Amangkurat Telah ”Mangkat”

SM/Dini Failasufa : KISAH AMANGKURAT : Lakon sandiwara menampilkan kisah Amangkurat di Ruang B1 106 Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Kamis (6/12) malam. (48)
SM/Dini Failasufa : KISAH AMANGKURAT : Lakon sandiwara menampilkan kisah Amangkurat di Ruang B1 106 Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Kamis (6/12) malam. (48)

SEMARANG - Sandiwara kesunyian telah dipentaskan. Naskah yang menceritakan tentang sejarah panjang Mataram, Amangkurat, Amangkurat, telah dipertontonkan dengan beberapa adegan yang menyentuh.

Karakter tokoh dan musik yang penuh kepiluan seolah berhasil membuat penonton larut dalam kesedihan. Parade kematian dan pembunuhan itu menjadi pertunjukan yang menghipnotis selama hampir 90 menit. Pentas di akhir adegan yang menceritakan Kematian Amangkurat, ini mengundang aplaus penonton di Ruang B1 106 Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Kamis (6/12) malam.

Lakon yang ditulis Goenawan Mohamad itu menjadi penutup perhelatan pementasan teater dari Sastra Indonesia Unnes angkatan 2016. Genta Karsa, sebutan mereka, telah menggelar pementasan teater tiga hari berturut dengan tiga naskah berbeda. Los Bagados de Los Pencos karya WS Rendra menjadi pembuka pementasan tersebut. Disusul lakon Kalabendukarya Giwing Purba di hari kedua dan diselesaikan secara apik oleh para pemeran Amangkurat, Amangkurat karya Goenawan Mohamad di hari ketiga. Sutradara Amangkurat, Amangkurat, Septian Arie mengatakan, banyak kendala yang dihadapi saat proses kreatif berjalan. Mulai dari permasalahan internal hingga kesulitan mencari tempat untuk pentas. ”Banyak sekali kendala yang terjadi saat proses latihan.

Apalagi naskah ini ada banyak adegan peperangan. Ada lebam di tangan, mata, dan pelipis. Meski demikian, Amangkurat harus mangkat (berangkat)!” ujar sutradara yang juga berperan sebagai Amangkurat itu.

Disukai

Mahasiswa yang akrab disapa Aka itu menambahkan, Amangkurat, Amangkurat merupakan salah satu naskah teater yang disukainya.

Menurutnya, Amangkurat merupakan seorang raja yang memiliki latar belakang luar biasa. ”Menurut Sejarah Babad Tanah Jawa, Amangkurat merupakan satu-satunya raja yang membantai ribuan ulama. Salah satu kalimat Amangkurat yang masih saya ingat adalah ”Jika kalian menghakimiku dengan kekuasaan langit, aku bisa menghakimimu dengan kekuasaan lain, kekuasaan Mataram!”, begitu kira-kira,” paparnya. Meski memikul tanggung jawab berat sebagai sutradara dan tokoh utama, dia mengaku dukungan teman-teman merupakan hal yang membuatnya bisa melalui itu semua. Selain dia, beberapa pemain yang terlibat dalam lakon tersebut yakni Fidho Gunawan sebagai Juru Taman, Aditya Firdaus sebagai Pangeran Adipati, Muhammad Ridho sebagai Pangeran Puger, Ali Muchlisin sebagai Tumenggung, Anggi Indriani sebagai Sahoyi, dan Habiba Sofia sebagai Perempuan Tua. ”Saya salut dengan teman-teman, baik yang terlibat secara langsung maupun tidak. Meskipun hanya sekelumit dukungan yang diberikan, setidaknya ada yang membekas di ingatan dan kepala,” ucap Aka. (Resla Aknaita Chak-48)


Berita Terkait
Komentar