Ulama Panutan

KH. Ahmad Fayumi Munji, Ahli Falaq Jateng

KH Ahmad Fayumi Munji adalah sosok kiai yang kemampuannya multi dimensi.

Selain pakar di bidang fikih yang dibuktikan dengan aktivitasnya dalam forum bahtsul masail diniyah di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU), beliau juga ahli falak yang hasil hitungan falaknya menjadi rujukan umat, khususnya dalam penentuan awal Ramadan dan Syawal. KH Ahmad Fayumi rajin ke masjid Kajen untuk membetulkan waktu shalat sehingga pelaksanaan shalat tepat waktu.

Penulis pernah diajari secara pribadi ilmu falak ini, tapi karena memang bukan ahlinya, sampai sekarang masih belum mampu. Hal ini menunjukkan Kiai Fayumi sangat senang jika ilmunya berhasil diwarisi para santrinya.

Memang sampai sekarang, ilmu falak termasuk ilmu yang langka. Hanya orang-orang tertentu yang mampu memahami ilmu ini. Penulis diberi kesempatan Allah Swt belajar di pondok asuhan Kiai Fayumi, yaitu Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Kajen Tengah selama kurang lebih tiga tahun.

Teladan bagi Santri

Selama tiga tahun di pondok Raudlatul Ulum, penulis melihat, merekam, dan mereguk lautan ilmu dan hikmah dari Sang Kiai. Kiai pesantren adalah pusat segala-galanya, sehingga semua ucapan, tindakan, dan perilakunya menjadi teladan para santri. Santri yang baik selalu menjadikan kiainya sebagai teladan, sehingga ia mampu menyerap dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat yang membawa berkah di dunia dan akhirat. Menurut KH. Ahmad Mustain Syafii (Asmani, 2007), kiai pesantren lebih mengedepankan aspek tarbiyah (mendidik santri dengan internalisasi nilainilai) dari pada taklim (mengajarkan ilmu-ilmu). Inilah keunggulan utama pesantren sebagai lumbung pendidikan karakter bagi anak bangsa.

Dari rahim pesantren, lahir tokohtokoh hebat, seperti KH M Hasyim Asyíari, KH Abdul Wahab Hazbullah, KH Bisyri Syamsuri, KH Abdul Wahid Hasyim, KH Abdurrahman Wahid, KH MA Sahal Mahfudh, KH Zubair Dahlan, KH Ahmad Fayumi Munji, KH Maimun Zubair, dan KH ANafií Abdillah.

Selama penulis di pondok, banyak kitab yang dikaji Kiai Fayumi, seperti Nuur al-Dhullam, Sullamul Munajat, Tahrir, Tausyih ala Fathil Qarib, Nashaihul Ibad, Anwarul Masalik, Al-Adzkar, dan masih banyak lagi.

Kiai Fayumi termasuk kiai yang sangat mencintai kitab kuning, sehingga beliau akan tetap membaca kitab, meskipun kondisinya kurang sehat, terutama pita suaranya yang terganggu.( Jamal Maímur Asmani, Peneliti Leska (Lembaga Studi Kitab Kuning) Pati-23)


Berita Terkait
Loading...
Komentar