Rentetan Live Action Tak Kunjung Usai

Oleh Sofie Dwi Rifayani

TIAP beraksi, Dora Marquez selalu terkendala oleh Swiper sang rubah pencuri. Walau mengganggu, kemunculan Swiper tetap ditunggu. Maklum, tanpa suara cempreng Swiper yang khas, petualangan Dora malah terasa campah.

Dora dan Swiper adalah dua karakter dalam Dora the Explorer, serial animasi karangan Chris Gifford, Valerie Walsh Valdes, dan Eric Weiner. Per tahun 2000, Dora the Explorer menjadi serial tetap di Nickelodeon. Kartun edukatif ini sangat tersohor berkat diterjemahkan dalam pelbagai bahasa, termasuk Indonesia. Setelah puluhan tahun mengudara, Dora dan kawan-kawan (ataupun lawan) bakal tampil nyata dalam film live action garapan Paramount Pictures Dora the Explorer.

Untuk memerankan Dora, si tokoh berponi yang senantiasa menyandang ransel, aktris Isabela Moner (Transformers: The Last Knight) lah yang terpilih. Selain Moner, bintang film Eugenio Derbez (The Nutracker and the Four Realms) serta Eva Longoria (Desperate Housewives) juga ambil bagian dalam film ini. Akan halnya Swiper, sutradara James Bobin menunjuk aktor Benicio Del Toro untuk mengisi suara si rubah rival Dora tersebut. Keterlibatan Del Toro, pemeran The Collector dalam dunia ”Avengers”, itu terkonfirmasi justru setelah syuting film Dora the Explorer usai. Ini lantaran beres syuting, suara Del Toro baru dibubuhkan kemudian. Proyek live action alias film yang diadaptasi dari animasi memang kembali bergaung. Dora the Explorer yang akan tayang Agustus 2019 mendatang hanya salah satu contohnya. Kecuali itu, film live action yang akan tayang dalam waktu dekat ialah Aladdin. Kisah yang lekat dengan keberadaan lampu ajaib ini termuat dalam ”Dongeng 1001 Malam”.

Walt Disney lantas mengkreasikannya lewat film animasi pada 25 November 1992. Will Smith, yang didapuk memerankan jin, baru-baru ini membocorkan poster perdana film Aladdin.

Dengan tubuh berbalut warna biru, Smith berpose dengan tokoh Aladdin (Mena Massoud) dan Jasmine (Naomi Scott). Konon, film ini dibuat berkembang dari kisah aslinya. Meski, tetap berpegang pada sisi musikal agar tak kehilangan sesuatu yang ”sangat Aladdin”.

Terbanyak dari Disney

Sejauh ini, proyek live action Hollywood bermuara pada dua nama, Dan Lin dan Jonathan Eirich. Duo produser yang membawahi live action Aladdin ini kini sedang berancang-ancang membuat film Lilo and Stitch versi live action. Berembus kabar, Stitch si makhluk luar angkasa akan dibuat senyata mungkin dengan paduan teknologi film konvensional sekaligus gambar komputer (CGI). Tak sulit bagi Lin dan Eirich untuk kembali mewujudkan proyek live action.

Sebab, sebelum ini mereka pernah menggarap film serupa ini. Eirich misalnya, tercatat sukses mengibarkan film live action Death Note pada 2017 silam. Sementara bagi Lin, film kartun bukanlah hal asing lantaran ia pernah memproduseri Lego Movie. Di balik dua nama itu, ada nama besar Walt Disney yang tak terkalahkan soal pembuatan film live action. Maleficent (2014), Cinderella (2015), Jungle Book (2016), Beauty and the Beasts (2017), juga Christopher Robin (2018) merupakan sederet proyek live action yang berhasil digawangi Disney.

Setelah itu semua, apa lagi obsesi Disney?

Setelah Mary Poppins Return yang meluncur pertengahan Desember ini, Disney akan merilis Cruella, film live action tentang tokoh antagonis dari film 101 Dalmatians (1996). Lainnya, bakal ada bentuk nyata dari kisah Lion King, Mulan, Dumbo, Little Mermaid, Pinocchio, dan bahkan Brave. Tak hanya Disney, live action asal anime Jepang pun tak kalah memukau. Detective Conan dan Ruroini Kenshin, contohnya. Tapi, perlu dicatat pula bahwa tak semua live action berakhir menawan. Dragon Ball dan Avatar versi live action, misalnya, sempat bikin heboh karena dapat bertubi-tubi kritik negatif dari para penggemarnya.

Menyenangkan memang melihat karakter animasi berubah wujud jadi riil. Walau demikian, penggemar harus sadar jika terkadang tim pembuat film tertatih mewujudkannya sesuai dengan imajinasi personal.(49)


Berita Terkait
Loading...
Komentar