Kontribusi Go-Jek terhadap Perekonomian Indonesia Tembus Rp 9,9 Triliun

SM/Dini Failasufa - MEMAPARKAN MATERI : Vice President Go-Jek, Delly Nugraha memaparkan materi saat Seminar Ekonomi bertajuk ”Prospek Bisnis & Investasi” Jateng 2019, yang digelar SMN. (55)
SM/Dini Failasufa - MEMAPARKAN MATERI : Vice President Go-Jek, Delly Nugraha memaparkan materi saat Seminar Ekonomi bertajuk ”Prospek Bisnis & Investasi” Jateng 2019, yang digelar SMN. (55)

SEMARANG- Tak ada yang mengira, bisnis aplikasi online Go-Jek kini tumbuh begitu luar biasa. Perputaran uang sepanjang 2017 saja, sebagai kontribusi terhadap perekonomian Indonesia menembus Rp 9,9 triliun, dan diperkirakan akan tumbuh 20-25% tahun ini. Angka tersebut meliputi Rp 8,2 triliun kontribusi mitra dan Rp 1,7 triliun kontribusi UMKM. Aplikasi yang menyediakan berbagai fitur dengan kemudahan pada banyak aspek pun terus dikembangkan.

Vice President Go-Jek wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, dan Nusa Tenggara Delly Nugraha mengatakan jika pada awal berdiri, perusahaan teknologi karya anak bangsa itu hanya fokus pada jasa ojek, tiga tahun terakhir banyak fitur yang bisa dimanfaatkan pengguna aplikasi.

Tak hanya itu, ekspansi ke daerah-daerah untuk mengembangkan pasar dan mitra baru dilakukan. Ekspansi juga ke beberapa negara di Asia Tenggara, antara lain Thailand, Vietnam, Singapura, dan Filipina. ‘’Kami jajaki juga luar negeri.

Jadi, nanti kalau Anda ke Bangkok, mau order Go-Jek bisa, tidak perlu khawatir pergi atau liburan ke luar negeri, sudah bisa digunakan aplikasinya,’’ujar Delly yang menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Prospek Bisnis dan Investasi 2019 yang digelar Suara Merdeka Network (SMN) di Aston Hotel & Convention Center Semarang, kemarin.

Saat ini, lanjut dia, pengguna aplikasi tersebut memiliki banyak pilihan dan membantu dalam keseharian. Mulai mengirim barang, pijat, membersihkan rumah, sampai membelikan makanan yang berimbas pada kepesatan perkembangan usaha makanan minuman.

Bahkan membelikan elpiji sekalian membantu pemasangannya juga bisa. Hal-hal kecil yang semula bersifat konvensional dan kini disentuh dengan teknologi digital ternyata memberikan dampak signifikan di berbagai lini. Ada sekitar 1,5 juta mitra aktif Go-Jek dan saat ini Go-Jek sudah tersedia di 167 kota di Indonesia.

Dengan 500 ribu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bekerja sama, tentu memberi ruang sangat luas, khususnya dalam pemasaran produk melalui aplikasi online. Dampaknya ke mitra driver, menurut Delly, juga signifikan. Salah seorang mitra yang awalnya mengalami kesulitan membayar uang sekolah anaknya, setelah bergabung dengan Go-Jek sekarang sudah bisa membangun rumah. Ada berbagai kisah menginspirasi lainnya yang bisa membuat terharu. Juga pada usaha makanan.

Di Semarang, misalnya, setidaknya ada 10 restoran yang dari pemesanan lewat GoFood bisa membukukan omzet Rp 1,5 miliar per bulan. Tentu hal itu memberikan angin segar bagi bisnis-bisnis yang terus bertumbuh dan GoJek memiliki ruang untuk berkolaborasi dan saling menguntungkan. ‘’Sudah diunduh 100 juta kali di GooglePlay.

Pembayaran digital melalui fitur GoPay juga kini paling banyak diakses, karena sangat mudah dan praktis, bahkan untuk program tertentu juga diberikan cashback,’’ ungkap Delly yang sudah kenyang pengalaman di berbagai perusahaan teknologi informasi dan seluler tersebut.

Fitur lain yang bisa dimanfaatkan, kata dia, termasuk urusan membayar zakat yang jauh lebih simpel, kita tinggal memindai QR Code, lalu menulis berapa besar yang hendak disalurkan. Tak lama lagi, urusan membayar uang sekolah di sejumlah SMPSemarang juga bisa melalui GoPay.

Akan banyak lagi terobosan- terobosan yang dilakukan Go-Jek, karena dengan teknologi dan digitalisasi apa saja bisa dilakukan tanpa ada batasan, yang tentu berkontribusi besar kepada pemerintah. Usaha-usaha yang disentuh dengan digitalisasi akan memberikan sumbangan dalam hal komoditas, peluang bagi lebih banyak sektor, serta bidang perpajakan. (arw,J14-18)