PITUTUR

Adhang-adhang Tetese Embun, Pasrah Peparing Marang Gusti

(Menunggu tetesnya embun, berserah diri kepada karuniaTuhan) Ada yang mensalah- artikan pitutur di atas dengan mengatakan bahwa orang tua kita bukan pekerja keras, mereka hanya pasrah menunggu karunia Tuhan. Nah mari kita cermati wewarahitu.

Kalimat adhang-adhangitu kalimat aktif bukan menunggu dengan pasif. Mereka memposisikan diri sedemikian rupa, mata tak berkedip, pasang telinga baik-baik, kaki siap melangkah, tangan siap menjemput. Itulah posisi seseorang pada sikap adhang-adhang. Adhang-adhangitu dilakukan sesudah mereka dengan sungguhsungguh berusaha. Mengapa adhang-adhang?

Ya, karena mereka menyadari keterbatasan diri, bahwa apa yang diharapkan nya tak mungkin terwujud tanpa kehendak Tuhan meski bagaimanapun kita berusaha. Apa yang diadang ?

Tetese embun. Hanya setetes embun ?

Oh tidak begitu mengartikannya. Milik Tuhan yang akan dikaruniakannya kepada kita itu banyak sekali, tak mungkin kita menghitungnya dan pemberiannya kepada kita dilakukan secara bertahap sepanjang hidup kita dan sesuai dengan kesiapan kita menerimanya. Seandainya karunianya kepada kita itu diberikannya sekaligus tentu tak mungkin mampu kita menerimanya, bahkan kita akan ”glagepan” dan tak bisa menikmati dan memanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sepanjang hayat kita.

Orang tua kita adalah petani yang bercocok tanam di sawah, di kebun dan di lahan-lahan yang bisa ditanami. Mereka mencangkul, membajak, menanam benih, memberi rabuk dari berbagai rabuk yang diperoleh, mereka menyirami, menyiangi dan memanen.

Sebagian mereka menanam dan memanen buah-buahan di kebun, sebagian lagi mencari ikan di sungai dan di laut. Semua dilakukan dengan tenaga bukan dengan mesin seperti sekarang. Kuno memang, tapi itu membuktikan bahwa orang tua kita itu pekerja keras. Meskipun demikian mereka tetap percaya akan ke Maha-kuasaan Tuhan, Maha Mengaturnya Tuhan dan tentu Maha Kasih dan Sayangnya Tuhan.

Subhanallahbetapa kerja keras mereka, betapa ikhlasnya mereka. Mari kita baca Surah As Syuraayat 27 : ”Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hambaNya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi. Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh Dia Maha Teliti terhadap (keadaan) hambahambaNya (dan) Maha Melihat. (Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah- 23)


Berita Terkait
Loading...
Komentar