JK: TNI-Polri Harus Operasi Besar-besaran

SM/Antara - KORBAN SELAMAT: Petugas membawa korban selamat dari penembakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) saat tiba dengan helikopter di Bandara Moses Kilangin Timika, Mimika, Papua, Kamis (6/12). Sementara itu petugas gabungan TNI dan Polri juga mendata keluarga korban penembakan KKB.(24)
SM/Antara - KORBAN SELAMAT: Petugas membawa korban selamat dari penembakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) saat tiba dengan helikopter di Bandara Moses Kilangin Timika, Mimika, Papua, Kamis (6/12). Sementara itu petugas gabungan TNI dan Polri juga mendata keluarga korban penembakan KKB.(24)

PADANG - Jajaran TNI dan Polri harus menggelar operasi besar-besaran, menyusul tragedi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berupa penembakan terhadap pekerja konstruksi di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua.

Hal tersebut dikatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Kamis (6/12). ìSupaya jangan dituduh kita yang melanggar HAM, padahal yang melanggar HAM itu siapa? Mereka (pelaku) kan yang melanggar HAM. Oleh karena itu polisi dan TNI harus operasi besar-besaran,î kata dia di Bandara Internasional Minangkabau, Padang, Sumatera Barat.

Lebih lanjut JK mengatakan, aksi brutal dengan menembaki pekerja yang sedang membangun infrastruktur di Papua itu merupakan pelanggaran HAM. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) juga telah menggelar jumpa pers dan mengutuk keras penembakan tersebut.

Komnas HAM memasukkan kekerasan mematikan itu sebagai pelanggaran HAM serius. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah memerintahkan jajaran TNI dan Polri untuk menangkap para pelaku.

Ia mengatakan, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bersama Wakapolri Komjen Ari Dono telah berada di Papua untuk menangani kasus itu. ”Saya tegaskan bahwa tidak ada tempat untuk kelompokkelompok kriminal bersenjata seperti ini di tanah Papua, maupun di seluruh pelosok Tanah Air,” kata Jokowi.

Seperti diberitakan, 31 pekerja proyek jalan Trans Papua yang sedang bekerja membangun jembatan di Kali Yigi dan Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, diduga dibunuh kelompok bersenjata, Minggu malam (2/12). Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menegaskan, pembunuhan terhadap para karyawan PT Istaka Karya itu bukan kasus kriminal biasa. Selain itu, tindakan tersebut adalah perbuatan yang sangat keji.

”Karena itu TNI-Polri akan tindak tegas agar masyarakat tenang. Mereka akan segera kami tangkap dan diproses hukum,” katanya di hanggar Airfast Bandara Mozes Kilangin, Timika, Papua, kemarin. Menurutnya, saat terjadi penyerangan di lokasi kejadian terdapat 25 karyawan, 14 di antaranya dieksekusi di tempat. ”Kemudian, 11 orang lainnya berusaha menyelamatkan diri.

Dari 11 orang itu, empat orang berhasil sampai di Pos TNI Mbua, namun lima orang tertangkap dan dieksekusi,” ujarnya. Adapun dua orang lainnya diperkirakan masih hidup, namun hingga kini belum ditemukan. Pelaku juga menyerang Pos TNI di Mbua.

”Hal itu menyebabkan prajurit TNI Sertu Anumerta Handoko gugur,’’ujarnya. Wakil Kepala Penerangan Kodam XII/Cendrawasih Letkol Infantri Dax Sianturi menjelaskan, 20 orang ditemukan selamat seusai penembakan itu. Hal itu merupakan data sementara yang didapatkan aparat gabungan TNI/Polri yang menyisir Distrik Yigi dan Distrik Mbua sejak Selasa (4/12) hingga Kamis (6/12) siang.

Dax memerinci, 20 korban selamat itu adalah lima karyawan PT Istaka Karya, enam pekerja bangunan Puskesmas Mbua, dua pekerja SMP Mbua, dan tujuh pekerja bangunan rumah dokter di Distrik Yigi. Awalnya, personel gabungan menemukan 12 orang yang selamat pada Selasa (2/12).

Kemudian, operasi penyelamatan pada Rabu (5/12) berhasil mengevakuasi tiga orang. ”Dan hari ini (Kamis), tim berhasil menemukan 5 orang selamat, namun 5 orang masih di lokasi untuk menunggu evakuasi,” papar Dax.

Salah satu dari lima korban selamat yang ditemukan kemarin merupakan pekerja PT Istaka Karya bernama Johny Arung. Kapendam XVII/Cendrawasih Kolonel Infantri Muhammad Aidi, mengatakan, kelompok kriminal bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya masih mengganggu evakuasi 16 jenazah yang telah ditemukan. ”Evakuasi masih berlangsung.

Saya dapat laporan, masih terjadi kontak tembak sehingga evakuasi terhambat,” kata Aidi. Ia mengatakan, delapan jenazah belum bisa dievakuasi ke Timika yang sebelumnya dievakuasi melalui jalur darat dari puncak Bukit Kabo ke Mbua. Proses evakuasi korban selamat maupun meninggal dunia oleh TNI dan polisi menggunakan helikopter TNI AD dari Mbua ke Timika.

Evakuasi pertama dilakukan sekitar pukul 10.50 WIT dan berhasil mengevakuasi delapan korban selamat. Evakuasi pada penerbangan kedua sekitar pukul 11.40 WIT berhasil mengevakuasi delapan jenazah yang belum diidentifikasi. (H28,ant,cnn-19)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar