Pembentukan Karakter dalam Widyawisata

Oleh Maul Kholishoh

"Kegiatan widyawisata bisa menjadi salah satu kegiatan yang mendukung keberhasilan program penguatan pendidikan karakter yang menyasar anak-anak usia sekolah di semua jenjang pendidikan"

WIDYAWISATA telah menjadi agenda tahunan di semua tingkatan sekolah, dari PAUD, SD, SMP, SMAsampai perguruan tinggi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, widyawisata adalah perjalanan keluar (daerah, kampus, dan sebagainya); kunjungan dalam rangka menambah ilmu pengetahuan.

Widyawisata yang disebut juga study tour, piknik sekolah, ataupun tamasya sekolah itu biasanya diadakan di akhir semester ganjil ataupun akhir semester genap. Kegiatan ini menjadi salah satu yang dinanti oleh peserta didik dan orang tua siswa karena diharapkan peserta didik akan mendapatkan tambahan ilmu dari luar bangku sekolah. Salah satunya adalah pembentukan karakter yang bermakna akhlak, budi pekerti, kepribadian (KBBI hal 623).

Pada umumnya, destinasi widyawisata tingkat PAUD adalah tempat-tempat yang bernilai istimewa, unik, antik, dan bersejarah di lingkungan terdekat peserta didik. Contohnya di Kota Semarang, peserta didik diajak ke Pantai Marina untuk memperdalam rasa cinta kepada Tuhan YME atau ke Lawang Sewu untuk melihat hasil cipta dan kemajuan teknologi bangunan pada masa lalu.

Hal itu dilakukan untuk mengajarkan kepada anak agar selalu berkreasi dan menciptakan sesuatu yang istimewa sejak dini hingga terbiasa menjadi pribadi yang istimewa pada masa mendatang dengan hasil karya yang istimewa pula. Widyawisata tingkat SD, peserta didik akan dikenalkan dengan objek wisata andalan tingkat provinsi seperti Candi Borobudur untuk peserta didik Kota Semarang.

Mereka dikenalkan pada objek wisata peninggalan masa kerajaan yang bernilai kelas dunia. Mereka diajak melihat langsung dengan tujuan meletakkan kemampuan daya kreasi dan inovasi yang bernilai tinggi. Diharapkan pada masanya kelak, mereka mampu menghasilkan karya-karya yang spektakuler dan berkelas dunia seperti nenek moyang mereka yang telah memberikan contoh peninggalan. Pada tingkat SMP, lokasi wisata yang biasanya dikunjungi adalah objek wisata di luar provinsi.

Melalui kegiatan ini, peserta didik diajak untuk lebih mengenal lingkungan yang berbeda dari lingkungan terdekatnya untuk menumbuhkan wawasan. Pada umumnya, salah satu destinasi tujuan adalah Kota Jakarta yang merupakan ibu kota RI agar peserta didik semakin cinta kepada negerinya.

Kemajuan Intelektual

Pada SMA, peserta didik pada umumnya diarahkan ke destinasi wisata bertaraf internasional. Pulau Bali bisa menjadi salah satu pilihannya. Peserta didik tidak hanya bisa menikmati keindahan dan keeksotisan Pulau Dewata, namun juga meningkatkan kemajuan intelektual mereka mulai dari ranah akademik hingga yang lainnya.

Contohnya, peserta didik bisa melakukan praktik komunikasi dengan bahasa asing secara langsung dengan wisatawan mancanegara, melihat dari dekat prospek keindustrian pariwisata, dan lain sebagainya. Selain itu, peserta didik bisa menjadikan Bali sebagai sarana untuk belajar mengembangkan dunia wisata berskala internasional baik tradisional maupun supermodern.

Mereke juga bisa belajar mengenai praktik kewirausahaan karena tersedia pula komoditas kerajinan tangan yang bervariasi dengan nilai jual yang kompetitif. Dari paparan tersebut, dapat disimpulkan, kegiatan widyawisata bisa menjadi salah satu kegiatan yang mendukung keberhasilan program penguatan pendidikan karakter yang menyasar anak-anak usia sekolah di semua jenjang pendidikan.

Hal tersebut ditujukan untuk memperkuat nilai-nilai moral, akhlak, dan kepribadian peserta didik dengan memperkuat pendidikan karakter yang terintegrasi ke dalam mata pelajaran (RPJMN 2015-2019). Dengan demikian, kelima nilai utama karakter bangsa yang terdiri atas nilai religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas sudah terserap tuntas. Peserta didik diharapkan menjadi pribadi yang mampu mengembangkan minat, bakat, dan karakter yang siap menghadapi tantangan global dengan memperkuat kemampuan adaptasi melalui penumbuhan nilai-nilai religiusitas dan kearifan lokal bangsa. (40)

--Maul Kholishoh SPd MSi, guru ekonomi SMA 4 Semarang.


Berita Terkait
Loading...
Komentar