Bantuan RTLH Disunat

Tersisa Rp 7 Juta untuk Renovasi

SM/Hendra Setiawan : BANTUAN RTLH : Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi meninjau di lokasi penerima bantuan Rumah Tidak Layak Huni di Kelurahan Kuningan, Kecamatan Semarang Utara, belum lama ini. (61)
SM/Hendra Setiawan : BANTUAN RTLH : Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi meninjau di lokasi penerima bantuan Rumah Tidak Layak Huni di Kelurahan Kuningan, Kecamatan Semarang Utara, belum lama ini. (61)

SEMARANG -Warga di Kelurahan Kuningan Kecamatan Semarang Utara mengeluhkan adanya pemotongan anggaran untuk bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RLTH).

Salah satu penerima bantuan yang juga merupakan warga setempat, Sri Widayanti (53) mengungkapkan jika besaran bantuan dari Pemkot Semarang pada awalnya sebesar Rp 15 juta untuk satu rumah. ''Rp 15 juta itu dipotong pajak 10 persen, ongkos tukang Rp 2,5 juta. Namun kenyataannya hanya mendapatkan Rp 7 juta dari sisa tersebut,'' ujar Widayanti yang merupakan warga RT 03/11 Kelurahan Kuningan, Jumat (7/12).

Alhasil, hanya dengan uang bantuan Rp 7 juta tersebut, rehabilitasi rumahnya pun tidak bisa selesai. Ia pun harus mencari tambahan lain dengan meminjam kepada warga atau keluarga lain. ''Mulai dibangun sudah dua pekan yang lalu. Ini penambahan saja. Dari anggaran yang disediakan pemerintah Rp 15 juta. Saat realisasi dapat Rp 7 juta plus Rp 2, 5 juta untuk tukang,'' katanya.

Dia tidak tahu menahu, sisa kurang lebih Rp 4 juta dari total bantuan RTLH. Sehingga rehabilitasi rumahnya yang berukuran 7 x 8 meter tersebut hingga kini juga belum selesai karena tersendat anggaran. Hal senada juga diungkapkan Sri Lestari (43), warga Kelurahan Kuningan RT 03/03 yang senasib dengan tetangganya. Dirinya juga mendapatkan bantuan Rp 7 juta dari total anggaran per rumah untuk RTLH sebesar Rp 15 juta. ‘’Yang dikeluhkan dapat bantuan tetapi tambah mumet tomboknya. Karena dananya hanya cukup untuk separuh bangunan rumah saja,’’ kata Lestari.

Meski begitu, dia tetap terima apabila pemotongan tersebut sesuai dengan regulasi yang telah ditetapkan pemerintah. Di mana pemotongan hanya sebesar 10 persen dari total bantuan perumah dan Rp 2,5 juta untuk biaya tukang per rumah.

Sidak

Mengetahui hal itu, Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi langsung melakukan sidak ke Kelurahan Kuningan. ‘’Ini citra buruk bagi bantuan sosial berupa RLTH di beberapa wilayah (Kota Semarang) ternyata meninggalkan banyak persoalan,’’ ujar Supriyadi.

Lebih lanjut ia menjelaskan, beberapa persoalan yang lain yaitu bangunan tidak awet. ‘’Ketika sudah beberapa bulan sudah rusak, banyak yang bocor, bahkan runtuh,’’ katanya.

Karenannya, dia menyesalkan jika masih ada pemotongan dari pihakpihak yang kurang bertanggungjawab dalam program Pemkot Semarang tersebut. ‘’Ini kita membuktikan bahwa adanya bantuan RTLH banyak potongan di situ. Uang Rp 15 juta yang didapat dari pemkot sampai lapangan hanya Rp 7 juta. Belum ditambah tukang 2,5 juta, yang Rp 5 juta itu ke mana tidak jelas,’’ tuturnya.

Karena hal itu dia berharap supaya Pemkot Semarang melakukan investigasi terhadap realisasi dari program RLTH selama ini. ‘’Karenannya harus ada investigasi dari inspektorat dan juga kejaksaan harus turun. Karena ini menyangkut masyarakat yang mana mereka mendapatkan hak tidak sesuai dengan yang di tetapkan oleh pemerintah kota,’’ ujarnya.

Dikatakan Supriyadi, jika dalam satu tahun Pemkot Semarang mentargetkan 1.000 RTLH. Sementara itu, Plt Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kota Semarang, Ali menjelaskan jika masing-masing bantuan RTLH untuk satu rumah sebesar Rp 15 juta. ‘’Kalau sampai lapangan Rp 7 juta itu tidak tepat karena dari (Pemkot Semarang) itu Rp 15 juta. Nanti akan saya crosscek dulu” katanya. (K18-61)


Berita Terkait
Komentar