ANALISIS EKONOMI

Pertumbuhan Ekonomi Jateng dan Revolusi 4.0

Oleh Nugroho SBM

PERTUMBUHAN ekonomi Jawa Tengah (Jateng) pada 2019 mendatang, menurut versi Bank Indonesia (BI), berkisar antara 5,3 persen sampai 5,7 persen. Sektorsektor yang tetap menjadi pendukung utama pertumbuhan ekonomi Jateng adalah sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, perikanan, dan konstruksi. Selain kelima sektor tersebut ada sektor-sektor lain yang memberikan harapan akan tumbuh lebih baik pada 2019. Sektor itu, pertama pariwisata.

Masyarakat sekarang dihinggapi ”gila wisata”. Mereka memadati tempat-tempat wisata di mana pun, baik yang alam maupun buatan dan melakukan swafoto (selfie). Pemerintah kota, kabupaten, dan provinsi bisa memanfaatkan peluang ini dengan membangun dan mempercantik berbagai objek wisata di daerahnya bekerja sama dengan pihak swasta. Sektor lain adalah yang terkait dengan sesuatu yang alami, contoh obat herbal, hasil pertanian organik, pengobatan tradisional, dan lain-lain.

Masyarakat, termasuk masyarakat di Jateng, sudah mulai sadar akan hidup sehat dengan cara-cara alami antara lain mengkonsumsi obat herbal dan hasil pertanian organik. Usaha kuliner terkait dengan gaya hidup merupakan peluang lain.

Contohnya adalah bisnis kopi, mulai dari penanaman, pengolahan, sampai kepada penjualan di kafe-kafe. Provinsi Jateng sangat kaya akan berbagai jenis kopi dengan berbagai varian rasa.

Revolusi Digital

Peluang dalam pertumbuhan ekonomi Jateng pada 2019 harus memperhitungkan revolusi digital yang dikenal dengan revolusi 4.0. Revolusi tersebut telah membuka berbagai peluang dan bentuk usaha baru. Berbagai usaha baru itu antara lain adalah ride hailing seperti Gojek dan Grab yang kemudian meluas pelayanannya menjadi layanan antarmakanan, antarbarang, dan lain-lain.

Selain itu, ada perdagangan elektronik (e-commerce) dan kegiatan media online seperti game, iklan, streaming musik dan film, dan lain-lain. Menurut perkiraan, ekonomi digital Indonesia hasil revolusi 4.0 pada 2018 ini bernilai sekitar 27 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 391 triliun. Angka tersebut akan terus membesar dan di tahun 2025 akan mencapai 100 miliar dolar AS atau Rp 1.148 triliun.

Berapa angka untuk Jateng, menurut BPS sumbangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jateng terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia adalah sekitar 11,6 persen, maka nilai ekonomi digital Provinsi Jateng di tahun 2018 adalah 45,35 triliun. Untuk tahun 2025 mencapai Rp 169,12 triliun. Pandangan optimistis mengatakan, penggunaan teknologi digital akan menaikkan produktivitas atau pertumbuhan ekonomi.

Survei McKinsey (Maret 2017) terhadap 300 pemimpin perusahaan terkemuka di Asia Tenggara menunjukkan, bahwa sembilan dari sepuluh responden percaya terhadap efektivitas industri 4.0. Praktis hampir tidak ada yang meragukannya. Pandangan pesimis dikemukakan oleh Studi Boston Consulting Group (September 2015) tentang dampak industri 4.0 terhadap perekonomian Jerman pada 2025, ternyata ”hanya” akan terjadi penambahan pertumbuhan ekonomi satu persen selama lebih dari satu dasawarsa.

Pemerintah Indonesia sudah mengantisipasi revolusi 4.0. Pada 4 April 2018, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meluncurkan dokumen yang disebut sebagai Making Indonesia 4.0. Dalam menghadapi revolusi digital maka Indonesia akan fokus pada lima sektor manufaktur unggulan: (1) industri makanan dan minuman, (2) tekstil dan pakaian, (3) otomotif, (4) kimia, serta (5) elektronik.

Departemen Tenaga Kerja juga sudah menyiapkan langkah-langkah agar tenaga kerja tidak tersingkir dengan adanya revolusi 4.0. Bagaimana Jateng terkait dengan revolusi 4.0? Pemerintah provinsi, kabupaten dan kota haruslah membuat implementasi kebijakan agar sesuai dengan arah kebijakan pusat dalam hal revolusi 4.0. Pandangan optimis dunia usaha diperlukan dalam hal ini. Maksudnya, terjadinya revolusi 4.0 justru harus dianggap sebagai peluang. Pesimisme perlu juga diantisipasi. Misalnya Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) memutuskan bahwa upah minimum provinsi (UMP) Jateng tahun 2019 akan dinaikkan 8,03 persen. (46)

-- Dr Nugroho SBM MSi, Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Semarang


Berita Terkait
Loading...
Komentar