Investasi di Jateng Songsong Era Industri 4.0

SM/Antara  -  ROBOT INDUSTRI : Penjaga stan menjelaskan kepada pengunjung tentang cara kerja robot yang didesain untuk mengelas pada ‘’Pameran Industri & Teknologi Manufaktur’’di Semarang, Jawa Tengah, belum lama ini. (46)
SM/Antara - ROBOT INDUSTRI : Penjaga stan menjelaskan kepada pengunjung tentang cara kerja robot yang didesain untuk mengelas pada ‘’Pameran Industri & Teknologi Manufaktur’’di Semarang, Jawa Tengah, belum lama ini. (46)

SEMARANG - Sehari lagi (Rabu, 12 Desember) ”Seminar Prospek Bisnis & Investasi Jawa Tengah 2019” yang digelar di Aston Hotel & Convention Centre, Jalan MT Haryono, Bundaran Bubakan bakal berlangsung. Beberapa masalah, termasuk hal-hal yang berkait dengan ”industri 4.0” dibahas dalam forum itu. Bagaimana perihal ”industri 4.0” itu?

Beberapa waktu terakhir istilah ‘’industri 4.0’’menggelinding begitu kencang di Tanah Air. Tidak hanya menjadi bahan perbincangan di kalangan pebisnis dan akademisi, bahkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun berulang-ulang menyinggung persoalan itu dalam beberapa kesempatan. Kehadiran industri 4.0 sekarang tidak lepas dari gelombang industri sebelumnya, yakni 1.0, 2.0 dan 3.0.

Mesin uap pada abad ke-18 di Inggris menandai awal revolusi industri 1.0. Penggunaan teknologi mesin uap untuk lokomotif, kapal laut, dan mekanisasi pertanian telah meningkatkan produktivitas manusia dalam kegiatan perekonomian. Tuntutan menjadi produktif terus berlanjut hingga memasuki abad ke-20. Revolusi industri 2.0 dimulai.

Pendekatan scientific management dari Frederick W Taylor diaplikasikan di pabrik mobil Ford untuk produksi massal. Mass production yang bekerja di suatu assembly line itu merombak cara kerja menghasilkan barang agar lebih cepat dan lebih murah (katadata.co.id, 2018).

Tuntutan memproduksi barang dengan produktivitas tinggi tidak pernah berhenti. Penemuan Programmable Logic Controller (PLC) pada 1960-an memungkinkan otomatisasi dan robotisasi dalam sistem produksi. Inilah awal revolusi industri 3.0. Produksi massal dilakukan secara lebih berkualitas, lebih cepat, dan lebih murah.

Selanjutnya, tuntutan bagi pembuat barang tidak hanya sebatas bekerja otomatis dalam internal pabrik. Lebih dari itu, harus mampu mengorkestrasikan siapa pun mitranya dalam jejaring pasokan untuk memenuhi segala permintaan pasar secara responsif sekaligus efisien. Produksi massal industri 2.0 plus otomatisasi industri 3.0 cocok untuk proses produksi dengan volume tinggi dan varian produk yang rendah. Inilah hukum besi dalam memproduksi.

Seiring dengan semakin canggih pengguna, perusahaan mesti mampu membuat berbagai produk yang diinginkan dalam jumlah berapa pun. Inilah tantangan utama mass personalization yang belum terjawab hingga industri 3.0. Kemudian, industri 4.0 datang untuk menjawab. Industri 4.0 terkait dengan optimalisasi semua sumber daya dalam jejaring bisnis untuk memenuhi permintaan pasar. Optimalisasi sebenarnya bukanlah hal baru, yang membedakan adalah pada bagaimana cara memainkan dalam melakukan optimalisasi tersebut.

Bagaimana memainkan pada industri 4.0 ditentukan oleh orkestrasi solid berbagai teknologi pendukung, di antaranya internet of things, 3D printing, cloud computing, artificial intelligence, dan big data analytics, di samping teknologi robot yang kian otonom. Semua memungkinkan terjadi konektivitas dan interaksi antarpemangku kepentingan dan sumber daya dalam jejaring bisnis.

Ditambah keputusan pintar hasil analisa big data dan pabrik pintar di industri 4.0 akan menghasilkan solusi cerdas. Solusinya, siapa melakukan apa, dalam jumlah berapa, untuk siapa, dan dikirimkan pada waktu apa tanpa mengorbankan keuntungan.

Melihat manfaat dari industri 4.0, tidak mengherankan apabila banyak negara termasuk Indonesia menyambut dan mulai menyiapkan peta jalan implementasi. Akan tetapi, benarkah industri 4.0 memberikan manfaat? Siapa saja yang memerlukan?

