Penguatan Peran Perempuan Ulama

SM/Agus Fathuddin - WORKSHOP PEREMPUAN ULAMA: Ketua Umum MUI Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi bersama Ketua MUI Dra Hj Munawaroh Thowaf dan Ketua Komisi Pemberdayaan Perempuan Prof Dr Hj Sri Suhanjati dalam Workshop Penguatan Peran Perempuan Ulama, di Hotel Siliwangi, Jalan Mgr Soegijopranoto Semarang, belum lama ini.(23)
SM/Agus Fathuddin - WORKSHOP PEREMPUAN ULAMA: Ketua Umum MUI Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi bersama Ketua MUI Dra Hj Munawaroh Thowaf dan Ketua Komisi Pemberdayaan Perempuan Prof Dr Hj Sri Suhanjati dalam Workshop Penguatan Peran Perempuan Ulama, di Hotel Siliwangi, Jalan Mgr Soegijopranoto Semarang, belum lama ini.(23)

MENGAKHIRI tahun 2018, ibu-ibu nyai yang popular dengan sebutan Perempuan Ulama dari berbagai pondok pesantren, Ormas Islam wanita, akademisi, politisi, dan santri perempuan se-Jateng mengikuti Workshop Penguatan Peran Perempuan Ulama.

Acara yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberdayaan Perempuan, Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah itu dibuka Ketua Umum MUI Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi.

Selama dua hari di Hotel Siliwangi, Jalan Mgr Soegijopranoto Semarang, mereka berdiskusi tentang berbagai persoalan yang dihadapi perempuan. Para pembicara yang menyampaikan materi yaitu Ketua MUI Dra Hj Munawaroh Thowaf MAg, Ketua Komisi Pemberdayaan Perempuan Prof Dr Hj Sri Suhanjati, Sekretaris MUI Dr Hj Ummul Baroroh, Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Falah Besongo, Ngalian, Semarang Dr Hj Arikhah MAg, aktivis perempuan Hj Wike Diah Anjaryani SPsi,MKes, dan Drs H Choironi MA.

Menurut Prof Dr Sri Suhanjati, dalam kehidupan moderen banyak persoalan yang harus diselesaikan oleh perempuan sendiri, namun ada pula persoalan yang diselesaikan bersama pria.

Berkaitan ibadah misalnya, ketika ada kelompok Anshor datang ke Rasulullah. Kemudian ditanya, untuk apa bertemu Rasulullah. Mereka mau menanyakan tentang kadar darah haid. Karena berkaitan perempuan akhirnya dijawab oleh Siti Aisyah. ‘’Kemudian dalam fikih muncul persoalan, darah haid disebut berwarna merah tua, namun ternyata ada yang berwarna merah muda.

Mengapa? Karena sebagian besar penulis fikih dari kalangan pria. Ini hanya contoh kecil saja,’’katanya. Masih banyak persoalan perempuan terutama menghadapi dunia moderen sekarang ini. Penguatan peran perempuan ulama menurut Guru Besar UIN Walisongo itu harus terus dilakukan.

Perempuan Ulama

Dr Hj Arikhah MAg menyebut ulama selalu identik dengan laki-laki yang bersurban dan memakai jubah putih. ‘’Lalu sebenarnya siapa ulama? Apa benar hanya laki-laki yang disebut ulama?,íí tanya anggota Komisi Pemberdayaan Perempuan MUI Jateng itu.

Masalah itu juga mengemuka dalam kongres ulama perempuan di Cirebon, belum lama ini. Menurut putri almaghfurlah KH Abdul Basyir, Kudus itu, pada dasarnya ulama yaitu orang yang menguasai ilmu secara mendalam, selain itu juga mengamalkan ilmu itu. ‘’Sehingga tidak cukup mengetahui saja tetapi juga memahami dan melakukan,’’ katanya. Perempuan itu juga termasuk makhluk Allah yang harus sinergi dengan laki-laki.

Ada ayat yang memerintahkan untuk memahami berbagai ilmu pengetahuan tidak khusus untuk laki-laki, sebagaimana QS Al-Alaq; 1-5, QS Al-Mujadalah; 11 dan QS At-Taubah; 71. Ayat-ayat tersebut menurutnya menjelaskan tidak membedakan laki-laki dan perempuan melakukan ketaatan kepada Allah dan mendapatkan rahmah dari Allah.

Ulama (jamak Alim), disebut sekali dalam Surat Fathir (35: 28). Ayat ini berbicara mengenai karakter dasar ìulamaî yang harusnya berintegritas tinggi karena hanya takut pada Allah Swt. Sementara kata alim disebut 13 kali dalam Alquran. Kata sepadan, seperti ulul ilmi (QS, Ali Imran 18), ulul abshar (QS. al-Hasyr 2), ulil al-albab (Q.S. Ali Imran 191), ahl al-dzikr (QS. al-Nahl 43).

Ulama yang menguasai ilmu yang mendalam mengetahui dan memahami maka ulama ini akan memiliki rasa takut kepada Allah. Menurut Hasan al-Bashri takut di sini merupakan rasa untuk selalu melakukan ketaatan kepada Allah dan menjauhi laranganNya, serta melakukan kebaikan sebanyakbanyaknya. Ada juga yang mengartikan rasa takut dengan disertai rasa penghormatan kepada Allah.

Dengan ilmu yang mendalam itu akan menjadikan dia memiliki kepribadian yang mulia atau akhlakul karimah. Kemudian kalau ulama perempuan atau perempuan ulama ? Dari sekian banyak ibu yang memiliki kemampuan, kapasitasnya sudah luar biasa, namun mereka tidak terdengar di publik.

‘’Karena itu kapasitas perempuan ulama perlu diangkat agar publik tahu ulama bukan hanya laki-laki tetapi juga perempuan,’’katanya. Secara biologis, ulama perempuan itu ya berjenis kelamin perempuan yang secara kodrati itu haid, hamil, nifas, dan menyusui. Itulah kodrat perempuan. Namanya kodrati itu merupakan tugas biologis yang tidak bisa dipindahkan ke makhluk lain. Itulah tugasnya perempuan.

Dengan pengertian seperti itu, semua jenis perempuan yang memiliki kemampuan seperti kriteria ulama maka dia bisa disebut sebagai perempuan ulama. Dalam penyebutan ideologis, yakni perempuan yang memiliki perspektif kesadaran dan gerakan keberpihakan pada perempuan untuk mewujudkan keadilan relasi dengan laki-laki, baik dalam kehidupan keluarga maupun sosial.

Maka semua orang yang berilmu mendalam, dan memiliki perspektif tersebut adalah ulama perempuan. Di sini perempuan juga memiliki tugas yang sama untuk mewujudkan kedamain di permukaan bumi (rahmatan lil alamin). (Agus Fathuddin Yusuf-23)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar