Sekilas Seputar Arsitektur Masjid Klasik

Oleh Bangun IRH (Anggota tim Sinfar IAI Jawa Tengah dan staf pengajar Arsitektur Undip)

Tak terasa kita sebentar lagi akan meninggalkan bulan Maulid/Rabiul Awal sekaligus menuju ke penghujung tahun penanggalan Masehi.

Pada tulisan sebelumnya tentang pengenalan masjid terdapat ruang-ruang dasar seperti : tempat shalat, ruang wudhu, ruang pemberitaan waktu salat dan ruang pelengkap atau tambahan beserta ornamentasi-simbolisasi terkait Islam pada elemen arsitekturalnya. Pada masjid klasik di Jawa terutama di area kerajaan/ kasultanan, ruang-ruang dasar tersebut bersinergi dengan simbolisasi nilai Islam secara jelas maupun tersamarkan. Sehingga proses kreatif dengan simbolisasi dan adaptasi ini dapat menjadi pelajaran bagi desainer masjid kekinian tanpa meninggalkan kearifan lokal maupun menghilangkan nilai universalnya.

Menurut Bambang Setiabudi (2005), arsitektur mesjid klasik di Jawa dapat digolongkan menjadi empat, yaitu : masjid agung; langgar kratorn, masjid komunitas, dan masjid terpencil. Mesjid Agung adalah Mesjid besar yang biasanya terletak di (bagian barat) alunalun pusat kerajaan sehingga menjadi simbol kekuasaan Sultan dan menjadi lokasi utama untuk kegiatan relijius seremonial seperti salat Jumat maupun peringatan Sekaten/Gunungan dan lain-lain Pendekatan kontekstual dan fungsional dari masjid ini membuat ukurannya berkapasitas paling besar di antara jenis masjid yang lain. Sederhananya, Masjid ini merupakan masjid publik di tengah ibukota yang digunakan sebagai simbol spiritualitas masyarakat Jawa sehingga banyak kegiatan masyarakat ibukota di Jawa dimulai dari masjid agung, seperti tradisi sekaten, grebeg, dugder, hingga kirab kraton selalu diawali dengan doa bersama di masjid ini. Langgar keraton adalah beberapa masjid kecil (biasanya hanya satu atau dua) yang terletak dalam keraton sehingga bersifat privat hanya untuk keluarga kerajaan dan abdi dalamnya saja. Langgar ini dipergunakan untuk kegiatan sembahyang keluarga kerajaan, mengaji hingga tempat pemulasaraan jenazah sementara keluarga kerajaan seperti langgar Pudyosono di Surakarta.

Karena lokasinya yang privasinya tinggi terutama langgar Penepen di keputrian kasultanan Yogyakarta sebelum modernisasi keraton maupun keruntuhan kasultanan, sedikit sekali data yang dapat diketahui oleh umum. Beberapa pendapat menyebutkan bahwa langgar ini hanya digunakan untuk rangkaian upacara pernikahan dari pihak putri. Imbas lain dari tingkat privasi yang tinggi adalah langgar ini sering dikatakan masjid keramat oleh masyarakat umum. Mesjid komunitas sesuai namanya terletak di masyarakat maupun pesantren sebagai tempat berdakwah dan sembahyang sesuai dengan komunitas yang berada di sekitar masjid. Contohnya adalah masjid Suranata di area abdi dalam Surakarta, masjid pecinan tinggi (Tionghoa) dan pekojan (India) di Banten, dan masjid Panjunan (Arab) di Cirebon.

Di jenis masjid komunitas ini terdapat tipe khusus seperti : Mesjid Pathok Negoro yang menurut Endang Setyowati (2017) merupakan masjid penanda batas wilayah kekuasaan keraton di tanah perdikan yang berjumlah lima sesuai dengan rukun islam maupun jumlah salat wajib dalam sehari. Terakhir adalah masjid terpencil yang diduga terpengaruh oleh kebiasaan jaman Hindu-Budha untuk meletakkan tempat sakral pada area pegunungan yang jauh dari keramaian. Pada fase awal kesultanan Demak dan Cirebon, masjid terpencil ini untuk bersembahyang, berdakwah dan menyepi keluarga keraton.

Fase selanjutnya masjid terpencil ini adalah tempat bersembahyang untuk peziarah makam kerajaan, seperti : masjid Imogiri, masjid Girilaya, masjid Panjimatan dan masjid makam Bayat. Dari keempat tipe masjid tadi biasanya memiliki elemen arsitektur Jawa-Islam yang secara simbolik disampaikan seperti: Penggunaan regol masjid yang biasa disebut Gapura (dari kata Gofur/ngapura yang berarti pengampunan/ maaf) sebelum memasuki kawasan masjid, pembangunan parit mengelilingi masjid untuk area pensucian sebelum berwudhu untuk shalat, maupun penggunaan atap tajug bertingkat tiga yang menggunakan mahkota yang melambangkan iman-islam-ihsan yang sering juga dianalisa sebagai akulturasi dari Meru (Hindu) dan Pagoda (Budha).

Keseimbangan

Yang unik dari masjid Jawa adalah upaya memisahkan ruangan sembahyang untuk pria dan wanita dengan menyediakan kaputren/pawestren untuk kaum wanita beribadah di sebelah ruang sembahyang utama yang digunakan oleh pria. Kebiasaan ini diteruskan oleh kaum migran asal Jawa untuk mendesain mushala maupun masjid di luar negeri. Pawestren ini selain untuk sembahyang dilengkapi dengan area wudhu dan kamar mandi bahkan terkoneksi dengan dapur masjid untuk memasak. Pada struktur bangunan penggunaan emper/serambi masjid sebagai ruang kegiatan tambahan maupun cadangan bila ruang utama tidak cukup untuk salat Jemaah dibuat simetris dan moduler untuk menjaga area kiri dan kanan masjid sama besar yang melambangkan keseimbangan.

Selain itu sakaguru yang dipakai melambangkan 4 mata angin dengan satu pusat yang mengisyaratkan lima rukun. Ornamentasi masjid klasik di Jawa pada dasarnya mengikuti kaidah menyamarkan bentuk mahluk hidup (hewan dan manusia) dengan kaligrafi, bentuk flora, maupun permainan garis dan bidang lainnya. Sebagai contoh : candrasengkala masjid Demak yang didirikan 1401 Saka disimbolkan dengan bentukan mirip bulus (1 ekor 0 badan 4 kaki 1 kepala) di mihrabnya, atau pun candra sengkala 1388 saka dari peletakan batu pertamanya yang berbunyi Naga Mulat Sarira Wani dengan mengaburkan bentuk naga menjadi beledek (petir) pada elemen pintu masuk masjid.

Selain itu terdapat bentukan masjid unik seperti sumur gumuling di Yogya yang melingkar dengan pusat berupa anak tangga dan sumur kecil. Beberapa opini menyebutkan bahwa masjid bawah tanah ini dikelilingi oleh aliran air seperti analogi surga yang sejuk dikelilingi sungai, dan memiliki satu pintu sebagai lambang manusia yang berasal dari Tuhan dan akan kembali juga kepada-Nya.

Seiring perkembangan zaman, proses disain masjid di Jawa sempat mengalami fase duplikasi dari rencana induk maupun peniruan dari budaya luar Jawa yang membuat proses desain kreatif masjid klasik ini ditinggalkan dan terhapus dari ingatan kita. Tetapi beberapa tahun ini proses simbolisasi, respon terhadap budaya lokal kembali digiatkan oleh para desainer.

Bahkan di PermenPU no.14 tahun 2017 tentang kemudahan aksesibilitas bangunan gedung juga menyebutkan standar pemenuhan ruang ibadah pada tiap bangunan sehingga diharapkan mampu memacu kreatifitas arsitek untuk mendesain masjid.(53)