FIGUR

Tak Tinggal Diam

SM/Won Poerwono : GKR Wandansari Koes Moertijah
SM/Won Poerwono : GKR Wandansari Koes Moertijah

DALAM situasi dan kondisi di keraton yang sulit dan seakan menghimpitnya, salah seorang puteri almarhum Sinuhun Paku Buwono XII yang diberi julukan Puteri Mbalela ini mengalami banyak hal yang serba tidak enak dan merasakan berat beban yang dipikul akhir-akhir ini. Namun lulusan S-1 Sastra Jawa dan Magister Pendidikan UNS itu sangat sadar bahwa dirinya tidak boleh berpaling dari tugas, tanggung jawab, dan kewajiban untuk terus mendedikasikan dirinya bagi tegaknya adat-istiadat dan budaya keraton demi pelestarian dan eksistensi Keraton Surakarta Hadiningrat. ”Kalau mbakyu-mbakyu saya sudah ada yang tampak bosan dan lelah dalam menyaksikan situasi dan kondisi keraton, saya tidak boleh tinggal diam. Saya sangat sadar mendapat beban dan kepercayaan untuk terus memperjuangkan adat-istiadat dan paugeran demi terjaganya eksistensi dan kelestarian keraton,” tegas GKR Wandansari Koes Moertijah yang akrab disapa Gusti Moeng itu, dalam suatu kesempatan ngobrol dengan Suara Merdeka, baru-baru ini.

Kalimat tidak boleh tinggal diam yang dimaksud Pengageng Sasana Wilapa itu adalah berbuat sesuatu, mengupayakan sesuatu dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang yang berada di belakangnya. Koreografer dan instruktur tari peraih penghargaan The Fukuoka Culture Prize Award dari Jepang 2012 itu menyebut, hampir semua unsur pengageng bebadan atau kabinet beserta jajarannya bentukan 2004 yang kini tersisih akibat peristiwa pendudukan, April 2017, sangat bergantung pada perjuangan dirinya, terutama melalui jalur proses hukum positif di pengadilan. Namun, apa yang bisa dilakukan di luar tembok bangunan inti keraton yang selalu terkunci rapat dari dalam?

Ternyata masih sangat banyak yang bisa dilakukan wanita yang pernah berorasi di depan Balai Kota ketika berlangsung Reformasi Mei 1998 itu. Mulai dari mengajak berlatih para abdi dalemseniman karawitan dan tari, sampai menjalankan tugas-tugas adat di keraton dan tugas-tugas eksternal keraton seperti mengikuti acara Festival Keraton Nusantara (FKN) yang diselenggarakan FSKN di Madura (Oktober) dan FKIKN di Istana Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar (Sumbar) baru-baru ini.

Dimanfaatkan

Intinya, dengan segala fasilitas yang tersisa di keraton, pasti dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menjalankan tugasnya sebagai putri dalem dan sebagai representasi bangsawan keraton. Walaupun hanya ada kediaman adik kandungnya (GKR Ayu Koes Indriyah) di ndalem Kayonan maupun kompleks Sitinggil Lor dan Pendapa pagelaran Sasana Sumewa, kegiatan belajar-mengajar Sanggar Pasinaon Pambiwara harus terlaksana sampai selesai tuntas selama 6 bulan hingga wisuda.

”Kalau Presiden Jokowi punya moto untuk kabinetnya ”kerja... kerja”, saya pun tiap hari juga harus kerja dan kerja. Tak ada kata menyerah. Tak akan ada kata tinggal diam. Keraton dengan segala aset tangible maupun intangible harus diselamatkan dari para perusak,” kata Sekjen FKIKN ini bersemangat. (Won Poerwono-51)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar