Tiga Bendera di Sepatu Shaqiri

BINTANG besar acapkali tak menghuni habitat yang selayaknya. Ia bisa seperti hidup sendiri, senyap kesepian di tengah komunitas yang tak seimbang, sehingga bakat dan kemampuannya kurang berkembang sebagaimana harusnya. Dia pun bagai tenggelam di haribaan sunyi. Xherdan Shaqiri. Bagaimana kesan Anda tentang pemain ini? Dalam laga Boxing Day, Kamis lalu, pemain asal Swiss itu menjadi bagian dari pencetak gol kemenangan 4-0 Liverpool atas Newcastle United.

Yang lebih fenomenal, apakah Anda menyaksikan Shaqiri menghunjamkan dua golnya ke gawang David de Gea, dua pekan silam?

Simaklah kisah ini...

Sebagai pemain yang masuk dari bangku cadangan, Shaqiri ikut membantu Liverpool menghumbalangkan Manchester United 3-1 dalam duel klasik Liga Primer di Stadion Anfield. Dan, makin sahihlah predikatnya sebagai supersub, pemain cadangan super di klub Anfield itu. Xherdan Xhaqiri, nama indah yang pernah mengabadikan lukisan tiga bendera nasional tiga negara di tepi sepatunya itu adalah bagian dari bintang (yang seharusnya) besar. Tak sedikit yang pernah menilai pemain berkewarganegaraan Swiss dari orang tua Kosovo dan moyang Albania itu sebenarnya tidak kalah dari Lionel Messi. Shaqiri diyakini punya kealamiahan bakat setara keajaiban- keajaiban La Pulga.

Berderet pengalaman di FC Basel, Bayern Muenchen, Internazionale Milan, dan Stoke City, sebelum hijrah ke Anfield Road nyatanya tak juga membuat Shaqiri mendapat pengakuan sebagai elite bintang. Boleh jadi ia berada di deret Zlatan Ibrahimovic, Robert Lewandowski, Pierre Emerick Aubameyang, Yaya Toure, atau Didier Drogba. Padahal tak sekali dua kali Shaqiri unjuk diri sebagai pemain dengan kemampuan pembeda.

Termasuk mempertontonkan sejumlah momen hebat ketika memperkuat tim nasional Swiss. Telusurilah tekniknya lewat Youtube, dan Anda akan menemukan pergerakan, golgol salto, tendangan bebas, serta hunjaman bola jarak jauh yang hebat. Tentu tak sembarang pertimbangan yang membuat seorang Juergen Klopp terpikat merekrut pemain berfisik gempal itu. Ia sudah punya Mohamed Salah, Sadio Mane, Roberto Firmino, Naby Keita, juga masih ada Daniel Sturridge dan Adam Lallana. Tidakkah kehadiran Shaqiri justru akan menumpuk pemain di bangku cadangan?

Naluri Klopp, bagaimanapun adalah kejeniusan membaca kebutuhan. Pelatih asal Jerman itu, yang menyatakan sejak lama memang mengagumi Shaqiri, terbukti tidak salah, sama seperti ketika dia tidak keliru mendatangkan Mo Salah dari AS Roma. Kini Shaqiri bahkan berkembang tak sekadar sebagai penghangat bangku cadangan. Dengan pengalaman, kapasitas teknik, kepercayaan diri, dan pembuktian gol-gol yang eksepsional, dia akan memperkaya pilihan permutasi skema bagi Liverpool.

* * *

XHERDAN Shaqiri hidup dan berkembang di bawah budaya, peradaban, dan ideologi yang memperkaya warna-warni hidupnya. Maka tak jarang apa saja yang dia lakukan di tengah timnas Swiss menjadi sorotan. Mulai dari tudingan enggan melafazkan lagu kebangsaan, selebrasi gol dengan gaya Albanian Eagle yang dianggap politis, juga kecaman seolah-olah dia lebih loyal kepada Kosovo dan Albania. Tak sedikit pemain produk naturalisasi yang mengalami "gegar peradaban" seperti itu, walaupun logika interaksi kemudian bisa menjadi acuan penyelesaian. Hanya terkadang ada pernak-pernik usikan sensitivitas yang mengganggu, seperti para pemain Prancis juara dunia 1998 yang diserang oleh politisi ultrakanan Le Pen. Atau belakangan kasus Mesut Oziel di timnas Jerman.

Padahal kurang apa kontribusi anakanak imigran itu? Shaqiri, dalam beberapa sisi, punya pengalaman batin seperti rekan-rekannya Valon Behrami, Granit Xhaka, Admir Mehmedi, Haris Seferovic, Blerim Dzemaili, Gokhan Inler, dan sederet lainnya. Mereka loyal dan memberi segalanya untuk timnas Swiss, tetapi tidak lantas melupakan akar budaya negeri leluhur. Dua bersaudara eks timnas Inggris, Gary dan Phil Neville yang sekarang menjadi pundit, pernah mengecam Shaqiri. Ia dianggap arogan gara-gara menyatakan Stoke City terdegradasi karena kemampuannya tidak diimbangi oleh pemain yang lain. Akan tetapi, Shaqiri enteng menanggapi.

Dia hanya mengatakan, orangorang Manchester United seperti Neville bersaudara cemburu karena dia memilih pindah ke Liverpool yang notabene adalah musuh bebuyutan The Red Devils. Bersama Liverpool, di bawah kepercayaan Juergen Klopp, pemain ini bisa memulai babak "kelahiran baru". Jika tampil konsisten, dia akan menjadi bintang yang mendapat pengakuan di posisi elite. Ketika The Reds membutuhkan kontribusinya, dia akan melangkah ke suasana baru yang jarang didapatkan di Muenchen dan Inter Milan. Ada kematangan pengalaman yang terelaborasi di tangan peracik yang tepat.

Ada kapasitas teknik yang tereksplorasi lewat arahan taktikus ulung. Ada pengelolaan sikap mental lewat pendekatan "seniman pelatih" yang diterapkan Klopp. Klopp tampaknya memberi suguhan atraktif sebagai alternatif dari sirkus-sirkus mematikan ala Mohamed Salah, sejauh ini. Xherdan Shaqiri menjelma menjadi "monster simpanan" yang apabila dikelola dengan tepat, akan menemukan habitat tersendiri di deret elite bintang dunia. (29)


Baca Juga
Loading...
Komentar