Program Mekanisasi untuk Atasi Kelangkaan Tenaga Kerja Pertanian

JAKARTA - Program mekanisasi Kementerian Pertanian (Kementan) dinilai tidak hanya berperan nyata dalam meningkatkan produksi pangan, namun juga menjadi solusi dalam kelangkaan tenaga kerja pertanian.

Berdasarkan hasil analisis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan tahun 2015, jumlah terbanyak tenaga kerja pada sektor tanaman pangan adalah petani yang sudah berusia lebih kurang 60 tahun, kemudian disusul usia antara 40-45 tahun.

Dampak nyata adanya kelangkaan dan usia lanjut tenaga petani untuk mendukung budi daya tanaman padi adalah rendahnya kapasitas kerja tanam padi per satuan luas lahan dan mahalnya biaya tanam.

”Masalah yang muncul pada kegiatan tanam dapat ditangani dengan menerapkan mesin tanam pindah bibit atau transplanter padi,” kata Direktur Alat dan Mesin Pertanian Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan, Andi Nur Alam Syah melalui siaran pers yang dirilis di Jakarta, Senin (10/12). Dia menjelaskan, mesin transplanter menjadi solusi peningkatan kerja kegiatan tanam padi.

Selain menghemat tenaga kerja, mesin juga mempercepat waktu penyelesaian kerja tanam per satuan luas lahan. Faktor tersebut akhirnya mampu menurunkan biaya produksi budi daya padi. Menurut Andi, dampak nyata penggunakan mesin tanam padi terlihat dari hasil pengamatan di tingkat petani.

Pengguna mesin transplanter menunjukkan bahwa rata-rata kinerja satu mesin itu dengan satu orang operator dan dua asisten dapat menggantikan antara 15 hingga 27 hari orang kerja (HOK), sedangkan kemampuan kerja tanam mencapai 1-1,2 hektare per hari.

Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian Kementan telah menghasilkan mesin transplanter yang dinamai Transplanter Jarwo 2:1. Secara umum ratarata biaya tanam padi secara manual sekitar Rp 1,72 per hektare, sedangkan dengan mesin transplanter 2:1 sekitar Rp 1,1 per hektare. (sb,ant-46)