Kukrit Suryo Wicaksono:

Perlu "Strategic Plan" yang Sinergis

SM/Dok
SM/Dok

SEGALA persoalan yang terjadi pada 2019 selalu dihubungkan dengan tahun politik. Bagaimana prospek bisnis dan investasi di Jawa Tengah (Jateng) pada 2019? Suram? Atau justru beranjak meningkat? Berikut perbincangan dengan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jateng, Kukrit Suryo Wicaksono di Semarang, kemarin.

Bagaimana prospek bisnis dan investasi di Jateng pada 2019?

Harapan saya pada 2019 kondisi ekonomi akan lebih baik. Dari sisi infrastruktur, jalan tol Semarang-Solo dan Semarang-Batang, dan jalan-jalan tol lain sudah menyambung. Ini akan meningkatkan omzet perdagangan para pelaku usaha kita. Juga dengan keberadaan bandara baru bakal banyak rute-rute anyar yang dibuka. Sudah barang tentu, ini akan meningkatkan volume wisatawan. Peningkatan ini berakibat positif bagi perdagangan dan investasi. Intinya orang berkunjung ke Jateng, senang, cocok, kemudian berdagang dan berinvestasi. Investasi yang besar akan menyebabkan banyak tenaga kerja yang diserap.

Saya dengar pada 2019 akan banyak pabrik besar yang direlokasikan ke Jateng. Karena itulah pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten atau kota, dan Kadin harus bekerja sama menjaga kondusivitas bisnis dan investasi. Mengapa? Karena orang berinvestasi itu bukan sekadar melihat upah minimum kabupaten/kota (UMK) atau upah minimum provinsi (UMP), melainkan juga memperhitungkan kondusivitas wilayah tersebut.

Bagaimana dunia usaha merespons tahun politik 2019?

Dunia usaha dipastikan bakal slow down. Ini bukan berarti kami menyerah. Justru pada saat slow down ini, kita harus bersama-sama merapatkan barisan. Kita susun kekuatan dan bersama-sama membuat strategic plan. Strategic plan ini hasil dari sinergi antara keinginan pemerintah provinsi, Kadin, perbankan, dan akademisi. Di sinilah, kita bisa menata sebuah action plan khusus yang apabila tahun politik berakhir memungkinkan kita bisa take off lebih cepat lagi.

Apakah Jateng masih bisa menjadi lokomotif ekonomi?

Sebenarnya selama ini Jateng sudah menjadi lokomotif. Banyak sekali industri besar Indonesia, semisal industri rokok, jamu, percetakan, dan tekstil itu berasal dari Jateng. Industri tekstil kita, Apac Inti Corpora, misalnya, terbesar di Asia Tenggara. Jadi, saya kira prospek Jateng dalam bisnis dan investasi besar sekali. Saat ini kita tinggal ngopeni, memupuk, membesarkan yang sudah ada. Sekadar memberi tahu, Jateng ini merupakan pusat industri usaha kecil dan menengah (UKM) dan terbesar di Indonesia. Produk-produk UKM Jateng sudah go national, bahkan go international. Saya berharap teman-teman yang sudah go international nulari yang lain sehingga yang semula go kota bisa go national, yang go national bisa go international. Inilah fokus-fokus pada 2019 yang mesti kita pikirkan dan rencanakan bersama.

Apa yang akan dilakukan Kadin Jateng?

Kami selalu fokus pada tiga hal. Pertama, peningkatan penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) entrepreneurship. Ini sudah dilakukan oleh Edukadin. Kedua, peningkatan kualitas jaringan usaha (networking) bagi pelaku usaha. Ini sudah dilakukan lewat kerja sama perdagangan dengan Kadin Singapura, Kadin Jepang, Kadin Vietnam, dan Kadin Korea. Ketiga, peningkatan kualitas pembiayaan. Ini yang terus dilakukan lewat kerja sama-kerja sama dengan perbankan. Ini perlu dilakukan agar kami mendapatkan infrastruktur pembiayaan yang kuat, gampang, dan bermanfaat bagi pelaku usaha, terutama pelaku UKM.

Bagaimana mewujudkan semua keinginan itu? Dengan mengacu pada semangat ”industri 4.0”, misalnya?

Cara mewujudkannya ya dengan strategi-strategi yang sudah ada. Apa pun yang saya katakan ini sebenarnya sudah dijalankan, paling tidak selama delapan tahun saya memimpin Kadin Jateng. Kalau kita mau bicara ”industri 4.0” biarlah penerapannya sesuai keinginan tiap-tiap pengusaha. Itu urusan rumah tangga tiap-tiap pengusaha. Kadin Jateng ini kan organisasi aspirasi. Organisasi aspirasi ini justru harus luwes, harus fleksibel. Nah, belum tentu seluruh usaha itu bisa dikembangkan dengan menerapkan ”industri 4.0”. Karena itulah, kita justru harus adaptif. (Triyanto Triwikromo-46)


Berita Terkait
Loading...
Komentar