Permintaan Pasar

Bisnis bertujuan memenuhi permintaan pasar dengan pasokan cukup. Namun, tidak mudah karena dua sisi tersebut memiliki tingkat ketidakpastian masing-masing.

Makin tidak pasti lanskap yang dihadapi perusahaan baik dari segi demand maupun supply, tambah berisiko untuk mengamankan profit. Pelaku industri 4.0 dituntut bukan hanya produksi massal, tapi hingga mass personalization yang berkaitan sangat erat dengan ketidakpastian permintaan yang tinggi, baik volume maupun varian produk, serta ketidakpastian pasokan yang juga tinggi. Bagi pelaku bisnis di Tanah Air, silakan lihat posisinya dalam lanskap ketidakpastian. Bagi pembuat produk fungsional yang permintaannya stabil dan pasokannya aman, industri 4.0 bukan untuk Anda.

Namun bagi pembuat produk inovatif yang permintaannya cepat berubah sesuai dengan selera konsumen, bersiaplah menjadi bagian dari jejaring industri 4.0. Masuk industri 4.0 bukan sekadar investasi teknologi cerdas yang menjadikan pembuat cerdas. Menjadi pemain di dalamnya butuh inovasi model bisnis. Perusahaan yang merangkul industri 4.0 harus menyadari ada customerís jobs to be done yang terus-menerus berubah, sehingga solusi berikut value proposition juga berubah. Pemerintah terus menjaga iklim investasi di tengah perkembangan revolusi industri 4.0.

Investasi berbasis teknologi akan tumbuh seturut dengan pergeseran ke industri tersebut. Sejauh ini sudah disiapkan lima sektor untuk dihadapkan pada revolusi industri 4.0, yakni makanan dan minuman, tekstil, otomotif, elektronik, dan kimia. Implementasi industri generasi keempat itu perlu diikuti pembentukan ekosistem yang sehat dan berkesinambungan, agar efektif dan dapat menggerakkan seluruh sektor ekonomi. Masyarakat Indonesia sebenarnya sudah mulai terbiasa menggunakan teknologi, namun belum memanfaatkan secara optimal.

Terlebih dalam urusan produktivitas yang dapat mengembangkan ekonomi digital. Revolusi industri 4.0 sebenarnya sudah berjalan pada saat ini di Tanah Air. Sebagai contoh, kehadiran start up Go- Jek yang terbukti memudahkan masyarakat, karena bisa memesan transportasi atau makanan hanya lewat ponsel dalam genggamannya. Ada kekhawatiran, industri 4.0 bakal mengurangi penyerapan tenaga kerja. Memang, kenyataan demikian tak bisa dihindarkan. Ada beberapa pekerjaan yang lebih efektif dan efisien ditangani robot.

Tetapi tetap ada yang membutuhkan penanganan secara manual. Di samping itu, bakal muncul peluang-peluang kerja baru yang bisa dimanfaatkan. Bagaimana dengan Jawa Tengah (Jateng)? Sudah siapkah menghadapi gelombang revolusi industri 4.0? Siap atau tidak siap, kehadiran industri 4.0 adalah suatu keniscayaan. Dalam konteks mendatangkan investasi untuk menyejahterakan masyarakat, pemerintah provinsi (pemprov) beserta pemerintah kabupaten (pemkab), pemerntah kota (pemkot), dan instansi teknis perlu segera menyiapkan langkah-langkah antisipasi, terutama regulasi yang selama ini selalu dikeluhkan calon investor.

Perizinan terus dibenahi dan disempurnakan, begitu pula sarana dan prasarana pendukung berupa jalan, pelabuhan, bandara, dan sebagainya. Kini, yang penting disiapkan adalah sumber daya manusia (SDM) supaya bisa menyikapi perubahan-perubahan sebagai konsekuensi dari penerapan industri 4.0. Jangan sampai ada tenaga kerja tersingkir dan cuma jadi penonton.

Investasi selalu mendatangkan peluang baru, termasuk kesempatan kerja meski secara tidak langsung. Pusat-pusat pendidikan dan pelatihan baik yang dikelola oleh swasta maupun pemerintah perlu mendinamisasi diri, tidak terjebak pada rutinitas dan pola-pola konvensional. Makna bekerja sekarang pun sudah berubah, tidak lagi identik dengan kantor, pakaian seragam, dan jam kerja tertentu. Muncul profesi atau pekerjaan baru yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh kalangan generasi tua. Barista, selebgram, dan gamer hanyalah segelintir contoh ‘’pekerjaan’’ baru itu. (Bambang Tri Subeno-46)


Loading...
Komentar