Tol Bawen-Jogja Buka Akses Pariwisata

SEMARANG- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berharap akses ke tempat pariwisata tetap diakomodasi dalam pembangunan Tol Bawen- Yogyakarta. Saat ini pembangunan sampai tahap lelang pekerjaan.

Kepala Bappeda Jateng Sujarwanto Dwiatmoko mengatakan, Kemendagri belum mengeluarkan hasil evaluasi Perda RTRWJawa Tengah. Alasannya, masih menunggu persetujuan substansif dari Kementerian Agraria. ‘’Proses evaluasi tata ruang di Kemendagri menunggu dari Kementerian Agraria. Namun karena Tol Bawen-Yogyakarta merupakan program nasional, maka harus didukung. Saat ini sudah tender,’’ kata Sujarwanto, kemarin.

Menurutnya, tol akan menambah akses ke tempat-tempat pariwisata. Salah satunya Borobudur. Sesuai rencana terdapat pintu tol yang berjarak 1 km dari Borobudur. ‘’Terpenting ada interchange- nya. Interchange tetap di Palbapang, pertigaan Borobudur dan Muntilan. Jadi, kurang lebih sekitar 1 km menuju Borobudur,’’katanya.

Dia juga menjelaskan, pengembangan kawasan wisata yang ada di Jateng-DIY tidak hanya mengandalkan pembangunan tol saja. PTKereta Api Indonesia (KAI) juga mendukung mobilitas masyarakat, terutama sektor pariwisata dengan menghidupkan kembali jalur kereta api. Bahkan tidak menutup kemungkinan, ada jalur kereta api menuju Borobudur. ‘’Jadi, nanti ada kereta api dari Kedungjati- Ambarawa-Magelang-Yogyakarta. Ini tentu sangat bagus bagi perkembangan pariwisata di Jawa Tengah,’’ujarnya.

Rencananya, KAI akan menghidupkan jalur dengan panjang 121 km dari Ambarawa ke Yogyakarta. Dari 121 km itu, 42 km merupakan jalur rel kereta api lama dan sisanya jalur baru. Termasuk, beberapa stasiun lama juga direvitalisasi, seperti Stasiun Kedungjati, Tuntang, Ambarawa, dan Bedono.

Gubernur Ganjar Pranowo mengaku sepakat ada penyesuaian rute yang menjadi polemik karena khawatir sejumlah situs cagar budaya bakal terdampak tol. Misalnya, di sekitar Candi Borobudur untuk ruas Bawen-Yogyakarta dan sekitar Candi Prambanan di ruas Solo- Yogyakarta. Rute tol diharapkan tidak menerabas situs-situs penting tersebut. ‘’Ya jelas tidak boleh melintasi Borobudur dan Prambanan, tapi aksesibilitas harus bisa menuju ke dua titik itu. Secara teknis biarkan insinyur menghitung, kita kasih rambu-rambu. Target jalannya apa sih?

Mau lurus agar cepat dan juga menjual pariwisata? Kalau desain sudah ada langsung paparan. Kalau perlu paparan di depan Pemprov Jateng dan DIY agar bisa sepakat nyari solusi,’’kata Ganjar. (H81-41)


Berita Terkait
Loading...
Komentar