BACA BUKU

Kisah Tiga Orang dalam Matematika-Kehidupan

JIKA menakar isi atau jenis buku ini berdasar judul, boleh jadi bakal Anda bakal keliru sangka. Ya, judul buku ini menyarankan sebuah kemungkinan: berisi semacam petunjuk, pedoman, patokan, (dalam mempelajari) matematika. Ini sejenis buku manual, sebagaimana bisa kita sangka dari judul Kiat Sukses Hancur Lebur karya Martin Suryajaya.

Padahal, senyatanya, buku karya Triskaidekaman ini, sebagaimana buku Martin, adalah novel, karya fiksi, kisah rekaan. Judul yang mengecoh? Bisa iya, bisa tidak. Mengecoh jika kita terbiasa atau lazim menebak isi buku berdasar judul atau sampul. Tidak jika kita bersedia membaca sejak halaman pertama sampai halaman terakhir. Ini novel baru. Ini baru novel. Begitulah jika boleh (agak) berpromosi.

Novel baru lantaran memang baru saja diterbitkan. Kali pertama terbit April 2018 dan, hanya dalam lima bulan, cetak kedua September 2018. Inilah novel yang menjadi juara I Unnes International Writing Contest 2017 ñ kompetisi penulisan novel yang diadakan Universitas Negeri Semarang (Unnes) untuk kali pertama. Dan, tak butuh waktu terlalu lama, novel juara ini bisa diterbitkan menjadi novel.

Apalagi ini pun, ternyata, adalah buku pertama pula dari sang penulis. Ya, inilah novel debutan Triskaidekaman. Baru novel, ya lantaran - sependek pembacaan saya - inilah novel yang menjadikan (perkara) matematika sebagai basis sekaligus benang merah pengisahan. Tak ayal, penuturan dan pembeberan cerita pun menjadi unik, autentik, dan mengasyikkan.

Mula-mula, membaca novel ini, sampai ke kurang dari 50 halaman, saya rada jenuh. Jujur, saya tak begitu menyukai matematika — sebagai pelajaran, sebagai soal, sebagai pokok perbincangan, kecuali ketika mesti menggunakan untuk menghitung untung-rugi saat berjualan kopi.

Maka, untuk memerangi kejenuhan, saya menyela dengan membaca ulang Drama di Bovel Digul karya Kwee Tek Koay. Namun begitu merasa ngeh dengan model atau moda ungkap dan tuturan berselang-seling bergantian ketika menceritakan tokoh Mantisa dan Prima (serta Tarsa), saya menemukan keasyikan.

Saya lepas novel 761 halaman Kwee Tek Hoay sampai ke halaman 159, dan memilih merampungkan buku ”matematika” Triskaidekaman ini. Celaka, seasyik-asyik membaca, saya acap ”terganggu” oleh pemakaian, peneraan, pemasangan ”ilustrasi” berupa tanda, angka, huruf, rumus, persamaan matematika dalam keseluruhan novel ini. Bukan apa-apa.

Cuma, jujur saja, saya tak suka. Kenapa tak suka? Ya, lantaran saya tak paham segala apa tentang matematika itu. Namun, saya menemu cara pula untuk tetap bisa menikmati karya ini. Cara mangkus: abaikan saja segala tanda, rumus, persamaan itu ñ jika tak paham. Namun jika merasa (agak) paham, ya lumayan: mempergampang pemahaman.

Mengasyikkan

Asyik, benar-benar mengasyikkan. Baru kali ini ñ mungkin lantaran kecublukan saya - membaca novel berbasis penceritaan matametika dan itu bukan kegenitan, bukan kengawuran, bukan asal kreatif, bukan wujud keeksentrikan.

Saya merasa, ya merasa, sang penulis paham benar perkara matematika dan secara sangat korek menggunakan secara optimal pemahaman dan penguasaan itu, sehingga matematika menjadi bukan tempelan, bukan mozaik, bukan teka-teki. Matematika adalah roh sekaligus kerangka penceritaan. Tanpa matematika, kisah ini tak bakal tercipta. Inilah kisah Mantisa, bocah perempuan yang ditinggal mati sang ibu saat melahirkan dia.

Dia kemudian dipasrahkan ke rumah yatim-piatu milik Tari. Inilah pula kisah Prima, bocah lelaki yang tunarungu lantaran kecelakaan selagi bocah ñ terjungkal ke lantai dari boks dengan kepala lebih dulu menyentuh lantai. Inilah kisah Tarsa, bocah lelaki yang terusir dari rumah yaim-piatu Tari lantaran tak pernah bisa melakukan pekerjaan ”baik” dengan tangan kanan - lantaran dia kidal.

Dan, inilah kisah ketiga bocah — Mantisa, Prima, Tarsa — yang terjalin-berkelindan dalam jelujuran matematika-kehidupan. Kisah mereka berjalan secara paralel, lalu kemudian jalin-menjalin, berkelindan menjadi suatu struktur penceritaan yang makin jelas memperlihatkan keterkaitan, kesalinghubungan mereka.

Namun, struktur penceritaan itu sekaligus juga memperlihatkan kerumitan, kompleksitas, kehidupan dan jalan hidup, baik masing-masing sebagai individu maupun bersamasama sebagai sesama makhluk yang terhubung. Sebuah paradoks menarik.

Pola penceritaan berganti-ganti antara Mantisa, Prima, dan (porsi lebih sedikit pada) Tarsa, membuat pembaca mesti menjaga intensitas pembacaan. Pola itu nyaris konsisten, sehingga mempermudah pembaca menemu jelujuran kisah atau benang merah penceritaan.

Kisah menjadi tak berlari terlalu jauh, atau bahkan melenyap dari alur awal yang terbangun. Menarik dan, lagi-lagi, mengasyikkan. (Awangun Busandi Suto, penikmat buku-28)

Judul : Buku Panduan Matematika Terapan
Penulis : Triskaidekaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Kedua, September 2018
Tebal : 359 halaman.


Baca Juga
Loading...
Komentar