Dari Mana Datangya Arsitek?

Arsitek merupakan salah satu profesi tertua dalam peradaban manusia. Profesi ini menyediakan ruang hidup, naungan, teduhan dan hunian untuk semua aktivitas manusia dalam merajut peradabannya.

Catatan sejarah menunjukkan peran arsitek dalam mendampingi para pemimpin menciptakan peradaban, sebagai orang kedua sejak zaman Firaun, Kaisar , Raja-raja, Undagi, Wastuwidyawan hingga seorang Albert Speer, arsitek yang berencana menyiapkan Kota kemenangan beserta arsitekturnya untuk Adolf Hitler sang diktator, yang beruntung tidak terwujud.

Setiap jejak peradaban meninggalkan karya arsitektur sebagai artifak. Kosmos-sentrisme meninggalkan Stonehenge, Machu Picchu dll. Teos-sentrisme meninggalkan berbagai tempat ibadah diseluruh penjuru dunia, Borobudur misalnya.

Modernisme yang Anthropos-sentris masih berkecamuk dan arsitekturnya masih menaungi aktivitas kita seharihari. Postmodernisme sedang merintis warna arsitektur mewakili zeitgeist-zamannya.

Lalu darimana datangnya arsitek? Sejak dimulai dari Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS-1920, sekarang ITB), kini telah ada begitu banyak program studi arsitektur yang menyiapkan sarjana2 arsitektur di Indonesia.

Arsitek adalah sebuah profesi yang tergabung dalam ikatan profesi: Ikatan Arsitek Indonesia (I.A.I) yang menetapkan standarstandar keprofesian dan juga menyediakan Program pendidikan arsitek (PPArs) sesuai undang-undang yang baru, KKNI dll.

Program ini dirancang untuk memperkenalkan keprofesian arsitektur dan menambal kekurangan 1 tahun pada pendidikan sarjana Arsitektur di Indonesia yang berjenjang strata-1 danberdurasi 8 semester.

Pada awalnya umat manusia memenuhi kebutuhan akan ruang hunian secara bersamasama bergotong-royong (komunal) sesuai tata hidup saat itu, dengan ketrampilan turun-temurun (tradisional), lahirlah Folk architecture.

Tampilnya seseorang yang kemudian menjadi ahli dibidang bangun-membangun, kemudian dikenal sebagai ìarsitekî awal, Undagi di Bali misalnya, melahirkan Vernacular architecture.

Modernisasi

Pembangunan gedung dan arsitektur melayani derap pembangunan modernisme yang massal, sehingga terjadilah industrialisasi baik pelaksanaan pembangunan maupun perancangan desain arsitekturnya.

Sebagai industri, perancangan arsitektur juga membutuhkan pekerja. Para pekerja ini butuh pemimpin yakni arsitek yang juga berfungsi sebagai pengarah. Arsitek inilah yang dikenal sebagai Chief-architect, (arsitek kepala) selanjutnya disebut arsitek-perancang atau ìarsitekî saja.

Arsitek-perancang ini menjadi Team-leader merupakan perancang yang sesungguhnya, yang kemudian dalam perkembangan kerumitan perkembangan sebuah projek arsitektur, si arsitek mengkoordinasikan berbagai disiplinilmu sesuai Trilogi Vitruvius sang Guruarsitek Romawi yaitu :firmitas, utilitas, dan venustas, kekokohan, kegunaan dan keindahan.

Misalnya koordinasi ilmu-ilmu bangunan ( building science)meliputi kekokohan, material, kenyamanan, iklim, dimensi, keindahan & seni, perkotaan dankemasyarakatan,semuanya diperlukan dalam sebuah desain arsitektur yang makin canggih.

Tata-laksana perancangan, pelaksanaan dan pengawasan projek, didapat dari permagangan( internship), termaktub dalam 13 kompetensi keprofesian dari IAI. Keberadaan komunitas para chief-architect ini sangat dibutuhkan bagi suatu negara yang sedang membangun seperti Indonesia kita.

Para peserta program pendidikan arsitek dididik bersama dalam kawah candradimuka nya, yaitu Studio desain arsitektur (atelier). Dari sini, pembelajaran dalam program pendidikan arsitek sepantasnya secara sadar (intentionally) melirik dan mendalami nuansa lahirnya para arsitek-kepala yang perancang ini.

Misalnya dengan menguak kehidupan para jenius-jenius arsitektur ini, Nyantrik virtual , mendalami segala wacana, pola pikir dan cara kerja, cara menyusun Program-arsitekur yang akurat dan komprehensif, cara pengambilan-keputusan (decision making)desain, cara mengeksekusi suatu tantangan kecanggihan dan kerumitan suatu projek, singkatnya kita sebut : îThink and act like a Chiefarchitectî untuk diterapkan sebagai sebuah simulasi dalam penyelenggaraan menyiapkan seorang Chief-architect lagi, lagi dan lagi.

Puncak pendidikan arsitek, melahirkan arsitek-perancang yang mumpuni yang trampil menyusun Program arsitektur, mengambil keputusan2 Perancangan, mengkomunikasikan ideanya, kesemuanya menunjukkan bahwa ia mampu memimpin berbagai disiplin ilmu, untuk mencapai solusi permasalahan ruang wadah aktivitas manusia.

Seorang arsitek (perancang) tidak membawa-bawa selembar ijazah, seperti sebuah iklan sarjana tak bekerja - baru-baru ini, tetapi menyiapkan Portofolio nya (data kumpulan karya desain nya) , kemudian berdiri tegak dihadapan para pemberi-tugasnya dan calon pengguna bangunan, menyampaikan presentasi tentang kehebatan gagasan rancangannya. Thatís a Chief-architect!, para arsitek yang siap ikut membangun Indonesia. (53)

Dr. Ir. Rudyanto Soesilo MSA, I.A.I | Dosen Pascasarjana & S3 Lingkungan; Ketua Rumpun Desain Prodi arsitektur F.A.D.;Ketua jurusan Arsitektur 1983-1988; Unika Soegijapranata, Semarang.