Laboratorium Kopi di Batang

Jadi Jembatan Petani dan Kedai

SM/Dok - LABORATORIUM KOPI: Rifani Zuniyanto melakukan tes kualitas kopi dari para petani Kabupaten Batang di laboratorium.(24)
SM/Dok - LABORATORIUM KOPI: Rifani Zuniyanto melakukan tes kualitas kopi dari para petani Kabupaten Batang di laboratorium.(24)

Rifani Zuniyanto (34) mendirikan laboratorium khusus untuk menguji kualitas kopi dari para petani di Kabupaten Batang dan sekitarnya. Berawal dari rasa cinta pada kopi, laboratorium itu kini menjadi jembatan antara produsen dan kedai kopi, sekaligus sebagai gerakan pemberdayaan sekitar 2.500 petani.

LABORATORIUM kopi milik Rifani berada di kawasan pedesaan yang jauh dari perkotaan. Letaknya di Desa Tersono, Kecamatan Tersono, Kabupaten Batang. Di tempat ini, segala hal yang terkait dengan kopi dihadirkan. Ada berbagai jenis kopi dari Batang dan berbagai daerah di Indonesia. Semua ditempatkan secara rapi dalam rak khusus.

Selain itu, berbagai perlengkapan terkait kopi juga ada. Misalnya alat ukur kadar air, timbangan, dan mesin roasting. Ada juga asam organik untuk belajar mencicipi rasa asam kopi, pengukur suhu, grinder, timer, dan lainnya.

”Laboratorium kopi didirikan sebagai media pembelajaran untuk semua. Siapa saja boleh masuk. Mau belajar dari barista, menyeduh kopi, budi daya, sampai pengolahan dan roasting. Kami terbuka dan gratis,” kata Rifani. Didirikan pada Agustus 2016, lab itu kini juga menjadi jujugan para petani untuk menguji mutu kopi yang dibudidayakan.

Tempat tersebut seperti menjadi ruang seleksi, mana kopi yang benarbenar berkualitas dan tidak. Sampai saat ini sudah ada sekitar 2.500 petani yang belajar di tempat ini. Kabupaten Batang merupakan salah satu sentra penghasil kopi, terutama di Kecamatan Bawang, Reban, Blado, Bandar, Wonotunggal, dan Tersono. Sekitar 95% adalah kopi jenis robusta.

Bagi Rifani, daya pikat kopi bukan lagi sekadar rasa, tapi lebih pada prosesnya. Ia menganalogikan kopi seperti perjalanan. Setiap orang akan menemukan sensasi yang berbeda-beda. Itu akan didapatkan ketika mendalami prosesnya. Fase kopi dibagi tiga, yakni budi daya, pascapanen, dan produksi. Sebagai jembatan antara budi daya dan produksi, ada evaluasi untuk menguji proses pascapanen. ”Saya lebih fokus di situ. Jadi ketika proses pascapanen, penjemuran dan setelahnya, kemudian masuk ke laboratorium.

Di situ diuji, bagus atau tidak, dan apakah ditemukan cacat rasa atau fisik. Jika ditemukan kopi yang cacat, itu kesalahannya dari apa. Nanti dievaluasi dan petani disuruh memperbaiki,” tutur suami Kurniati Arsyi itu. Untuk mengecek, ada standar dan panduan khusus. Kopi mentah, cacatnya tidak boleh lebih dari 5% per 300 gram. Setelah dipastikan tidak ada cacat, lalu di-roasting atau disangrai.

Selanjutnya dicicipi dan dievaluasi, apakah ditemukan cacat rasa. Cacat rasa itu bisa dirasakan dari rasa asam yang tidak jelas. Rifani memastikan, cacat rasa itu karena kesalahan dalam proses pascapanen. Dia mencontohkan, jika rasa kopi terlalu bleesy atau ada rasa rumputnya, itu berarti penjemurannya terlalu singkat.

”Lalu kalau ada rasa fermentasi, itu berarti penjemurannya terlalu lama. Ada juga rasa tanah, biasanya karena penjemuran dilakukan di tanah. Jadi penjemuran ini faktor paling utama. Ada juga rasa jamur karena kesalahan saat penyimpanan dan masih basah. Rasa kopi bisa dirasakan di tengah-tengah lidah dan hidung.

Di tenggorokan itu tidak enak. Jadi, kenapa kopi harus diseruput kencang saat tes rasa, agar ada perpaduan antara indera pengecap dan aroma,” tutur sarjana seni UNS Solo itu. Rifani memahami kualitas kopi karena telah mengikuti berbagai kelas. Misalnya pada 2016 dia mengambil kelas khusus roasting di Bali.

Pada 2017 dia belajar uji cita rasa di Bandung dengan spesialisasi kopi robusta. Kemudian ikut kelas barista di Wonosobo dan kelas-kelas kopi lainnya, serta rajin mengikuti kompetisi. Hasilnya tidak mengecewakan. Pada 2017, kopi dari Batang menjadi juara II dalam Festival Kopi Nusantara di Bondowoso. Tahun 2018 juga masuk 10 besar dan di Jateng Kopi Fest meraih juara I.

Angkat Kehidupan Petani

Selain rasa cinta pada kopi, pendirian laboratorium itu juga didasari keinginan Rifani untuk mengangkat kehidupan petani di daerahnya. Batang selama ini memiliki potensi besar dalam budi daya kopi dan produknya telah menyebar ke berbagai daerah, bahkan diekspor.

Namun, banyak yang lari ke tengkulak, sehingga potensi tidak termanfaatkan secara maksimal. ”Kami juga membantu petani mencari pasar, seperti ke Jakarta dan Surabaya,” katanya.

Untuk 2019, sudah ada kesepakatan pesanan kopi Batang sebanyak 36 ton. Jadi setiap satu bulan harus sanggup menyiapkan 3 ton. Ini baru satu perusahaan, belum dari yang lain. Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Batang Migayani Thamrin mengapresiasi keberadaan laboratorium kopi yang dikembangkan Rifani.

”Kami tentu senang jika banyak yang terlibat dalam usaha memajukan kopi Batang. Termasuk yang dilakukan oleh anak-anak muda seperti Rifani yang bergerak secara mandiri. Anak-anak muda memang menjadi kekuatan pembangunan yang semakin penting. Termasuk dengan inisiatifinisiatifnya yang cemerlang,” katanya. (Trisno Suhito-19)


Berita Terkait
Komentar