MUI Gelorakan Wisata Religi

Rakernas di Raja Ampat

SM/Dok - DELEGASI JATENG : Ketua Umum MUI Jateng KH Ahmad Darodji (tengah baju putih) memimpin delegasi Jateng dalam Rakernas IV MUI, di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. (54)
SM/Dok - DELEGASI JATENG : Ketua Umum MUI Jateng KH Ahmad Darodji (tengah baju putih) memimpin delegasi Jateng dalam Rakernas IV MUI, di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. (54)

UNTUK kali pertama dalam sejarah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar rapat kerja nasional (rakernas) di luar Pulau Jawa. Berada di wilayah ujung timur Indonesia, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, seluruh pengurus MUI se-Indonesia menggelar rapat 22-24 November lalu. Delegasi MUI Jateng dipimpin ketua umumnya, KH Ahmad Darodji. Hadir pula KH Ahmad Rofiq (wakil ketua umum), dan KH Muhyidin (sekretaris umum).

Selama tiga hari di kabupaten yang teramat sohor karena pariwisatanya itu, peserta rakernas bukan hanya membahas persoalan yang dihadapi umat, namun juga berziarah ke makam para ulama penyebar ajaran Islam di wilayah tersebut. Yang masih muda juga menikmati pemandangan menakjubkan gugusan pulau karst dari Bukit Piaynemo, Desa Pam, Kecamatan Waigeo Barat Kepulauan.

Untuk mencapai bukit ini harus menapaki 325 anak tangga. ‘’Berarti pergi pulang ada 650 anak tangga. Alhamdulillah kami semua masih sehat, wong kuat dari bawah sampai atas dan turun ke bawah lagi,’’ungkap Darodji, kiai berusia 78 tahun, sambil tertawa.

Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin (75), lalu Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad (77), tak mau kalah dengan Kiai Darodji. Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni’am Sholeh menjelaskan, dalam rakernas kali ini, MUI sekaligus menyosialisasikan pariwisata berbasis keagamaan (wisata religi).

MUI ingin menunjukkan Raja Ampat menggoreskan sejarah Islam yang cukup panjang, sejak tahun 1.500-an. ‘’Saat itu mereka menjadi bagian Kesultanan Tidore,’’ ungkap mantan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia itu. Rakernas mengangkat tema ‘’Memperteguh Ukhuwah Islamiah dan Ukhuwah Wathaniah untuk Kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia’’.

Pemilihan Kabupaten Raja Ampat sebagai tuan rumah rakernas menurut Niam, karena MUI ingin menunjukkan wilayah Indonesia sangat luas, terbentang dari Sabang hingga Merauke. Dikatakan, Islam juga memberi perhatian serius terhadap isu ekologi. Melalui rakernas diharapkan bisa meningkatkan kunjungan wisatawan baik dalam atau luar negeri.

‘’MUI ingin cara mempromosikan wisata berbasis ekologi dan religi,’’tuturnya. Menurut Deputi Menpora Bidang Kepemudaan itu, seringkali orang menyederhanakan pariwisata tidak berhubungan dengan masalah agama. Seolaholah, pariwisata boleh menabrak aturan-aturan agama, atau setidaknya pariwisata tidak memiliki keterkaitan dengan masalah agama.

Program Unggulan

Cara pandang demikian dinilai tidak benar. Agama memiliki etos untuk mendorong pariwisata dan tadabur alam sesuai satu ayat kauniah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Wakil Ketua Umum MUI Jateng KH Ahmad Rofiq menjelaskan, rakernas adalah agenda tahunan yang dilaksanakan setiap tahun diikuti pimpinan harian, dewan pimpinan, dengan komisi-komisi, pimpinan lembaga, pimpinan harian provinsi dan para ulama lainnya yang diundang.

Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI, KH M Cholil Nafis mengatakan, dalam rakernas di Raja Ampat, juga menjadi kesempatan meluncurkan program unggulan melalui Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat bernama MUI Berkidmat. Dengan cara menyebarkan dai untuk Islam Wasathiyah di bumi Papua.

‘’Ada sembilan dai angkatan pertama yang akan ditempatkan di beberapa kabupaten/kota se-Papua,’’katanya. Mereka memiliki tiga tugas, himayah (perlindungan umat), riíayah (bimbingan umat), dan taqwiyah (pemberdayaan umat. Menurut Nafis, perlindungan umat untuk menjaga masyarakat dari aliran sesat dan paham radikalis serta teroris.

Riíayah adalah bimbingan umat dalam memahami ajaran agama, mulai mengaji Alquran sampai masalah kematian. Adapun taqwiyah untuk pemberdayaan umat dalam merefleksikan keumatan dan kebangsaan. Sembilan dai tersebut akan berkidmat kepada umat di bumi Papua selama setahun. Jika diperlukan akan diperpanjang atau jumlah dainya ditambah.

Ketua Umum MUI KH Maíruf Amin ketika membuka rakernas mengingatkan, paradigma Islam wasathiyah harus bisa menjadi roh dari setiap gerakan MUI di semua tingkatan selama lima tahun ke depan. Hal itu dipandang penting seiring dengan semakin kuatnya indikasi pergeseran gerakan keislaman di negeri ini ke kutub ekstrem, baik yang ke kiri ataupun yang ke kanan.

‘’Pergeseran ke kutub kiri memunculkan gerakan liberalisme, pluralisme dan sekularisme dalam beragama. Sedangkan pergeseran ke kutub kanan menumbuhkan radikalisme dan fanatisme sempit dalam beragama,’’katanya. Menurut Kiai Ma’ruf, pergerakan kedua kutub ini disadari atau tidak, merupakan gambaran pertarungan ideologi global yang menerjang di Indonesia.

Dampaknya pertarungan tersebut telah memporak-porandakan bangunan keislaman yang selama ini telah dibangun oleh para ulama terdahulu di negeri ini. Islam wasathiyah sebagai paradigma perkidmatan di lingkungan MUI diharapkan bisa mengembalikan gerakan keislaman di Indonesia sebagaimana yang dibangun ulama terdahulu.

Yaitu keislaman yang mengambil jalan tengah, berkeseimbangan, lurus dan tegas, toleransi, egaliter, mengedepankan musyawarah, berjiwa reformasi, mendahulukan yang prioritas, dinamis dan inovatif, serta berkeadaban. (Agus Fathuddin Yusuf, wartawan Suara Merdeka, Sekretaris MUI Jateng-54)

Penyunting : Wahyu Wijayanto


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar