Perajin Tempe Benguk Dikhawatirkan Punah

SM/Anindito AN - KERIPIK BENGUK- Keripik Benguk produsen asal Desa Bago, Kecamatan Grobogan dijual pedagang di area car free day (CFD) Sragen, masih diminati pembeli.(21)
SM/Anindito AN - KERIPIK BENGUK- Keripik Benguk produsen asal Desa Bago, Kecamatan Grobogan dijual pedagang di area car free day (CFD) Sragen, masih diminati pembeli.(21)

PRODUKSI tempe dan keripik Benguk di Sragen mengalami penurunan drastis. Bahkan dikhawatirkan makanan yang diolah dengan cara fermentasi dari koro benguk (Mucuna pruriens L) itu lambat laun bakal punah.

Karena bahan baku koro benguk dari tanaman merambat itu sudah semakin sulit diperoleh. Begitu pula generasi penerus pembuatan tempe benguk di Sragen makin menyusut. ”Sekarang ini makin sulit mencari koro benguk,” tutur Wulandari pedagang tempe dan keripik Benguk ditemui di car free day (CFD) Sragen, Minggu lalu.

Dampaknya produksi tempe maupun keripik benguk berkurang. Wulandari warga Dusun Grasak, Desa Bago, Kecamatan Kradenan, Grobogan mengatakan banyak pedagang tempe Benguk dari Desa Bago mencari bahan baku Koro Benguk sampai di wilayah Desa Galeh, Kecamatan Tangen maupun di Desa Ngepringan, Kecamatan Jenar, Sragen.

Kedua wilayah itu relatif dekat dengan Desa Bago, Kradenan Namun di wilayah kedua desa itu bahan baku Koro Benguk pun sulit diperoleh. Padahal lima tahun lalu, Koro Benguk untuk bahan baku pembuatan tempe Benguk masih mudah didapat.

Bahkan di wilayah kawasan sekitar Waduk Kedung Ombo (WKO) dikenal sebagai penghasil Koro Benguk. Karena kesulitan bahan baku, perajin tidak bisa memproduksi banyak. ”Sebenarnya masih laku, tapi produksinya terbatas,” ungkap Wuandari.

Kades Ngepringan Samsuwarno mengatakan di Desa Ngepringan dulu terdapat banyak pengusaha tempe Benguk. Di antara perajin pembuat tempe Benguk yang masih bertahan Maiyem warga Dukuh Pungkruk RT05 dan Pariyem warga Dukuh Ngampo RT 03, Desa Ngepringan, Kecamatan Jenar, Sragen.

”Kedua pedagang itu bertahan sebagai perajin pembuat tempe Benguk selama 20 tahun,” ungkap Samsuwarno. Sedangkan generasi muda sekarang tidak tertarik terjun sebagai perajin tempe benguk. Kalangan generasi muda lebih tertarik bekerja di kota sebagai buruh di pabrik tekstil maupun karyawan kantor swasta dengan standar Upah Minimum Kabupaten (UMK).

Dikhawatirkan jumlah perajin lambat laun bakal berkurang drastis. Hasil pengamatan keripik benguk masih disukai warga Sragen Kota. Tapi untuk konsumsi seharihari warga memilik tempe dari bahan baku kedelai, bukan dari Koro Benguk. (Anindito AN-21)


Berita Terkait
Loading...
Komentar