Pondokrejo, Kampung Joglo yang Lestari

Baju Arie Wibawa, S.T., M.T. - Dosen Prodi Arsitektur UPGRIS

Joglo merupakan salah satu bangunan tradisional yang telah dipahami dan dicitrakan sebagai representasi arsitektur tradisional Jawa.

Setiap membicarakan arsitektur Jawa, maka citra, icon, persepsi dan pemahaman umum yang muncul adalah bangunan berbentuk joglo, walaupun masih banyak bentuk lain seperti tajuk, limasan, kampung dan panggang pe dengan segala variasinya.

Dalam eksistensi dan perkembangannya, bangunan berbentuk joglo seringkali terkendala pada banyak hal seperti harga material, sulitnya material kayu jati, keterbatasan bentang struktur, umur bahan yang terbatas, dan lain sebagainya.

Adanya berbagai kendala ini menjadikan bentuk bangunan joglo (terutama rumah tinggal) kalah bersaing dengan bentuk-bentuk rumah modern dengan segala kelebihannya.

Realitas ini pada kenyataan telah merebut kesadaran bahwa arsitektur Joglo eksistensinya sangat terikat pada masa lalu dan dinilai tidak mampu mengikuti perkembangan zaman.

Bangunan rumah joglo dengan biaya dan makna simbolis yang dimilikinya menjadikan aspek pelestarian dan kebelanjutan pembangunannya mengalami banyak kendala, sehingga seringkali bentuk joglo hanya diterapkan pada beberapa bangunan umum (balai/pendopo desa, kantor kelurahan, kantor kecamatan, dll.) serta sangat sulit untuk dapat bertahan atau lestari keberadaannya.

Kecenderungan ini telah mengakibatkan bahwa eksitensi dan keaslian bangunan joglo dalam setting lingkungan aslinya semakin surut dan hilang.

Saat ini sudah sangat sulit untuk menemukan bangunan tradisional joglo yang masih asli dan lestari dalam setting lingkungan dan sosial budaya asli penduduknya.

Bangunan joglo asli sebagai rumah tinggal telah banyak terhenti pertumbuhannya, kemungkinan pada masa mendatang kita hanya akan dapat melihat bangunan joglo secara fisik (container) dalam model atau prototipe yang pasti sudah terlepas dari isi (content) masyarakat aslinya dan lokasinya sudah tidak dalam context lingkungan alam aslinya.

Adanya fakta dan fenomena eksistensi rumah joglo di berbagai tempat adalah tidak bertambah (bahkan semakin berkurang) ternyata tidak terjadi di permukiman berbentuk asli joglo yang berada di Desa Pondokrejo, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang.

Terdapat suatu anomali pada kawasan permukiman tradisional ini bahwa jumlah rumah joglo di desa ini dapat bertahan eksistensinya dan bahkan menunjukkan adanya pertambahan jumlah rumah joglo dari tahun ke tahun.

Keberadaan bangunan-bangunan joglo di sini masih dalam bentuk rumah-rumah tinggal tradisional asli yang masih tetap bertahan dalam lingkungan masyarakat Jawa yang asli pula.

Eksistensi lingkungan tradisional joglo ini adalah sangat unik dan spesifik yang sampai saat ini masih mampu bertahan dan beradaptasi menghadapi tantangan dan tuntutan perkembangan global.

Menurut informasi para sesepuh, desa ini dahulu bernama Pondok Londo (Rumah Belanda), karena pada waktu itu terdapat orang-orang Belanda yang membuat rumah dan hidup lama disini, mereka memiliki rumahirumah yang besar dan disebut dengan rumah joglo.

Kemudian nama Pondok Londo diubah menjadi Pondok Rejo. Jumlah penduduk Desa Pondokrejo pada tahun 2017 adalah 1.322 jiwa dengan 484 KK (Kepala Keluarga).

Mata pencaharian penduduk terbesar adalah petani sebanyak 825 jiwa dan buruh tani 60 jiwa, jadi total prosentase matapencaharian sebagai petani dan buruh tani adalah 84,3% atau 885 jiwa.

Aktivitas sebagaian besar masyarakat yang berada di Desa Pondokrejo ini bercocok tanam. Hal ini dapat dilihat dari kondisi alam yang ada di desa tersebut, di mana sebagian besar lahan yang ada berupa persawahan yang berada di areal dataran rendah.

Mungkin hal inilah pulalah yang menyebabkan warga sangat menghormati alam dan melaksanakan tradisi leluhur. Kegiatan sehari-hari mereka adalah pergi ke sawah dari pagi dan pulang rumah sore hari.

Bentuk Terbanyak

Jumlah total rumah yang ada di Desa Pondokrejo adalah 814 yang dimiliki oleh 422 KK, dari data tersebut, dapat dilihat jumlah bentuk rumah terbanyak adalah rumah bentuk Rongpyak atau kampung dengan jumlah sebanyak 334 rumah atau 41%.

Eksistensi masingmasing tipe rumah ini adalah menyebar merata untuk seluruh wilayah RT yang ada.

Dari hasil pendataan lengkap pada tahun 2017, terdapat sebanyak 229 rumah yang berbentuk Joglo, atau sekitar separuh (47,3%) dari 484 keluarga yang ada adalah memeiliki rumah berbentuk joglo. Ini merupakan jumlah yang fantastis dalam satu lingkungan desa.

Adanya adat dan tradisi bahwa rumah joglo merupakan puncak kebesaran dan keindahan rumah tinggal masyarakatnya menjadikan bahwa membangun joglo masih selalu menjadi cita-cita dan keinginan setiap keluarga.

Bagi masyarakat yang belum mampu, maka mereka akan membangun rumah belakang dengan bentuk kampung (rongpyak) atau limasan. Meski begitu nanti telah mampu maka akan membangun rumah joglo di depannya. (53)