Sastra untuk Perjuangkan Peradaban

SM/Aristya Kusuma Verdana : MENJELASKAN : Sastrawan Ahmad Tohari dan Triyanto Triwikromo, saat menjadi narasumber dalam dialog bertajuk ‘’Apa Kabar Kesusastraan di Indonesia?’’dan peluncuran majalah Soeket Teki oleh SKM Amanat, di aula I UIN Walisongo Semarang, Kamis, (6/12). (42)
SM/Aristya Kusuma Verdana : MENJELASKAN : Sastrawan Ahmad Tohari dan Triyanto Triwikromo, saat menjadi narasumber dalam dialog bertajuk ‘’Apa Kabar Kesusastraan di Indonesia?’’dan peluncuran majalah Soeket Teki oleh SKM Amanat, di aula I UIN Walisongo Semarang, Kamis, (6/12). (42)

NGALIYAN -Sastrawan Ahmad Tohari memberi makna tentang sastra yang harus memperjuangkan peradaban. Hal itu dipaparkan dalam dialog bertajuk ‘’Apa Kabar Kesusastraan di Indonesia?’’dan peluncuran majalah Soeket Teki oleh SKM Amanat di aula I UIN Walisongo Semarang, Kamis, (6/12).

‘’Karya yang baik itu yang mewakili zaman. Saya membuat karya dengan mengubah bahasa yang mewakili zaman saya waktu itu. Saat ini banyak sastrawan yang agak kurang peduli terhadap lingkungan sosial. Bagi saya, kesusastraan harus memperjuangkan peradaban. Ada tanggungjawab sosial,’’kata Ahmad. Penulis buku ‘’Ronggeng Dukuh Paruk’’itu, menjawab pertanyaan dari tema dengan ungkapan sastra baik-baik saja.

Menurutnya, saat ini jumlah karya dan penulis sastra membludak. Di berbagai daerah dan kota ada sastrawan. ‘’Perkara belum mendapatkan kesempatan untuk melejit, itu masalah lain. Saya kira sastrawan ada di manamana,’’ tuturnya.

Sikap yang harus dimiliki sastrawan, adalah pantang untuk puas dengan karya sendiri. Kepuasan itu menjadi racun bagi sastrawan. ‘’Termasuk menulis dengan sikap yang orang biasa yang menulis. Keadaan itu tidak akan mengembangkan diri sastrawan,’’ujarnya.

Ahmad mengungkapkan sastrawan itu menggunakan bahasa sebagai wahana. Sudah seharusnya menguasai bahasa Indonesia dengan baik. ‘’Bagaimana mungkin menjadi penulis yang diperhitungkan, jika tidak menguasai. Karena, sajian kebahasaan sangat menentukan kualitas,’’ paparnya.

Krisis

Sementara, Triyanto Triwikromo yang juga menjadi narasumber, memandang tentang kabar kesusastraan Indonesia dengan bermacam sudut pandang. Bagi awam, sastra sedang baik-baik saja. Tetapi bagi pecintanya, sastra sedang mengalami krisis. ‘’Ada penulis yang karyanya sudah diterjemahkan berbagai bahasa. Dalam konteks penerjemahan, sudah banyak, tetapi belum tentu konteks mutunya,’’kata Triyanto.

Banyaknya penulis, kata dia, memunculkan juga pembaca yang kritis. Ada pembaca yang membahas bahwa penulis yang tampil itu-itu saja. ‘’Pembaca seperti itu menandakan bahwa adanya stagnasi di sastra. Dibutuhkan pemenangpemenang baru,’’paparnya. Triyanto menerangkan tentang penggunaan Bahasa Indonesia saat ini. Beberapa peneliti memberi ulasan bahwa pengunakan Bahasa Inggris lebih bagik dibanding Bahasa Indonesia di Indoensia. ‘’Bahasa kita sudah seperti idiot, di bawah bodoh. Hanya karena tidak menggunakan Bahasa Inggris.

Ungkapan dengan Bahasa Inggris dinilai lebih membuat bagus penggunaan bahasa. Kecamuk saat ini menentukan masa depan. Siapa pun berjuang menyelesaikan tugasnya, tapi belum tentu berhasil,’’pungkasnya. (akv-42)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar