Digital Natives dan Revolusi Perguruan Tinggi

Oleh Ardian Adhiatma

REVOLUSI kehidupan manusia mengalami percepatan yang luar biasa pada beberapa tahun terakhir ini. Memasuki tahun 2010 era ekonomi bergeser ke leisure economy yang didominasi oleh kebutuhan akan hospitality, rekreasi, dan hiburan. Konsep blending antara pekerjaan dan hiburan menjadi salah satu ciri pada era ekonomi ini.

Masyarakat membutuhkan hiburan di tengah tengah ritme menyelesaikan pekerjaan dan kepuasan spiritual menjadi pemenuhan kebutuhan jiwa yang lebih dominan. Konsep ini yang biasa disebut sebagai bleisure (business and leisure) serta spleisure (spiritual and leisure). Pemicu pergeseran revolusi kehidupan tersebut juga didorong dengan adanya kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat. Aplikasi ICT mempermudah akses penyelesaian pekerjaan dan pencarian hiburan untuk mencari kesejahteraan spiritual yang lebih hakiki. Hampir semua lapisan masyarakat menyetujui bahwa kemajuan teknologi membawa dampak pada sendi-sendi kehidupan mereka.

Sementara itu, fenomena global menunjukkan 65% anak-anak yang memasuki bangku sekolah dasar pada hari ini akan memasuki kehidupan kerja yang saat ini mungkin tidak ada dan kemungkianan akan ada pekerjaan sekarang yang akan hilang di masa depan (World Economic Forum, 2016). Dalam lanskap pekerjaan yang berkembang pesat dengan tantangan masa depan yang tidak jelas (uncertainty), kemampuan untuk mengantisipasi kebutuhan keterampilan masa depan menjadi semakin penting untuk keberlangsungan sebuah bisnis dan kehidupan individu.

Hal ini memaksa kita untuk sepenuhnya menangkap peluang yang disajikan oleh tren ini dan berupaya untuk mengurangi hasil-hasil atau dampak negatif yang tidak diinginkan. Leisure economy pada era sekarang menuntut angkatan kerja untuk memiliki kompetensi digital dan pengetahuan tentang cara memanfaatkan teknologi di tempat kerja berikut perkembangan dan perubahannya. Kombinasi antara kompetensi digital dan kekuatan kemajuan teknologi membawa dampak perubahan radikal di elemen-elemen kehidupan sosial dan bisnis.

Akan tetapi, kita juga harus mengenali pengaruh penggunaan teknologi terhadap pekerjaan dan kualitas hidup. Angkatan kerja dengan kompetensi digital biasa terbagi menjadi dua macam, yaitu digital native dan digital immigrant. Digital native adalah individu yang lahir atau tumbuh dewasa pada zaman teknologi digital sehingga mereka cenderung akrab dengan komputer dan internet sejak usia dini. Adapun digital immigrant adalah orang yang sudah tumbuh dewasa dan sudah siap menggunakan teknologi karena telah tersedia perangkat yang memfasilitasi interaksi manusia-komputer, robotik, dan kecerdasan buatan.

Generasi digital native sering dicirikan sebagai generasi yang memiliki tingkat kefasihan digital (digital dexterity) yang tinggi karena sifat teknologi yang menyatu dalam kehidupan mereka (Bennett, Maton, & Kervin, 2008; Oblinger & Oblinger, 2005). Generasi ini memiliki beberapa tantangan hidup di antaranya pengembangan identitas diri dan penurunan sikap empati dan simpati terhadap sesama yang diakibatkan perkembangan teknologi informasi. Mereka terancam memiliki multi identity atas kehidupan ganda, yaitu dunia nyata dan dunia maya, kehilangan kesadaran diri untuk berperilaku sesuai keasliannya dan terdisrupsinya hubungan interpersonal.

Kompetensi Dasar

Untuk mengatasi beberapa permasalahan tersebut, digital native diharapkan memiliki kompetensi dasar, yaitu kemampuan untuk berpersepsi dan bermanipulasi, kemampuan kreatif dan keterampilan sosial. Kemampuan berpersepsi dan manipulasi di antaranya adalah memiliki ketrampilan pada jari dan manual body (finger dexterity and manual dexterity). Sementara itu, di bidang akademik, kompetensi yang harus ditanamkan kepada para digital native adalah critical thinking and problem solving, kreativitas dan inovasi, komunikasi, kolaborasi.

Literasi digital meliputi literasi informasi, literasi media, dan literasi teknologi informasi. Career and life meliputi fleksibilitas dan adaptabilitas, mampu berinisiasi dan mengarahkan diri sendiri, mampu berinteraksi dengan golongan sosial mana pun dan lintas budaya dan jiwa kepemimpinan serta tanggung jawab. Lembaga pendidikan tinggi merupakan salah satu tempat untuk menguatkan keterampilan gamification yang dibutuhkan para calon angkatan kerja digital native.

Selain keterampilan penguasaan teknologi informasi, kekuatan akhlak juga menjadi fondasi yang tidak kalah penting untuk diperhatikan. Penurunan empati dan simpati, multi-identitas dan membuang waktu percuma untuk kebutuhan yang tidak penting akan bisa di atasi jika para kaum digital natives ini mampu memahami bahwa revolusi kehidupan adalah sebuah bukti nyata kebesaran Ilahi. Mau tidak mau, suka tidak suka, kemajuan teknologi secanggih apa pun akan disadari sebagai perwujudan betapa luas ilmu Allah yang dikaruniakan kepada manusia. (40)

--Dr Ardian Adhiatma SE MSi,Ketua Jurusan S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi Unissula.


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar