Tiga Warga Wonosobo Jadi Korban MLM Bodong

Tertahan di Sragen Berbulan-bulan

SM/ M Abdul Rohman  -  AKP Heriyanto
SM/ M Abdul Rohman - AKP Heriyanto

WONOSOBO - Tiga warga asal Wonosobo dilaporkan menjadi korban penipuan dengan modus multilevel marketing (MLM) di wilayah Sragen. Mereka dijanjikan keuntungan penghasilan yang wah. Ternyata, hampir berbulan-bulan mereka bertahan dalam kondisi sangat memprihatinkan.

Bahkan, saat penggerebekan yang dilakukan aparat kepolisian dari Polsek Gemolong, Sragen yang diberitakan sejumlah media, mereka ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Informasi yang himpun, ada sebanyak 17 remaja berusia belasan hingga 20 tahun bernasib malang.

Tiga di antaranya berasal dari Wonosobo. Mereka ditemukan dalam kondisi mengenaskan saat penggerebegan di dua rumah kontrakan di Dukuh Ketagan RT 03, Kelurahan Gemolong, Sragen, Selasa (8/1) petang.

Untuk nama-nama warga Wonosobo yang berhasil dihimpun, antara lain, Agus Ardianto (20) warga Dukuh Seranggede RT 01 RW 08 Desa Serang, Kecamatan Kejajar.

Kemudian, Adi Setiawan (26) warga Dusun Kalitengah RT 01 RW 04, Desa Jengkol, Kecamatan Garung dan satu warga lainnya Yuni Zahrotus Taqia (16) warga yang berdomisili di Dusun Tegalarum RT 01 RW 01, Desa Kejajar, Kecamatan Kejajar, Wonosobo.

“Kejadian di Sragen, jadi kasus ditangani di Polres Sragen,” ungkap Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Wonosobo, AKPHeriyanto kepada Suara Merdeka, Jumat (11/1) sore.

Tunggu Laporan

Mengenai kasus tersebut, kata dia, hingga saat ini pihaknya belum mendapat laporan dari orang tua ataupun keluarga korban. Jadi, kata dia, karena tempak kejadian perkara (TKP) berada di wiayah hukum Sragen, penanganan menjadi kewenangan polres setempat.

Sementara warga Kecamatan Kalibawang, Fikri Pradana mengaku pernah menjadi korban dalam kasus berkedok bisnis MLM tersebut. Ia mengalami sendiri sekitar Juli 2018.

Menurutnya, awalnya pihaknya diajak bermain ke tempat tersebut. Namun, di tempat tersebut dirinya diajak kumpul-kumpul di dalam sebuah gedung. Di dalam mereka berhura-hura dengan orang-orang dari luar daerah.

Setelah itu, kata dia, mereka disuruh menjual produk kesehatan, namun harus menyerahkan modal terlebih dahulu sebesar Rp 8,1 juta.

Dengan uang modal tersebut, mereka mengelabumi korbannya dengan iming-iming penghasilan dalam satu minggu sebesar Rp 20 juta hingga ber miliar-miliar.

Namun, mereka mensyaratkan, agar para korban bisa mencari dua orang lain. “Tetapi sekarang saya tidak tahu nomornya lagi, karena nomor lamanya sudah tidak bisa dihubungi lagi,” terangnya. (mar-26)


Berita Terkait
Loading...
Komentar