapangan hijau bisa berkurang dari tahun ke tahun,’’ harap pria yang hobi wisata kuliner ini. (M Alfi Makhsun-41)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar