Tiga Trilogi Pembelajaran Ponpes Zaid bin Tsabit

SM/M Ilham Baktora : SETOR HAFALAN : Santri Pondok Pesantren Tahfidzul Quran (PPTQ) Zaid bin Tsabit, Gatak, Sukoharjo, menyetor hafalan kepada musryf di pondok, baru-baru ini. (51)
SM/M Ilham Baktora : SETOR HAFALAN : Santri Pondok Pesantren Tahfidzul Quran (PPTQ) Zaid bin Tsabit, Gatak, Sukoharjo, menyetor hafalan kepada musryf di pondok, baru-baru ini. (51)

MEMBENTUK generasi yang hafidz, berilmu, berakhlak mulia, kreatif, dan berdaya guna merupakan hal penting yang harus disiapkan muslim saat ini.

Zaman modern yang kian berkembang bukan alasan melunturkan semangat berdakwah di tengah masyarakat. Pondok Pesantren Tahfidzul Quran (PPTQ) Zaid bin Tsabit di Jalan Raya Sanggung-Stasiun Gawok Km 2 Kwojo, Kagokan, Gatak, Sukoharjo, merupakan pondok pesantren yang fokus terhadap tabadur Alquran dan Sunnah.

Pesantren yang menargetkan santrinya untuk hafal 30 juz, salah satu misinya agar muslim selalu berpegang teguh terhadap pedoman hidup muslim, yaitu Alquran dan Sunnah. ”PPTQ Zaid bin Tsabit dirintis sejak 2012 dan dibangun di atas tanah wakaf seluas sekitar 1.000 meter persegi.

Kami ingin menyiapkan generasi muslim yang memiliki akhlak mulia, hafal Alquran, termasuk mempelajari serta mengamalkannya. Kami juga mendidik santri untuk terampil dan berdaya guna di tengah masyarakat,” kata Pengasuh PPTQ Zaid bin Tsabit, Ali Faizal, saat ditemui di pesantren setempat.

Ali menuturkan, pihaknya menerapkan tiga trilogi pembelajaran di pesantren, yakni Qurani, santri dibekali dengan ilmu agama sesuai Alquran dan Sunnah. Kedua, kemandirian, santri dididik untuk memiliki keterampilan hidup di tengah masyarakat. Ketiga, berdaya guna, santri diharapkan aktif berdakwah di lingkungan tempat tinggal mereka. ”Sesuai dengan nama pondok kami, pendidikan Qurani kami terapkan dengan menghafal Alquran 30 juz, sehingga mereka menjadikan Alquran dan Sunnah Rasul sebagai rujukan dalam hidupnya. Kemandirian yang kami ajarkan dengan memberikan mereka life skill berwirausaha. Jadi lulus dari pondok, mereka sudah punya penghasilan dan siap berinteraksi di tengah masyarakat,” katanya.

Pondok yang telah berjalan enam tahun itu, saat ini memiliki 20 santri, terdiri atas dua orang santri tingkat SD, 12 santri tingkat SMP, dan enam santri tingkat SMA. Seluruhnya laki-laki dan tiap harinya memiliki jadwal rutin untuk dikerjakan. ”Mulai pukul 03.00 WIB, santri menjalankan shalat malam dan mulai menghafal Alquran hingga menjelang subuh. Waktu Subuh hingga selepas Dzuhur mereka harus menyetor hafalan kepada musryf. Santri tidak hanya menyetor hafalan namun harus mengulang apa yang dia hafal (murojaah). Murojaah dilakukan pada waktu Ashar hingga menjelang Isya. Pendidikan formal tetap mereka lakukan seperti halnya pembelajaran di sekolah swasta atau negeri,” kata Ali.

Inovasi

PPTQ Zaid bin Tsabit terus berusaha melakukan inovasi dan perbaikan untuk hasil terbaik. Pondok yang telah meluluskan puluhan santri tersebut memiliki harapan besar untuk mencetak generasi muslim yang memiliki ilmu agama yang kuat serta mengamalkan dan menyebar ilmu yang mereka dapatkan. ”Harapan besar kami, santrisantri itu siap menjadi pelopor muslim yang baik di masyarakat. Tidak hanya hafal Alquran namun mampu menyebar apa yang mereka hafal dan pelajari.

Di samping itu pendidikan kemandirian yang kami berikan menjadi bekal mengarungi kehidupan di luar pondok, sehingga mereka bermanfaat untuk orang banyak di lingkungannya nanti,” ungkap Ali.

Hingga saat ini pihaknya masih membuka pendaftaran bagi masyarakat untuk mencetak generasi muslim yang Qurani, memiliki keahlian dan keterampilan dalam hidup, sehingga berbagai ilmu agama dan persiapan hidup di masyarakat menjadi lebih mudah untuk dilakukan. (Muhammad Ilham Baktora-51)


Berita Terkait
Loading...
Komentar