Banyumas Layak Diperhitungkan

SM/dok
SM/dok

ANGKA kunjungan 2,35 juta wisatawan sejatinya membuat Kabupaten Banyumas menjadi salah satu destinasi wisata diperhitungkan di Jawa Tengah. Begitu pula dengan Baturraden yang masih menjadi ikon dan magnet wisata.

Pengamat pariwisata Universitas Jenderal Soedirman, Drs Chusmeru MSi menyebutkan, peningkatan kunjungan ini dipengaruhi faktor promosi melalui media sosial, penambahan wahana dan atraksi wisata, baik yang dikelola pemerintah maupun swasta, berhasil menarik kunjungan wisata. "Faktor lainnya, bencana yang melanda daerah lain seperti gempa bumi dan tsunami membuat orang mengalihkan tujuan wisatanya menjadi ke perbukitan.

Baturraden akan menjadi destinasi alternatif bagi wisatawan yang biasanya mengunjungi objek wisata pantai," katanya. Namun, kata pengajar Program Studi Ilmu Komunikasi Fisip Unsoed ini, melonjaknya kunjungan ke Baturraden justru menyisakan persoalan persebaran wisatawan di beberapa destinasi dan objek wisata di Banyumas.

Hal itu tentu saja akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi, iklim investasi serta dinamika sosial budaya yang timpang antara Banyumas di bagian utara dengan timur, selatan, dan barat.

Penumpukan atau dominasi kunjungan di kawasan Baturraden ini, kelak akan menimbulkan permasalahan daya dukung wilayah. Baik dari sisi lingkungan maupun perilaku sosial budaya masyarakat.

Menurut pengajar yang berpengalaman di dunia pariwisata Pulau Dewata ini, tahun 2019 mendatang, desain pariwisata Banyumas perlu memperhitungkan sejumlah hal. Pertama, angka kunjungan wisatawan mancanegara perlu tercatat dengan baik. Hal ini berkaitan dengan pasar wisata potensial yang perlu digarap di luar negeri, serta motivasi kunjungan ke destinasi.

"Berikutnya, lama tinggal dan tingkat hunian hotel perlu dimonitor setiap kali digelar event atau atraksi wisata. Hal ini diperlukan utk mengukur sejauh mana dampak ekonomi event wisata. Biasanya, lama tinggal wisatawan di suatu daerah berkaitan dengan banyaknya pilihan objek, atraksi, dan event di satu destinasi.

Peran desa wisata juga perlu lebih dioptimalkan. Tujuannya agar terjadi distribusi wisatawan ke setiap kecamatan serta menumbuhkan iklim investasi dan perekonomian di desa. Untuk itu perlu dilakukan pelatihan keterampilan manajemen desa wisata, mulai dari perencanaan, pencatatan kunjungan wisatawan, sampai menciptakan inovasi wisata di desa," urainya.

Chusmeru menambahakna, khusus untuk objek wisata yang masih rendah angka kunjungannya, seperti di Kota Lama Banyumas, Museum Wayang, Kalibacin, dan Museum Pangsar Soedirman, Pemkab perlu membantu dengan promosi dan penyelenggaraan event yang lebih banyak. Kerjasama dengan provinsi dan kabupaten lain perlu dilakukan lebih intensif dalam bentuk promosi bersama atau sharing informasi produk wisata.

Selain itu, Pemkab perlu lebih banyak mendengar masukan biro perjalanan dan pelaku wisata terkait destinasi dan event yang memiliki nilai jual di pasar wisata. Tren kunjungan wisata juga perlu mendapat perhatian khusus. "Tahun 2019 seharusnya targetnya bisa lebih. 1,5 juta orang itu sangat realistis," tandasnya. (Nugroho Pandhu Sukmono-20)


Baca Juga
Loading...
Komentar