Jateng Pusat Industri Mebel Nasional

JATENG disiapkan menjadi pusat industri mebel, khususnya untuk pasar ekspor. Pemprov bersama pemangku kepentingan, termasuk Bank Indonesia (BI) masih survei lokasi yang dibutuhkan untuk menampung investor dari Tiongkok serta industri lokal.

Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng Prasetyo Aribowo mengungkapkan kawasan industri dianggap sebagai tempat strategis, karena memudahkan dalam proses perizinan, apalagi jika sudah memiliki fasilitas kemudahan investasi langsung konstruksi (KILK). Proses ekspor impor pun menjadi lebih mudah dengan lokasi yang menjangkau antardaerah dan pelabuhan. ”BKPM juga meminta Jateng dijadikan pusat industri mebel Indonesia. Kami harus memfasilitasi produsen dalam satu kawasan yang memiliki fasilitas lengkap dari hulu sampai hilir,” tutur dia, kemarin.

Dibutuhkan lahan seluas kurang lebih 50 hektare, dan dengan upaya percepatan kawasan industri dinilai paling memungkinkan untuk merealisasikan hal tersebut. ”Tentu dengan komitmen dan harga yang kompetitif untuk menampung investor lengkap dengan fasilitas pendukung,” jelas dia.

Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi BI Jateng Rahmat Dwisaputra menyebutkan peninjauan dilakukan ke kawasan industri yang potensial. Dengan akses yang baik dan bisa menjangkau kabupaten atau sentra-sentra industri secara mudah, diharapkan pusat industri mebel atau furnitur bisa berkembang baik. Kendati demikian, lokasi kawasan yang digunakan nanti juga harus memiliki fasilitas lengkap untuk menunjang proses produksi dan distribusi. ”Antara Semarang, Kendal, dan Demak sedang kami kaji. Kami ingin mengajak investor bermitra dengan perusahaan di industri furnitur dan pendukung lain, misalnya tekstil atau logam sebagai bagian di dalamnya,” ujar Rahmat yang sudah meninjau lokasi Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW) di Tugu, Kota Semarang.

Direktur Operasional PT KIWAhmad Fauzie Nur menambahkan saat ini lahan eksisting yang masih tersedia di KIW78 hektare, dan dengan kebutuhan sekitar 50 hektare masih mencukupi apabila nanti dijadikan pusat industri furnitur. KIW juga sudah menyiapkan analisis kajian Highest and Best Use (HBU) untuk pengembangan ke depan terkait dengan konsep residensial, industrial, dan komersial di kawasan tersebut.

”Kami harus menyinkronkan dengan rencana bisnis ke depan; saat ini sedang penyusunan analisis HBU. Jika memang KIWmenjadi lokasi yang dipilih. kami membutuhkan pendetailan apa saja yang dibutuhkan, supaya bisa sinkron dengan rencana korporasi yang untuk jangka panjang kita ingin membangun bisnis yang recurring (terusmenerus- Red)dan sustainable (berkelanjutan- Red),” tandas Fauzie. (Modesta Fiska-18)


Loading...
Komentar