PITUTUR

Aja Gumunan, Kagetan, Getunan

BAHASA Indonsesia dari pitutur di atas adalah kita jangan mudah heran, jangan mudah terkejut dan jangan mudah menyesal. Pada era teknologi digital sekarang ini perkembangan di semua aspek kehidupan sangat pesat dan cepat. Bukan hanya pada bidang teknologi tetapi juga perilaku manusia.

Tentu ini juga membawa perubahan sikap dan norma. Dulu untuk satu keperluan, misalnya akan membeli makanan kita harus keluar rumah dengan berjalan kaki atau berkendaraan, dan berpakaian pantas.

Kini cukup mengangkat telepon dari rumah. Kita akan dibantu oleh sistem pengantaran atau oleh Gojek, tanpa harus berpakaian pantas, pesanan kita akan sampai ke rumah. Praktis dan efisien meskipun hal itu juga bisa membuat orang jadi malas.

Dulu ada pepatah guru kencing berdiri murid kencing berlari. Artinya guru harus menjadi contoh atau panutan. Sebagai panutan akan selalu menjaga perbuatan dan ucapannya agar bisa dicontoh orang lain. Ada saatnya memberi perhatian kepada murid agar memperhatikan pelajaran, guru terpaksa menjewer muridnya.

Dulu ketika guru menjewer murid, orang tua akan berterima kasih karena tahu bahwa itu dilakukan dalam rangka mendidik. Kini norma berubah, guru tidak lagi digugu dan ditiru.

Tugas guru bergeser menjadi hanya mengajar dan tidak harus mendidik, apalagi sampai njewermurid. Kini panutan bagi anak-anak kita bukan lagi orang tua apalagi guru tetapi gawai. Memperihatinkan memang. Masih banyak lagi contoh pergeseran perilaku dan norma karena perkembangan pesat teknologi. Semua itu adalah konsekuensi atau akibat yang harus diterima.

Perkembangan dan perubahan itu masih akan terjadi dan akan terus terjadi. Mengherankan, mengapa orang tua kita itu membimbing kita agar tidak gumunandan tidak kagetan, seakan mereka mengerti sebelum terjadi.

Seakan mereka katakan jangan gumun dan jangan kaget karena masih akan muncul hal-hal baru yang tidak terbayangkan sebelumnya dan di luar prediksi kita. Memang banyak hal-hal baru yang terjadi yang membuat kita tercengang, terperangah dan belum ada kesiapan mental untuk menerimanya.

Selain nasihat untuk tidak gumunandan tidak kagetan, kita juga dinasehati agar tidak getunan, tidak gampang menyesali terjadinya sesuatu yang membuat kita gumundan kaget. Apa yang terjadi itu tidak selalu merupakan akibat perbuatan kita tetapi bisa jadi buah dari perkembangan zaman. Tanpa berbuat apapun perubahan itu pasti terjadi.

Jadi menghadapi itu semua kita dinasihati agar tidak menghabiskan waktu dan energi untuk gumun, kaget dan getun. Kita terus mengisi waktu kita untuk berbuat demi kemanfaatan manusia. Baca Surat Al ‘Asr, “Demi waktu (‘Asr) sungguh manusia itu berada dalam kerugian.

Kecuali orang yang beriman dan beramal saleh dan saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran.” Baca pula sabda Nabi SAW, ‘’Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. (KH Ahmad Darodji, Ketua Umum MUI Jateng-54)

Penyunting : Wahyu Wijayanto


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar