Film Dakwah dan Dakwah Film

SM/Agus Fathuddin : SEMINAR DAN LOKAKARYA FILM : Para peserta Seminar dan Lokakarya (Semiloka) Pesan Film sebagai Media Dakwah foto bersama Penulis ”Ayat-Ayat Cinta” Habiburrahman El Shirazy, Prof Dr Abdul Muhaya MA, dan Prof Dr Mudjahirin Thohir.(23)
SM/Agus Fathuddin : SEMINAR DAN LOKAKARYA FILM : Para peserta Seminar dan Lokakarya (Semiloka) Pesan Film sebagai Media Dakwah foto bersama Penulis ”Ayat-Ayat Cinta” Habiburrahman El Shirazy, Prof Dr Abdul Muhaya MA, dan Prof Dr Mudjahirin Thohir.(23)

Film merupakan cabang seni yang sangat dekat dan tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Seni dipandang sebagai sarana untuk mengungkapkan pengalaman kehidupan terhadap realitas kejiwaan dan sosial yang sangat kompleks.

Untuk mengekspresikan pengalamannya, manusia menggunakan cara dan simbol yang berbeda. Jika pengalamannya cukup sederhana, manusia cenderung mengekspresikan dengan tutur kata atau isyarat (body language). Tetapi jika pengalamannya kompleks dan sensitif, manusia akan menyampaikan melalui seni.

”Melalui seni, manusia berusaha mengungkapkan kebenaran yang bersifat eksistensial (nyatanya seperti apa), kebenaran yang ambigu (ketidakjelasan) dan bahkan terkadang paradok. Seni berkaitan dengan rasa bukan logika dan kata-kata. Seni bertujuan untuk memenuhi kebutuhan batin, karena itulah seni dikaitkan dengan etika dan estetika. Namun dalam perkembangannya, seni sering tidak selalu berkaitan dengan dua hal tersebut,” kata Dr H Abdul Muhaya, MA, Ketua Komisi Pengembangan Seni dan Budaya Islam MUI Jateng dalam Semiloka Film sebagai Media Dakwah di Hotel Semesta Semarang, belum lama ini.

Nara sumber lainnya, Habiburrahman El Shirazy menyatakan, berbeda dengan ragam seni lain, film memiliki posisi yang istimewa. Film merupakan gabungan karya-karya seni puncak yang diramu secara audiovisual dengan melibatkan teknologi tinggi. Seni teater, seni musik, karya sastra, tata lampu dan kamera, fesyen, dan sebagainya menyatu dan dapat dinikmati dalam satu karya seni film.

Media Dakwah

Jika digarap dengan baik dan berkualitas, film dapat mempengaruhi dan mengadukaduk perasaan penonton untuk melakukan atau tidak melakukan, persis seperti yang diinginkan dalam film. Novelis Ayat-ayat Cinta yang akrab dipanggil Kang Abik menambahkan, anakanak yang menonton film 10 menit saja, dapat menghilangkan seluruh pelajaran yang diberikan oleh guru seharian penuh di sekolah. Bahkan, dengan mengutip pendapat Khalid Hindawi, 1 (satu) film islami yang berkualitas sama nilai dengan 1.000 (seribu) buku islami.

Dengan keunggulan yang dimiliki, film dapat menjadi salah satu media dakwah yang menarik, inspiratif, tidak menggurui dan dapat menyentuh semua lapisan masyarakat. Oleh karena itu, para santri dan mahasiswa muslim harus melirik dunia film untuk memberikan alternatif tontonan yang bermutu dengan tetap berpijak pada nilai agama di tengah gempuran film-film nasional dan impor yang menonjolkan kekerasan, sadisme, horo,r dan seksualitas.

Bahkan sering kali, film digunakan untuk mendiskreditkan umat Islam, melalui penanaman stigma radikalisme dan terorisme yang tidak disadari oleh penontonnya. Narasi negatif tentang Islam yang disebar- luaskan melalui film mesti dilawan dengan memperbanyak produksi film yang menampilakan wajah Islam yang moderat dan teduh.

Dalam masalah film, dunia Islam sangat tertinggal jauh dengan Barat. Salah satu hal yang membuat umat Islam tidak kreatif dalam berkesenian karena cara pandang ulama yang terlalu kaku dalam melihat film. Tidak bisa dipungkiri bahwa film merupakan sarana hiburan yang tidak selamanya menampilkan tayangan yang baik dan layak tonton. Tak jarang malah ada suguhan pornografi, pornoaksi dan kekerasan, termasuk suguhan yang membahayakan akidah umat Islam.

Karena itulah, sebagian ulama mengatakan bahwa film itu hanyalah sarana berbuat maksiat (alat al-malahi), tidak ada manfaatnya dan sering membuat penonton lupa melaksanakan kewajibannya. ”Kebanyakan ulama fikih tegas menyatakan bahwa film (dan ekspresi seni pada umumnya) itu haram hukumnya,” kata Abdul Muhaya.

Berbeda dengan ulama fikih, ulama sufi justru dapat menerima dan menjunjung tinggi ekspresi estetis sebagai bentuk ungkapan cinta dan rasa syukur kepada Allah Swt. Sebagai Yang Maha Indah, Allah Swt sangat mencintai keindahan (inna Allah jamil, yuhibb al-jamal).

Berdasarkan hal ini, maka dakwah yang dilakukan dengan indah lebih dicintai oleh Allah Swt daripada dakwah yang dilakukan dengan tidak indah. Pesan dakwah lewat film tidak hanya monoton dengan dialog (kata-kata), tetapi juga perilaku, musik, pakaian dan gambar.

Ulama fikih kontemporer, Yusuf Qardhawi menilai bahwa kedudukan film itu mubah hukumnya. Bila film itu digunakan untuk tujuan dakwah, seperti film Umar ibn Khattab, Uwais al-Qarni atau Sunan Kaliga, tentu hukum membuat dan menonton film menjadi sunah atau setidaknya mubah. Tetapi kalau film dibuat untuk tujuan kemaksiatan, maka hukumnya tidak jauh-jauh beda dengan hukum berbuat dosa.

Karena itu, kata Abdul Muhaya, menetapkan hukum menonton film tanpa tahu isi film yang ditonton adalah tindakan gegabah. Sebab, tidak sedikit pesan baik yang bisa diambil dari film tersebut.(Abu Rokhmad Musaki, Dosen FISIP UIN Walisongo-23).


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar