Bikin Penikmat Puas

SM/Adi Purnomo  -  Durian Tarmin
SM/Adi Purnomo - Durian Tarmin

MASYARAKAT luas lebih mengenal Durian Petruk sebagai durian unggul asal Jepara. Padahal Kota Ukir juga memiliki satu durian unggul lainnya yang telah tersertifikasi yaitu Durian Tarmin.

Durian Tarmin kali pertama menarik perhatian saat mengikuti lomba buah durian yang rutin diselenggarakan dinas terkait pada 1995. Saat itu, durian yang sudah terkenal sebagai durian unggul di Jepara adalah Durian Petruk. Durian Tarmin yang menang dalam lomba itu membuka kenyataan soal potensi durian lainnya di Jepara.

Dari sisi luar, Durian Tarmin memiliki ciri yang cukup mencolok. Di tangkai buahnya terdapat benjolan melingkar yang menyerupai cincin. Bentuk buah mirip segitiga terbalik. Lebar di bagian pangkal dan tirus ke ujung. ”Benjolan melingkar seperti cincin di tangkai buah hanya Durian Tarmin yang punya.

Dari sekian durian di Jepara yang saya ketahui, tidak ada yang punya seperti itu,” terang Djoko Suprihantono yang membudidayakan Durian Tarmin sejak 2015 itu. Djoko yang maniak durian ini mengemukakan, untuk ciri lain, daun dari pohon Durian Tarmin tulang daunnya lebih jelas terlihat dibandingkan jenis lainnya.

Ukuran buahnya pun tidak terlalu besar. Bobotnya ada di kisaran 1,5 kilogram hingga 2,5 kilogram per buah. Soal rasa, Durian Tarmin juga memiliki ciri khas. Rasa manis yang dominan berpadu dengan rasa pahit yang samar-samar terasa.

Buah durian berwarna kuning ini bakal memuaskan penikmat durian karena daging buahnya tebal. Sebab biji buah cenderung kecil, bahkan kadang tidak ada bijinya. Daging buah juga sangat lembut dan hanya sedikit serat.

”Bijinya banyak yang kempet (kempis). Sehingga dagingnya memang tebal,” imbuh Djoko yang juga penyuluh pertanian di Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Batealit Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara ini.

Nikmatnya Durian Tarmin diperkirakan akan bisa dinikmati oleh masyarakat luas sekitar dua sampai tiga tahun lagi. Sebab kendati sudah menjadi durian unggul, Durian Tarmin baru dibudidayakan secara masif sekitar tiga tahun lalu.

Tapi nasib Durian Tarmin ini bisa dibilang lebih beruntung ketimbang Durian Petruk. Durian Tarmin sudah mulai banyak dibudidayakan secara swadaya oleh masyarakat, maupun campur tangan dari DKPP Jepara. Pohon induk pun sampai saat in masih kokoh berdiri dan dijadikan sumber bibit untuk dikembangbiakkan.

Durian Karangayar

Adapun empat varietas unggul dari Karangayar (Durian Matesih, Lawkra, Teji atau Sukun) belum dibudidaya secara masif. Sebab, durian di Karanganyar rata-rata berasal dari pohon yang sudah berusia puluhan tahun. Belum banyak petani yang membudidayakan varietas unggul tersebut dengan menanam sejak dari bibit, hingga bisa menghasilkan buah.

Kabid Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Pangan Riyanto Sujudi mengakui, Karanganyar termasuk daerah penghasil durian.

Sentranya tersebar di beberapa kecamatan, antara lain Matesih, Jumantono, Jumapolo, Jatipuro dan Mojogedang. ”Tapi belum banyak petani yang fokus membudidayakan durian. Kebanyakan masih sambilan, fokusnya ke tanaman padi atau palawija.

Kalaupun ngurusi durian, biasanya karena kebetulan punya pohon di pekarangannya. Itu pun biasanya tinggalan simbah atau orang tuanya. Jadi usia pohonnya sudah puluhan tahun, tapi masih produktif,” katanya.

Munculnya varietas unggul, menurut Riyanto, tidak lepas dari digelarnya festival durian pada awal Januari 2018. Tujuan festival itu, salah satunya mencari varietas durian unggul di Karanganyar, yang nantinya bisa dikembangkan sebagai potensi andalan.

Termasuk mencari varietas yang sempat menghilang, seperti Durian Sukun. Penamaan varietas itu, juga dilakukan petani sendiri. Seperti Durian Teji, karena dari Kampung Teji. Atau Durian Matesih karena buahnya berasal dari pohon yang tumbuh di Matesih.

Dalam penanganannya pun, sebagian petani pemilik pohon durian melakukannya secara sambil lalu. Pemupukan dilakukan seadanya, dengan meletakkan sampah dari kulit buah durian di sekitar pohon, agar membusuk menjadi pupuk organik.

Sertifikat unggul bagi empat varietas durian itu, diharapkan menjadi ”pintu gerbang” untuk pembudidayaan secara lebih serius. Proses pembenihan atau pembibitan bisa dilakukan, sebagai langkah awal pembudidayaan di kalangan petani. (Adi Purnomo, Irfan Salafudin-23)


Berita Terkait
Loading...
Komentar